KABARBURSA.COM - Manajemen PT RMK Energy Tbk. (RMKE) menyatakan penjualan batu bara perusahaan mengalami peningkatan di awal tahun 2026.
Hal tersebut diungkapkan setelah manajemen menjawab pertanyaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai penyebab penurunan pendapatan hingga 30 September 2025 atau kuartal III tahun lalu.
Dalam keterbukaan informasi, BEI meminta penjelasan dan analisa manajemen atas penyebab penurunan pendapatan tersebut. Merujuk pada laporan keuangan per 30 September 2025, pendapatan RMK senilai Rp1,12 triliun, menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,75 triliun.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Perusahaan RMK Muhtar mengatakan penyusutan pendapatan kuartal III 2025 disebabkan oleh penurunan pendapatan dari penjualan batu bara pada semester I 2025.
"Akibat dari penurunan harga batu bara dan menurunnya permintaan batu bara dari China akibat dari ketidakjelasan perekonomian global dikarenakan isu perang dagang," ujar dia.
Kendati demikian, Muhtar menegaskan pada kuartal IV 2025 penjualan baru bara perusahaan telah kembali normal, bahkan terus meningkat di awal 2026. Hal ini tidak lepas dari usaha perusahaan meningkatkan porsi penjualan batu bara pada pasar domestik.
Muhtar pun membeberkan strategi dalam perusahaan guna mencatat pendapatan positif. Salah satunya ialah meningkatkan volume batu bara yang diangkut melalui jalan hauling Perseroan.
"Jalan hauling perseroan telah terhubung dengan tambang WSL dan DBU yang pada kuartal III ini telah mulai menggunakan jasa Perseroan dan tambang MME terhubung pada kuartal IV dan mulai menggunakan jasa Perseroan," jelas dia.
Pada tahun ini, kata Muhtar, Perseroan akan menjajaki tambang-tambang potensial untuk menggunakan jasa Perseroan. Ia mengklaim semua cara ini akan meningkatkan volume dan pada akhirnya juga meningkatkan efisiensi
"Di mana biaya tetap Perseroan akan dibebankan untuk volume yang lebih besar," ungkapnya.
Cara lain yang diterapkan ialah melakukan peningkatan kualitas jalan hauling Perseroan melalui penerapan lapisan chipseal guna meningkatan efisiensi operasional dan kapasitas angkut.
Di sisi lain, BEI juga bertanya mengenai penurunan kemampuan kegiatan operasional untuk membukukan surplus kas per 30 September 2025, dari sebelumnya surplus Rp159 miliar menjadi defisit Rp65 miliar.
Muhtar menerangkan negatifnya kas operasional pada kuartal laporan keuangan per 30 September 2025 dikarenakan adanya peningkatan pada persediaan dan piutang usaha dimana beberapa kontrak trading batubara baru terselesaikan di kuartal IV.
"Di mana pembayaran pembelian batubara telah dilakukan di kuartal ketiga sedangkan penerimaan penjualan batu bara baru masuk di kuartal keempat," ungkapnya. (*)