KABARBURSA.COM - Bursa ekuitas Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis. Sentimen pasar berangsur pulih. Kekhawatiran investor terhadap konflik Timur Tengah mereda setelah muncul indikasi negosiasi menuju penyelesaian damai.
Tiga indeks utama Wall Street bergerak serempak ke zona hijau, meski sempat tertekan pada awal sesi. Arah pasar berbalik seiring langkah Israel yang membuka peluang dialog dengan Lebanon—sebuah sinyal diplomasi yang memantik optimisme.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 275,88 poin atau 0,58 persen ke level 48.185,80. S&P 500 naik 41,85 poin atau 0,62 persen menjadi 6.824,66. Sementara itu, Nasdaq Composite Index melesat 187,42 poin atau 0,83 persen ke posisi 22.822,42, merujuk laporan Reuters dan Investing dari New York, Jumat 10 April 2026 pagi WIB.
“Ada peningkatan persepsi bahwa pemerintahan ini lebih banyak retorika ketimbang aksi nyata, meski kerap melontarkan pernyataan besar,” ujar Oliver Pursche, Vice President Wealthspire Advisors di New York. Dari sudut pandang investor, lanjutnya, pilihan menjadi dilematis—mengabaikan dinamika tersebut atau mencairkan aset dan menunggu dalam horizon dua tahun ke depan.
Secara teknikal, dalam dua sesi terakhir, indeks acuan S&P 500 kembali menembus rata-rata pergerakan 100 hari (MA100) dan 200 hari—dua indikator krusial yang lazim dijadikan penentu arah tren pasar.
Di sisi lain, harga minyak bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan. Pasar masih menanti kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak global. Volume pengiriman di jalur tersebut dilaporkan merosot tajam hingga di bawah 10 persen dari rata-rata historis sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Kontrak berjangka minyak mentah WTI ditutup melonjak 3,66 persen. Namun, levelnya masih tertahan di bawah ambang USD100 per barel.
Indikator volatilitas pasar, CBOE Volatility Index (VIX)—yang kerap dijuluki indeks ketakutan—turun ke titik terendah sejak awal konflik. Ini mencerminkan meredanya kecemasan investor. Pada penutupan sesi, indeks tersebut merosot 1,55 poin atau 7,37 persen ke level 19,49.
Departemen Perdagangan Amerika Serikat merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) dan inflasi berbasis konsumsi (PCE). Hasilnya menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat, sementara tekanan harga masih bertahan pada level relatif tinggi.
Risalah rapat terbaru Federal Reserve juga mengindikasikan bahwa pembuat kebijakan mulai mempertimbangkan tambahan kenaikan suku bunga. Langkah ini diproyeksikan sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang dipicu konflik berkepanjangan.
Secara sektoral, dari 11 sektor utama dalam S&P 500, saham energi mencatat pelemahan terdalam. Sebaliknya, sektor konsumsi diskresioner tampil sebagai penguat utama.
Kinerja sektor konsumsi terdorong oleh lonjakan saham Amazon. CEO Andy Jassy mengungkapkan bahwa layanan kecerdasan buatan di unit komputasi awan perusahaan kini menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari USD15 miliar. Saham Amazon pun melesat 5,6 persen.
Di sisi lain, saham sektor perangkat lunak menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 2,2 persen. Sementara itu, sektor ritel dan semikonduktor masing-masing mencatat penguatan signifikan sebesar 4,1 persen dan 2,1 persen.(*)