KABARBURSA.COM – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mulai merealisasikan pembelian kembali saham atau buyback di tengah tekanan harga saham yang masih berada dalam tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data perdagangan, saham BBCA saat ini berada di level 5.850 pada penutupan perdagangan Kamis, 30 April 2026. Dalam periode tiga tahun terakhir, saham ini telah terkoreksi sekitar 3.200 poin atau turun 35,36 persen dari level sebelumnya, setelah sempat mencetak puncak di kisaran 10.950.
Di tengah kondisi tersebut, perseroan justru mulai menjalankan aksi buyback saham sebagai langkah strategis untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus mencerminkan keyakinan terhadap fundamental bisnis.
Buyback ini merupakan tindak lanjut dari persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang diselenggarakan pada 12 Maret 2026. Perseroan mulai melaksanakan program tersebut pada 28 April 2026 dengan periode pelaksanaan selama 12 bulan hingga 11 Maret 2027.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menegaskan bahwa aksi ini menjadi sinyal optimisme perusahaan terhadap kondisi pasar modal Indonesia.
“Pelaksanaan buyback merupakan sinyal optimisme kami di pasar modal Indonesia,” ujar Hendra dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com dikutip Jumat, 1 Mei 2026.
Ia juga menekankan bahwa langkah ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental bisnis perseroan yang tetap solid di tengah volatilitas pasar.
Secara umum, buyback saham merupakan aksi korporasi di mana perusahaan membeli kembali saham yang beredar di pasar. Langkah ini biasanya dilakukan untuk menjaga stabilitas harga saham, meningkatkan persepsi nilai perusahaan, serta memberikan sinyal positif kepada investor.
Manajemen BCA memastikan bahwa pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak material terhadap kinerja keuangan maupun kegiatan usaha perseroan. Hal ini menunjukkan bahwa aksi tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas dan permodalan yang tetap kuat.
Selain itu, perseroan menegaskan komitmennya untuk menjalankan seluruh proses sesuai prinsip good corporate governance serta mematuhi peraturan yang berlaku di pasar modal.
“Kami mengungkapkan apresiasi sebesar-besarnya atas kepercayaan dan dukungan dari segenap pemegang saham. BCA senantiasa berfokus pada fundamental bisnis perseroan, serta melangkah dengan pruden pada tahun 2026,” ucap Hendra.
Lantaran tekanan harga yang masih terjadi dan aksi buyback yang mulai berjalan, pelaku pasar kini mencermati apakah langkah ini mampu menjadi penopang bagi pergerakan saham BBCA ke depan atau masih membutuhkan waktu untuk keluar dari tren bearish.(*)