KABARBURSA.COM – PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) tetap agresif melakukan ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi prospek konsumsi dan dunia usaha sepanjang 2026. Strategi tersebut ditempuh saat saham perseroan masih berada dalam tren pelemahan dengan koreksi 47,39 persen dalam satu tahun terakhir.
Di sisi lain, porsi saham publik atau free float CLEO tercatat sebesar 12,36 persen, lebih rendah dibanding ambang minimal 15 persen yang tengah didorong Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk meningkatkan kepemilikan publik emiten.
Meski demikian, manajemen tetap optimistis terhadap prospek bisnis tahun ini. Perseroan menilai daya beli masyarakat yang masih terjaga menjadi salah satu faktor utama yang menopang permintaan produk air minum dalam kemasan (AMDK).
CEO CLEO, Melisa Patricia, mengatakan kondisi konsumsi domestik yang relatif stabil memberikan keyakinan bagi perusahaan untuk tetap membidik pertumbuhan di tengah berbagai tantangan ekonomi.
“Daya beli masyarakat yang tetap terjaga merupakan kunci pembuka bagi pintu pertumbuhan dalam industri apapun,” ujar Melisa dalam keterangan resminya, Ahad, 31 Maret 2026.
Menurut dia, industri AMDK juga memiliki rekam jejak pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun. Karena itu, meskipun ketidakpastian ekonomi masih berlangsung, perusahaan tetap melihat peluang pertumbuhan yang terbuka.
“Oleh karenanya, sekalipun ketidakpastian ekonomi tetap menjadi tantangan yang nyata, tetapi CLEO tetap optimis akan tetap bisa meraih kinerja penjualan positif tahun ini,” katanya.
Optimisme tersebut ditopang oleh kinerja operasional yang masih tumbuh pada awal tahun. Pada kuartal I 2026, CLEO membukukan penjualan sebesar Rp774,4 miliar atau meningkat 15,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara laba bersih konsolidasi mencapai Rp122,6 miliar, naik 5,2 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut dinilai cukup solid mengingat kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih. Menurut manajemen, peningkatan kinerja berasal dari seluruh lini bisnis yang dimiliki Perseroan.
“Yang membuat kami semakin optimis dalam memandang prospek tahun ini adalah fakta bahwa pertumbuhan kinerja yang solid ini didorong seluruh segmen bisnis Perseroan,” ujar Melisa.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, CLEO memilih tetap melanjutkan agenda ekspansi. Perseroan meyakini langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat daya saing sekaligus memperluas jangkauan pasar nasional.
Tahun ini CLEO berencana mengoperasikan tiga pabrik baru yang berlokasi di Palu, Pontianak dan Pekanbaru. Pabrik di Palu ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III 2026, sedangkan fasilitas produksi di Pontianak dan Pekanbaru dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.
Penambahan kapasitas produksi tersebut diharapkan dapat memperluas jaringan distribusi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Dengan semakin dekatnya fasilitas produksi ke wilayah pemasaran, Perseroan berharap dapat memperkuat penetrasi pasar di berbagai daerah.
Selain memperluas kapasitas produksi, CLEO juga meningkatkan diversifikasi produk guna menjangkau segmen pasar yang lebih luas. Perseroan akan meluncurkan Cleo Platine Water Glass 750 ml dan Cleo Platine Sparkling Water Glass 750 ml yang menyasar pasar premium seperti hotel, restoran, dan special outlet.
Manajemen menilai inovasi produk menjadi salah satu strategi penting untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
“Secara konsisten kami terus melakukan ekspansi dan inovasi, bukan hanya sebagai upaya menjaga momentum pertumbuhan tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan AMDK di Tanah Air,” kata Melisa.
Ia menegaskan kombinasi ekspansi dan inovasi tersebut menjadi landasan utama untuk mencapai target pertumbuhan tahun ini. “Dengan strategi yang diterapkan tersebut, kami optimis CLEO akan dapat meraih pertumbuhan dobel digit tahun ini,” katanya.
Dari sisi fundamental, kinerja keuangan CLEO memang masih menunjukkan tren positif. Berdasarkan data keuangan per kuartal I 2026, laba bersih Perseroan mencapai sekitar Rp120 miliar, meningkat dibandingkan Rp117 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara annualised, laba bersih mencapai Rp479 miliar, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun buku 2025 sebesar Rp382 miliar. Sementara laba trailing twelve months (TTM) tercatat Rp385 miliar. Perseroan juga membagikan dividen Rp2,5 per saham dengan dividend yield 0,64 persen dan payout ratio 12,52 persen. Adapun kapitalisasi pasar CLEO mencapai sekitar Rp9,31 triliun dengan jumlah saham beredar sebanyak 24 miliar lembar.
Namun, pertumbuhan kinerja tersebut belum mampu mengangkat pergerakan saham Perseroan. Berdasarkan data per penutupan perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, saham CLEO berada di level Rp388 per saham atau turun 350 poin setara 47,39 persen dibandingkan posisi sekitar Rp738 setahun sebelumnya. Dalam periode tersebut, saham sempat bergerak di area tertinggi sekitar Rp760 sebelum memasuki tren penurunan berkepanjangan.
Pada pertengahan 2025 harga saham turun ke kisaran Rp600, kemudian melemah lagi ke area Rp500 hingga Rp450 menjelang akhir tahun. Memasuki 2026, saham CLEO sempat menyentuh level terendah sekitar Rp384 sebelum bergerak terbatas di rentang Rp390 hingga Rp410 dan ditutup pada posisi Rp388 per saham pada akhir Mei 2026.
Di tengah ekspansi yang terus berjalan dan kinerja keuangan yang masih bertumbuh, pasar juga mencermati struktur kepemilikan saham Perseroan. Data perdagangan menunjukkan free float CLEO berada di level 12,36 persen, masih relatif rendah dibanding target minimal 15 persen yang tengah didorong BEI untuk meningkatkan likuiditas dan partisipasi investor publik di pasar modal.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.