Logo
>

Rupiah Masih Bernapas, Menguat Tipis ke 17.455

Rupiah sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di 17.535 per dolar AS sebelum berbalik menguat tipis. Tekanan MSCI dan libur panjang membuat pasar domestik tetap rapuh.

Ditulis oleh Yunila Wati
Rupiah Masih Bernapas, Menguat Tipis ke 17.455
Rupiah menguat 0,17 persen di tengah tekanan MSCI yang menghapus enam saham Indonesia dari domestic global standard index. (Foto: dok KabarBursa)

Poin Penting :

KABARBURSA.COM – Rupiah sedikit bernapas usai jatuh ke level 17.535 per dolar Amerika Serikat pada awal sesi perdagangan. Di akhis sesi, rupiah perlahan berbalik ke area 17.455 per dolar AS.

Data Reuters menunjukkan rupiah ditutup menguat sekitar 0,17 persen secara harian. Namun secara year to date, rupiah masih menjadi salah satu mata uang dengan tekanan terdalam di Kawasan. Pelemahannya mencapai 4,52 persen.

Tekanan di pasar domestik datang bersamaan dengan guncangan besar di pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat longsor hingga 1,9 persen ke level 6.726,575 atau berada di titik terendah sejak April 2025. Terutama setelah MSCI menghapus enam saham Indonesia dari domestic global standard index.

Situasi tersebut membuat tekanan di pasar Indonesia terlihat berbeda dibanding mayoritas negara Asia lainnya. 

Head of Research Kiwoom Securities Indonesia Liza Camelia Suryanata, mengatakan kondisi pasar lokal masih berada dalam fase sensitif setelah USD/IDR menembus area psikologis 17.500 menjelang libur panjang.

“Kondisi pasar domestik masih cukup rapuh dan kegelisahan investor lokal juga meningkat setelah pasangan USD/IDR menembus level 17.500 menjelang libur panjang,” ujar Liza.

Tekanan tambahan datang dari keputusan MSCI yang menghapus empat saham berkapitalisasi besar Indonesia dari indeks standar globalnya. Langkah tersebut dipandang pasar sebagai sinyal bahwa investor global masih mempertanyakan likuiditas dan transparansi pasar domestik.

Kondisi itu berbeda dibanding beberapa negara emerging market Asia lain yang justru menikmati aliran sentimen positif pada perdagangan hari ini. 

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan performa cukup kuat setelah menguat 0,13 persen, sementara indeks Kospi melonjak 2,63 persen dan kini mencatat kenaikan tahunan lebih dari 86 persen.

Ringgit Malaysia juga menguat 0,18 persen terhadap dolar AS dengan dukungan stabilitas harga komoditas dan kondisi fiskal yang dinilai lebih terkendali. Peso Filipina naik 0,19 persen, sedangkan dolar Singapura bergerak relatif datar.,

Baht Thailand juga terlihat lebih stabil dibanding rupiah. Mata uang Negeri Gajah Putih itu hanya bergerak tipis di area 32,35 per dolar AS, sementara indeks SET Thailand justru melonjak hampir 2 persen setelah pemerintah setempat memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di atas 3 persen dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Faktor Penekan Rupiah

Di sisi lain, rupiah justru masih berada dalam tekanan kombinasi antara faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, pasar masih memantau arah dolar AS serta perkembangan geopolitik Timur Tengah. Harga minyak mentah yang turun lebih dari 1 persen memang sedikit membantu mengurangi tekanan bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Namun sentimen tersebut belum cukup kuat untuk memulihkan kepercayaan investor terhadap aset domestik. Apalagi pasar juga tengah menyoroti isu disiplin fiskal, independensi bank sentral, hingga regulasi pasar modal yang dinilai berubah cepat dalam beberapa bulan terakhir.

Moody’s sebelumnya bahkan telah menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif. Langkah itu memperbesar kekhawatiran investor asing terhadap arah kebijakan ekonomi domestik di tengah volatilitas global yang masih tinggi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79