Logo
>

Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Mendidih: Naik 3 Persen

Kenaikan sempat menembus USD5 per barel sebelum akhirnya mengalami koreksi terbatas

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Mendidih: Naik 3 Persen
Ilustrasi Harga minyak dunia. Foto: Dok Pertamina

KABARBURSA.COM - Harga minyak mentah melesat pada perdagangan. Pemicunya berlapis. Laporan mengenai aktivitas pertahanan udara di atas Teheran serta dinamika politik internal Iran—yang memperlihatkan tarik-menarik pengaruh antara faksi garis keras dan moderat—mengguncang pasar energi global.

Kenaikan sempat menembus USD5 per barel sebelum akhirnya mengalami koreksi terbatas. Minyak mentah berjangka Brent, sebagai acuan internasional, ditutup melonjak USD3,16 atau 3,1 persen ke level USD105,07 per barel, sebagaimana dilaporkan Reuters dari Houston,  Jumat 24 April 2026 pagi WIB. Di sisi lain, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turut menguat, naik USD2,89 atau 3,11 persen menjadi USD95,85 per barel.

Lonjakan harga tersebut dipantik oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Salah satu pemicunya adalah pengunduran diri negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, dari tim perunding dengan Amerika Serikat melalui mediasi Pakistan. Langkah ini dipandang sebagai kemenangan bagi kelompok garis keras di lingkar kekuasaan Teheran.

Situasi keamanan pun kian memburuk. Media Iran melaporkan sistem pertahanan udara di ibu kota tengah aktif menghadapi objek di langit Teheran. Peristiwa ini terjadi setelah adanya laporan serangan drone terhadap kelompok oposisi Kurdi Iran di sebuah pangkalan di wilayah Irak.

Ketegangan meningkat tajam ketika Iran merilis rekaman yang memperlihatkan pasukan komandonya menyerbu sebuah kapal kargo besar. Aksi tersebut menjadi simbol penegasan kontrol atas Selat Hormuz—arteri vital distribusi energi global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespons melalui media sosial. Ia menyatakan telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk bertindak tegas terhadap setiap kapal yang menanam ranjau di perairan tersebut.

John Kilduff, mitra di Again Capital, menggambarkan kondisi pasar yang bergejolak. Informasi yang saling bertolak belakang membuat arah harga sulit ditebak.

“Sebagian menyebutnya headline bingo. Saya menyebutnya headline roulette,” ujarnya. “Ada kekhawatiran suatu hari kita terbangun dan menyadari posisi pasokan jauh lebih buruk, dengan harga yang melonjak lebih tinggi.”

Meskipun gencatan senjata diperpanjang atas dorongan mediator Pakistan, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih dibatasi oleh kedua pihak. Sebelum konflik meletus pada 28 Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasi jalur tersebut setiap harinya.

Trump mengklaim memiliki kendali penuh atas kawasan itu. Namun Iran juga menunjukkan kekuatan militernya dengan menyita sejumlah kapal. Sementara itu, Angkatan Laut AS tetap mempertahankan blokade terhadap perdagangan laut Iran.

Data dari perusahaan analitik Vortexa menunjukkan sekitar 10,7 juta barel ekspor minyak Iran masih berhasil melewati kawasan tersebut dalam periode 13 hingga 21 April, meskipun di tengah pembatasan ketat.

Sumber dari industri pelayaran dan keamanan mengungkapkan bahwa militer AS telah mencegat sedikitnya tiga kapal tanker berbendera Iran di perairan Asia. Kapal-kapal tersebut dialihkan dari jalur dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka.

Gedung Putih melalui sekretaris pers Karoline Leavitt menyatakan bahwa Presiden Trump belum menetapkan batas akhir dari perpanjangan gencatan senjata tersebut.

Di sisi lain, Phil Flynn, analis dari Price Futures Group, menilai bahwa kepercayaan pasar masih menjadi faktor penahan kenaikan harga yang lebih ekstrem. “Pasar masih percaya bahwa solusi akan ditemukan,” ujarnya.

Survei Federal Reserve Bank of Dallas terhadap 120 eksekutif perusahaan minyak dan gas menunjukkan beragam proyeksi. Sekitar 39 persen responden memperkirakan lalu lintas di Selat Hormuz akan kembali normal pada Agustus. Sebanyak 26 persen lainnya memprediksi pemulihan pada November.

Sementara itu, 20 persen responden bahkan optimistis kondisi normal dapat kembali secepat Mei. Namun, tingginya ketidakpastian geopolitik membuat prospek pasar energi global tetap sarat risiko. Jika gangguan pasokan berlanjut, lonjakan harga yang lebih tajam bukanlah kemungkinan yang dapat diabaikan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.