KABARBURSA.COM - Pergerakan bursa saham Eropa nyaris stagnan pada perdagangan. Arah pasar tertahan. Kekhawatiran investor atas potensi gagalnya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah data ekonomi yang melemah, menjadi penyeimbang bagi sentimen positif dari laporan kinerja korporasi.
Indeks acuan pan-Eropa STOXX 600 ditutup naik tipis 0,05 persen atau 0,32 poin ke level 614,20, sebagaimana dilaporkan Reuters dari Bengaluru, Jumat 24 April dini hari WIB.
Pergerakan indeks di kawasan berlangsung variatif. CAC 40 Prancis mencatat penguatan 0,87 persen atau 70,89 poin menjadi 8.227,32. Sebaliknya, DAX Jerman terkoreksi 0,16 persen atau 39,45 poin ke posisi 24.155,45, sementara FTSE 100 Inggris melemah 0,19 persen atau 19,45 poin ke level 10.457,01.
Ketegangan geopolitik kembali mencuat. Iran merilis rekaman yang memperlihatkan pasukan komando menyerbu sebuah kapal kargo—sebuah demonstrasi kekuatan sekaligus penegasan kontrol atas Selat Hormuz setelah pembicaraan damai mengalami kebuntuan. Perkembangan ini mempertebal kecemasan pasar terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang kian rapuh.
Secara keseluruhan, pasar saham Eropa masih tertahan di bawah level sebelum konflik meletus. Para analis menilai kawasan ini sangat rentan terhadap lonjakan harga energi, sebuah faktor yang terus membebani. Dampaknya terasa nyata. Kinerja pasar Eropa tertinggal dibandingkan Amerika Serikat, di mana indeks Wall Street masih bertengger dekat rekor tertinggi.
Head of Market Analysis RBC Brewin Dolphin, Janet Mui, menyoroti karakteristik industri di Eropa yang sangat dipengaruhi siklus ekonomi global. Menurutnya, sektor non-pertahanan menghadapi tekanan yang lebih intens akibat eksposur tinggi terhadap dinamika ekonomi dunia.
Pelaku pasar kini menaruh perhatian pada disparitas kinerja antar sektor. Dampak perang. Tekanan inflasi yang kembali menguat. Serta prospek pertumbuhan yang mulai meredup—semuanya menjadi variabel krusial yang membentuk lanskap pasar Eropa saat ini.(*)