KABARBURSA.COM - Harga emas mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis. Logam mulia itu melonjak lebih dari 1 persen, terdorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat. Di saat yang sama, pelaku pasar mencermati rapuhnya gencatan senjata antara Washington dan Teheran, sembari menanti rilis data inflasi utama Negeri Paman Sam.
Emas spot melesat 1,6 persen ke level USD4.789,67 per ons pada pukul 24.30 WIB. Sebelumnya, harga sempat menyentuh titik tertinggi dalam hampir tiga pekan terakhir, sebagaimana dilaporkan Reuters dari Bengaluru, Kamis Jumat 10 April 2026 dini hari WIB.
Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat ditutup menguat 0,9 persen menjadi USD4.818,00 per ons.
Pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) menjadi katalis utama yang menopang reli harga emas. Depresiasi greenback membuat logam kuning lebih atraktif bagi investor global, terutama mereka yang bertransaksi menggunakan mata uang selain dolar.
Analis RJO Futures, Bob Haberkorn, menilai pelemahan dolar memberikan dorongan awal bagi penguatan emas. Namun, pasar tetap berhati-hati. Sentimen dari gencatan senjata sempat mendorong harga ke atas, tetapi mulai muncul keraguan yang memicu koreksi dari level puncak.
Ketidakpastian geopolitik masih membayangi. Israel dilaporkan kembali melancarkan serangan ke Lebanon, sementara Teheran menegaskan wilayah tersebut harus masuk dalam cakupan kesepakatan gencatan senjata. Di sisi lain, belum terlihat tanda-tanda Iran akan mencabut pembatasan di Selat Hormuz—jalur krusial bagi distribusi energi global.
Apabila negosiasi menemui jalan buntu dan konflik kembali memanas, biaya energi berpotensi melonjak. Dampaknya, tekanan inflasi bisa meningkat. Kondisi ini membuka ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama—sebuah skenario yang secara teoritis menekan daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Meski demikian, emas tetap dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
Lembaga keuangan Morgan Stanley memproyeksikan harga emas akan bergerak stabil sepanjang kuartal kedua, sebelum kembali menguat pada paruh kedua tahun ini. Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa kenaikan suku bunga dapat dihindari dan ketegangan geopolitik mereda, sehingga memicu kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang fiat.
Pasar kini menanti rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Maret, yang dijadwalkan keluar pada Jumat. Data ini menjadi penentu penting arah kebijakan moneter ke depan.
Sebelumnya, indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index—indikator inflasi favorit Federal Reserve—tercatat naik 2,8 persen secara tahunan hingga Februari, sesuai ekspektasi. Angka tersebut diperkirakan akan meningkat lebih lanjut pada Maret.
Di sisi lain, logam mulia lainnya juga mencatatkan penguatan. Harga perak melonjak 2,9 persen menjadi USD76,24 per ons. Platinum melesat 3,8 persen ke level USD2.106,01, sementara paladium naik tipis 0,3 persen menjadi USD1.558,75 per ons.(*)