KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 1,28 persen atau turun 75,34 poin ke level 5.820 pada perdagangan Senin, 29 Juni 2026.
Pada hari ini, IHSG dibuka di level 5.932 dan sempat menggapai titik tertinggi di angka 5.942. Sementara titik terendah di level 5.800.
Mengutip Stockbit, total transaksi di seluruh pasar tercatat sebanyak 154,61 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp9,10 triliun serta frekuensi perdangan sebanyak 1,23 juta kali.
Berdasarkan data sektoral, hanya satu sektor yang berada di zona hijau yakni properti setelah mengalami penguatan 0,71 persen.
Sementara itu, sektor infrastruktur mencatatkan penurunan paling dalam sebesar 1,58 persen, diikuti oleh sektor industri dasar (basic-ind) yang melemah 1,42 persen, dan sektor finansial turun sebesar 1,14 persen.
Penurunan juga terjadi pada sektor transportasi sebesar 0,90 persen, sektor konsumer siklikal sebesar 0,80 persen, sektor konsumer non-siklikal sebesar 0,75 persen, serta sektor energi yang melemah 0,48 persen.
Selanjutnya, sektor kesehatan mencatatkan koreksi sebesar 0,37 persen, sektor teknologi turun 0,35 persen, dan sektor industri melemah tipis sebesar 0,31 persen.
Rupiah Perkasa
Berbanding terbalik dengan IHSG, nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat sebesar 71 poin ke level Rp17.851 pada perdagangan Senin, 29 Juni 2026.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah hari ini tidak lepas dari rencana pemerintah memangkas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi 250 dari 1.000 perusahaan.
"Restrukturisasi BUMN dinilai sebagai langkah strategis. Pemangkasan jumlah BUMN ini bertujuan mengurangi beban anggaran yang besar, sekaligus meningkatkan efisiensi," ujar dia dalam keterangannya.
Selain itu, sentimen positif juga datang setelah keputusan pemerintah tidak menerima tawaran bantuan dana sebesar USD30 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF).
Menurut Ibrahim, Langkah tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa pemerintah memiliki keyakinan terhadap kemampuan ekonomi nasional dalam menghadapi tekanan global.
"Bagi pelaku pasar, keputusan tersebut mempertegas optimisme pemerintah terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia," kata dia.
Terdekat, Ibrahim mengatakan oelaku pasar masih menunggu sejumlah indikator ekonomi awal bulan Juli 2026, yakni data neraca perdagangan Indonesia serta tingkat inflasi.
"Kedua data tersebut diperkirakan menjadi pertimbangan penting dalam membaca kondisi ekonomi nasional dan arah pergerakan rupiah selanjutnya," ujarnya.
Sementara itu untuk perdagangan besok, Senin, 29 Juni 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp17.800- Rp17.860.