KABARBURSA.COM - Pergerakan saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) sepanjang Juni 2026 cukup bergejolak. Pada awal bulan, saham ini masih berada di level 665, dan sempat tertekan hingga 565 pada 8 Juni. Kemudian, saham bangkit dan mencapai puncak jangka pendek di 665 pada 17 Juni.
Namun, rebound tersebut belum mampu mengubah tren, karena dalam dua hari terakhir ESSA kembali terkoreksi ke level 640. Jika dihitung sejak awal bulan, harga saham ESSA masih terkoreksi sekitar 3,8 persen dari level penutupan 665 pada 2 Juni menjadi 640 pada 19 Juni.
Meski demikian, ESSA berhasil bangkit dari posisi terendahnya di 565.
Dari sisi aliran dana, tekanan jual masih menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan ESSA. Dalam sebagian besar sesi perdagangan Juni, investor asing tercatat konsisten melakukan net sell.
Pada 18 Juni net sell asing mencapai Rp46,87 miliar, kemudian berlanjut Rp17,64 miliar pada 19 Juni. Bahkan, sejak awal bulan hanya beberapa hari yang mencatat net buy asing. Itulah mengapa kenaikan saham relatif cepat tertahan.
Namun ada satu sinyal positif yang mulai muncul, yakni volume transaksi saat koreksi cenderung menurun. Pada 17 Juni volume mencapai 3,25 juta lot ketika harga menguat 8,13 persen, sementara saat turun pada 19 Juni volume menyusut menjadi 1,4 juta lot.
Sinyal seperti ini sering diartikan bahwa tekanan jual mulai kehilangan tenaga.
Tekanan Jual Tinggi
Secara teknikal, gambaran jangka pendek memang masih belum sepenuhnya nyaman. Hampir seluruh indikator utama masih memberikan sinyal jual. Moving average menunjukkan harga berada di bawah MA10, MA20, MA100 hingga MA200, menandakan tren menengah masih bearish. MA20 berada di sekitar 716, jauh di atas harga saat ini di 640.
Indikator MACD juga masih berada di area negatif, sementara ADX yang tinggi menunjukkan tren yang sedang berlangsung masih cukup kuat.
Namun di balik dominasi sinyal jual tersebut, mulai terlihat tanda-tanda bahwa tekanan turun berpotensi mendekati fase jenuh. Stochastic RSI berada di area oversold dengan nilai sekitar 15,7. Williams %R dan CCI juga sudah masuk zona yang sering diasosiasikan dengan kondisi jenuh jual.
Artinya, meskipun tren utama belum berubah, ruang penurunan mulai terbatas dan peluang technical rebound menjadi semakin terbuka.
Pandangan tersebut sejalan dengan proyeksi Elliott Wave yang memperkirakan ESSA sedang berada pada bagian awal wave (B) dari wave [Y]. Dalam struktur ini, wave (B) biasanya merupakan fase pemulihan setelah gelombang penurunan sebelumnya selesai terbentuk.
Karena itu, koreksi yang terjadi saat ini justru berpotensi menjadi area persiapan sebelum saham mencoba membangun kenaikan berikutnya.
Buy on Weakness?
Untuk perdagangan jangka pendek, area 605-630 menjadi zona yang paling menarik untuk dicermati. Level tersebut berdekatan dengan area support sekaligus area buy on weakness yang direkomendasikan.
Selama harga mampu bertahan di atas 605, peluang rebound menuju resistance terdekat masih cukup terbuka. Dari data pivot point, level 646 menjadi resistance pertama yang perlu ditembus, kemudian disusul area 693 yang berdekatan dengan target teknikal awal.
Apabila ESSA berhasil menembus dan bertahan di atas 693 dengan dukungan volume yang meningkat, maka peluang menuju target 710 hingga 765 akan semakin besar.
Sebaliknya, investor perlu tetap disiplin terhadap batas risiko. Jika harga kembali turun dan menembus 585, maka skenario pemulihan jangka pendek berpotensi gagal dan tekanan jual dapat kembali mendominasi.
Dengan demikian, strategi yang lebih ideal saat ini bukan mengejar harga di area 640, melainkan menunggu koreksi menuju area akumulasi 605-630. Risiko memang masih ada karena tren menengah belum sepenuhnya berubah, tetapi rasio risiko dan potensi keuntungan menjadi jauh lebih menarik apabila pembelian dilakukan mendekati area support tersebut.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.