Logo
>

Tambang Pani Catatkan Pendapatan, Rugi Bersih EMAS Justru Membengkak

EMAS mencatat pendapatan perdana dari Tambang Emas Pani pada kuartal I-2026. Namun, rugi bersih meningkat 18,67 persen dan sahamnya masih berada dalam tekanan jual asing.

Ditulis oleh Yunila Wati
Tambang Pani Catatkan Pendapatan, Rugi Bersih EMAS Justru Membengkak
Tambang Emas Pani berhasil melakukan first gold pour pada Februari 2026 dan disusul penjualan emas perdana pada Maret. (Foto: dok EMAS)

KABARBURSA.COM - PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) akhirnya mencatat sejarah baru pada kuartal pertama 2026. Setelah bertahun-tahun berada pada fase pengembangan, perusahaan untuk pertama kalinya membukukan pendapatan dari penjualan emas. 

Tambang Emas Pani berhasil melakukan first gold pour pada Februari 2026, disusul penjualan emas perdana pada Maret.

Namun, laporan keuangan EMAS masih memperlihatkan tantangan yang tidak kecil. Pendapatan memang mulai mengalir, tetapi kerugian perusahaan justru semakin membesar. 

Sepanjang Januari hingga Maret 2026, EMAS membukukan pendapatan sebesar USD2,64 juta. Angka ini menjadi pendapatan perdana perusahaan sejak Tambang Emas Pani mulai memasuki fase produksi komersial.

Dari pendapatan tersebut, perusahaan membukukan beban pokok penjualan sebesar USD2,18 juta, sehingga menghasilkan laba bruto sekitar USD460 ribu. Secara operasional, ini merupakan kemajuan karena sebelumnya EMAS belum memiliki pendapatan maupun laba kotor.

Meski demikian, perbaikan pada sisi operasional belum mampu mengangkat kinerja laba bersih. Perseroan masih mencatat rugi bersih sebesar USD10,93 juta, meningkat 18,67 persen dibandingkan rugi bersih kuartal pertama tahun lalu sebesar USD9,21 juta.

Akumulasi kerugian perusahaan pun terus bertambah. Hingga akhir Maret 2026, defisit EMAS mencapai USD72,43 juta, naik sekitar 17,77 persen dibandingkan posisi sebelumnya.

Presiden Direktur EMAS Boyke P. Abidin, menjelaskan bahwa kondisi tersebut masih mencerminkan profil keuangan yang normal bagi sebuah tambang yang baru memasuki tahap awal produksi.

Selama kuartal pertama, Tambang Emas Pani memproduksi 1.818 ons emas dan 3.500 ons perak, sementara volume penjualan emas baru mencapai 516 ons. Dengan volume produksi yang masih terbatas, sebagian besar biaya operasional dan biaya pengembangan masih harus ditanggung oleh jumlah produksi yang relatif kecil.

Di sisi lain, harga emas yang tinggi sebenarnya memberikan dukungan terhadap profitabilitas. Harga jual rata-rata mencapai USD5.123 per ons, sementara biaya tunai tercatat sekitar USD969 per ons di luar royalti atau USD1.202 per ons termasuk royalti. Dengan kondisi tersebut, margin tunai mencapai sekitar USD3.921 per ons.

Namun, tantangan utama justru terlihat pada indikator All-in Sustaining Cost (AISC) yang masih sangat tinggi. AISC adalah biaya total yang dibutuhkan perusahaan tambang untuk memproduksi dan mempertahankan produksi setiap ons emas secara berkelanjutan. 

EMAS mencatat AISC sebesar USD4.463 per ons di luar royalti atau USD4.696 per ons termasuk royalti.

Besarnya AISC tersebut mencerminkan fase awal operasi tambang. Pada periode ramp-up, berbagai biaya penunjang produksi, pengembangan fasilitas, serta pengeluaran operasional lainnya masih dibebankan terhadap volume produksi yang belum optimal. 

Manajemen memperkirakan biaya per unit akan menurun secara bertahap seiring meningkatnya volume produksi dalam beberapa kuartal mendatang.

Target Produksi

Optimisme tersebut juga didukung target produksi sepanjang 2026. Perseroan menargetkan produksi emas mencapai 100.000 hingga 115.000 ons sesuai RKAB yang telah disetujui pemerintah. 

Untuk biaya produksi, perusahaan memproyeksikan biaya tunai berada di kisaran USD900–1.100 per ons, sedangkan AISC diperkirakan turun ke kisaran USD1.300–1.450 per ons di luar royalti dan kredit perak apabila produksi telah berjalan normal.

Selain perkembangan operasional, EMAS juga mencatatkan kemajuan dari sisi sumber daya mineral. Setelah kuartal pertama berakhir, perusahaan mengumumkan estimasi sumber daya mineral perdana Prospek Kolokoa sebesar 445 ribu ons emas.

Dengan begitu, total inventaris sumber daya Tambang Emas Pani meningkat dari 7 juta ons menjadi sekitar 7,4 juta ons emas.

EMAS juga memperluas akses pendanaan global melalui pencatatan sekunder di Hong Kong Stock Exchange (HKEX) dalam bentuk Hong Kong Depositary Receipts (HDR) berkode 6228, yang resmi tercatat pada 26 Juni 2026.

Sentimen Pasar Belum Baik

Sementara itu, sentimen pasar terhadap saham EMAS masih cenderung berhati-hati. Pada perdagangan Senin (29 Juni), saham EMAS ditutup di level Rp6.000, turun 2,04 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Jika melihat pergerakan selama sepekan terakhir, volatilitas saham EMAS masih cukup tinggi. Pada 22 Juni saham ditutup di Rp7.000, kemudian melemah ke Rp6.900 pada 23 Juni dan Rp6.825 pada 24 Juni. 

Sempat terjadi rebound ke Rp7.050 pada 25 Juni, namun sehari berikutnya saham kembali terkoreksi tajam 13,12 persen ke level Rp6.125, sebelum kembali melemah ke Rp6.000 pada perdagangan hari ini.

Pergerakan dana asing juga memperlihatkan tekanan jual yang cukup besar. Pada perdagangan 26 Juni, investor asing mencatat net sell sekitar Rp152,82 miliar, setelah nilai pembelian hanya mencapai Rp25,74 miliar, sedangkan penjualan mencapai Rp178,56 miliar. 

Sebelumnya, asing juga membukukan net sell Rp44,87 miliar pada 22 Juni, Rp7,03 miliar pada 23 Juni, Rp3,05 miliar pada 24 Juni, dan Rp11,48 miliar pada 25 Juni.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79