Logo
>

STOXX 600 Nyaris Tak Bergerak, Investor Cermati Risiko Energi

Indeks acuan pan-Eropa STOXX 600 ditutup melemah tipis 0,05 persen atau 0,32 poin ke level 616,95

Ditulis oleh Pramirvan Datu
STOXX 600 Nyaris Tak Bergerak, Investor Cermati Risiko Energi
Ilustrasi Bursa Saham Eropa. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Bursa saham Eropa nyaris bergerak tanpa arah yang jelas pada penutupan perdagangan Kamis. Pelaku pasar memilih bersikap hati-hati. Mereka mencermati dua arus besar sekaligus—perkembangan menuju potensi resolusi konflik di Timur Tengah dan gelombang laporan kinerja korporasi yang terus mengalir.

Indeks acuan pan-Eropa STOXX 600 ditutup melemah tipis 0,05 persen atau 0,32 poin ke level 616,95, sebagaimana dilaporkan Reuters Jumat 17 April 2026 dini hari WIB.

Pergerakan indeks utama di kawasan berlangsung variatif. DAX Jerman menguat 0,36 persen atau 87,77 poin menjadi 24.154,47. FTSE 100 Inggris ikut naik 0,29 persen atau 30,41 poin ke posisi 10.589,99. Sebaliknya, CAC Prancis terkoreksi 0,14 persen atau 11,87 poin ke level 8.262,70.

Di sisi fundamental, pemerintah Jerman dilaporkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2026 hingga setengahnya, sekaligus menurunkan estimasi untuk 2027. Ironisnya, proyeksi inflasi justru direvisi naik. Lonjakan harga minyak menjadi pemicu utama, menurut sumber yang dikutip Reuters.

Harapan pasar sempat terangkat. Optimisme muncul seiring spekulasi bahwa konflik yang melibatkan Iran dapat segera mereda. Namun, peringatan dari Teheran terkait masa depan program nuklirnya yang masih buram kembali menahan euforia. Ketidakpastian pun tetap menggantung.

Indeks STOXX 600 hampir sepenuhnya memulihkan kerugian sejak pecahnya konflik. Namun di balik itu, kekhawatiran laten masih bercokol. Lonjakan harga energi berpotensi menggerus fondasi ekonomi Eropa, yang selama ini sangat bergantung pada impor.

Chief Investment Strategist BNP Paribas Wealth Management, Stephan Kemper, menilai pergerakan pasar saham saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan realitas ekonomi. Ia menyoroti bahwa sektor industri yang lebih luas justru tengah tertekan oleh biaya energi yang melonjak.

Menurut Kemper, semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula kesadaran pasar bahwa dampaknya melampaui isu terbukanya jalur strategis seperti Selat Hormuz. Ada implikasi ekonomi yang lebih dalam. Kerusakan yang telah terjadi, serta potensi gangguan terhadap trajektori pertumbuhan, menjadi faktor yang tak bisa diabaikan.

Di tengah musim laporan keuangan yang tengah berlangsung, investor berburu sinyal. Mereka mencoba mengukur sejauh mana turbulensi geopolitik merembet ke kinerja perusahaan.

Secara sektoral, saham teknologi dan energi menjadi penopang utama indeks. Keduanya mencatat kenaikan masing-masing 1,5 persen dan 0,7 persen. Sektor perangkat lunak tampil menonjol, dipimpin oleh SAP Jerman yang melonjak 3,5 persen. Dassault Systemes dan Capgemini turut menguat lebih dari 2,5 persen.

Sebaliknya, sektor keuangan menjadi beban utama dengan penurunan sekitar 1 persen. Saham pertahanan juga tertekan, merosot 1,8 persen. Penurunan dipicu oleh anjloknya saham Safran sebesar 3,4 persen serta pelemahan Rolls-Royce sebesar 2,4 persen.

Sektor perjalanan dan rekreasi tak luput dari tekanan. Maskapai Ryanair tergelincir tajam hingga 6,4 persen. Lufthansa Jerman bahkan menjadi maskapai besar pertama yang memangkas sebagian penerbangan akibat lonjakan biaya bahan bakar jet. Di saat yang sama, easyJet Inggris melaporkan tingkat pemesanan tiket yang lebih lemah dibandingkan tahun sebelumnya. Saham Lufthansa dan easyJet masing-masing turun 3,4 persen dan 5 persen.

Pada level emiten, pergerakan saham berlangsung kontras. Produsen cokelat asal Swiss, Barry Callebaut, terperosok 15,6 persen setelah memangkas proyeksi laba operasional tahunan.

Sebaliknya, perusahaan taruhan Entain melonjak 6 persen, ditopang pertumbuhan pendapatan permainan bersih sebesar 3 persen pada kuartal pertama.

Sementara itu, Intertek mencatat lonjakan signifikan sebesar 9 persen setelah menolak proposal akuisisi dari firma ekuitas Swedia EQT AB. Manajemen menilai tawaran sebesar 51,5 pound per saham tersebut belum merefleksikan valuasi intrinsik perusahaan secara layak.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.