KABARBURSA.COM – Di tengah ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hampir 2 persen pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, dua saham sektor unggas PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), menjadi pelarian dana para investor.
IHSG ditutup turun 135 poin atau melemah 1,98 persen ke level 6.723 pada sesi akhir perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Tekanan jual terlihat merata hampir di seluruh sektor, terutama saham basic industry yang ambles 4,43 persen dipimpin kejatuhan BRPT, TPIA, hingga SMGR.
Namun di tengah derasnya tekanan tersebut, saham CPIN justru melesat 4,52 persen ke level 4.160. Saham ini bahkan sempat menyentuh level tertinggi harian di 4.220 setelah dibuka dari area 4.000.
Pergerakan JPFA juga tidak kalah agresif. Saham produsen pakan ternak itu ditutup naik 4,10 persen ke level 2.540 setelah sempat bergerak di area bawah 2.380 pada awal perdagangan.
Kenaikan dua saham unggas ini membuat sektor industri menjadi satu-satunya sektor di Bursa Efek Indonesia yang berhasil bertahan di zona hijau. Sektor tersebut ditutup menguat 1,26 persen ketika mayoritas indeks sektoral lain bergerak negatif.
Pasar terlihat mulai kembali masuk ke saham-saham defensif berbasis konsumsi domestik setelah volatilitas global meningkat tajam. Ketika saham energi, petrokimia, dan komoditas mengalami tekanan besar akibat arus keluar dana asing dan sentimen MSCI, investor justru memburu emiten yang dinilai memiliki ketahanan margin lebih stabil.
Kondisi tersebut terlihat jelas dari rotasi sektor pada perdagangan hari ini. Saham-saham yang sebelumnya menjadi motor reli pasar seperti AMMN, CUAN, BRPT, hingga MDKA justru masuk daftar top losers LQ45.
Sebaliknya, saham unggas mulai naik ke permukaan bersama beberapa saham defensif lain seperti ISAT dan PGEO. Pasar terlihat mulai mengalihkan fokus ke emiten dengan eksposur domestik kuat dan volatilitas yang relatif lebih rendah dibanding saham berbasis komoditas.
Pergerakan CPIN dan JPFA juga muncul ketika pasar mulai memperhitungkan potensi stabilisasi harga jagung dan bahan baku pakan setelah tekanan harga energi global mulai sedikit mereda. Turunnya harga minyak mentah ikut memberi ruang terhadap ekspektasi biaya produksi industri pakan ternak ke depan.
Selain itu, valuasi kedua saham juga mulai kembali menarik setelah sempat tertinggal dibanding reli besar saham-saham konglomerasi dan energi dalam beberapa bulan terakhir. CPIN saat ini diperdagangkan pada rasio price to earnings sekitar 10,21 kali, sementara JPFA berada di kisaran 7,38 kali.
Pasar Asia Membaik
Di pasar regional, sentimen Asia sebenarnya mulai membaik menjelang penutupan perdagangan. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang berhasil berbalik menguat 0,3 persen setelah sempat jatuh 1 persen pada awal sesi.
Reli terbesar terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi melonjak 2,63 persen setelah pasar kembali optimistis terhadap gelombang investasi berbasis kecerdasan buatan atau AI.
Namun sentimen positif regional tersebut belum cukup kuat menahan tekanan besar di pasar domestik Indonesia. Selain dihantam aksi jual akibat review MSCI, pasar lokal juga masih dibayangi pelemahan rupiah dan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kebijakan ekonomi domestik.
Di tengah tekanan tersebut, kenaikan CPIN dan JPFA menjadi salah satu sedikit cerita hijau di layar perdagangan hari ini.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.