KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia kembali melesat tajam, didorong ketegangan geopolitik yang belum menemukan titik temu. Mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran membuat pasar khawatir gangguan pasokan energi dari Timur Tengah bakal berlangsung lebih lama.
Pada perdagangan Kamis, 30 April 2026, harga minyak melonjak lebih dari enam persen dan menyentuh level tertinggi dalam hampir satu bulan. Kenaikan ini terjadi seiring kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan distribusi minyak di kawasan yang menjadi salah satu pemasok utama global.
Dilansir dari Reuters, Kamis, 30 April 2026, minyak Brent untuk kontrak Juni tercatat naik USD7,07 atau sekitar enam koma empat persen menjadi USD118,33 per barel atau setara Rp1.999.777 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat USD6,34 atau enam koma tiga persen ke level USD105,19 per barel atau sekitar Rp1.777.711 per barel.
Kenaikan ini memperpanjang tren penguatan yang sudah berlangsung delapan hari berturut-turut, sekaligus menjadi level tertinggi sejak akhir Maret. Tekanan harga tidak hanya datang dari faktor geopolitik. Data pemerintah Amerika Serikat menunjukkan penurunan stok minyak mentah yang jauh lebih besar dari perkiraan pasar.
Cadangan minyak AS tercatat turun lebih dari enam juta barel dalam sepekan, jauh di atas estimasi analis yang hanya sekitar 200 ribu barel. Penurunan tajam ini menjadi sinyal bahwa pasokan mulai mengetat.
Di tengah situasi tersebut, Gedung Putih disebut mulai mempersiapkan langkah antisipasi. Seorang pejabat pemerintah AS mengatakan Presiden Donald Trump telah meminta perusahaan minyak untuk mencari cara mengurangi dampak dari kemungkinan blokade pelabuhan Iran yang bisa berlangsung berbulan-bulan.
Kondisi ini semakin memperkuat kekhawatiran pasar bahwa gangguan pasokan dari Timur Tengah tidak akan bersifat sementara. Sejak konflik Iran pecah, nilai pasokan minyak global yang hilang diperkirakan sudah mencapai lebih dari USD50 miliar atau sekitar Rp845 triliun hingga pertengahan April.
Analis Haitong Futures, Yang An, menilai kondisi ini berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi. “Jika Trump siap memperpanjang blokade, gangguan pasokan akan semakin memburuk dan terus mendorong harga minyak naik,” ujarnya.
Gangguan pasokan juga mulai terasa di jalur distribusi. Perusahaan minyak nasional Abu Dhabi dilaporkan memberi tahu sejumlah pelanggan bahwa pengiriman minyak bulan depan akan dilakukan di luar kawasan Teluk, menyusul masih tertutupnya Selat Hormuz.
Di sisi lain, pasar juga mulai mencermati keputusan Uni Emirat Arab yang keluar dari organisasi negara pengekspor minyak atau OPEC. Meski begitu, analis menilai dampak jangka pendek dari langkah ini masih terbatas.
Kepala komoditas Investec, Callum Macpherson, mengatakan produsen di kawasan tetap akan memasok minyak semaksimal mungkin ke pasar. “Produsen di kawasan akan terus membawa sebanyak mungkin pasokan ke pasar, dan batas produksi pada praktiknya saat ini tidak benar-benar membatasi output,” ujarnya.
Ia menambahkan ketegangan terkait kuota produksi UEA sebenarnya sudah berlangsung lama, sehingga keputusan keluar dari OPEC tidak sepenuhnya mengejutkan. Namun, waktunya dinilai cukup sensitif mengingat kondisi geopolitik kawasan yang sedang memanas.
Dalam situasi ini, pasar minyak global kini bergerak di bawah bayang-bayang dua faktor utama, yakni ketegangan geopolitik dan ketatnya pasokan. Kombinasi keduanya membuat harga minyak berpotensi tetap tinggi dalam waktu yang belum bisa dipastikan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.