Logo
>

Bursa Asia Menguat, Hang Seng Pimpin Reli

Mayoritas bursa Asia ditutup menguat setelah Iran dan Amerika Serikat kembali menempuh jalur diplomasi. Meredanya ketegangan di Selat Hormuz mengangkat kembali sentimen pasar.

Ditulis oleh Yunila Wati
Bursa Asia Menguat, Hang Seng Pimpin Reli
Sejumlah indeks saham Asia menghijau terdorong meredanya ketegangan di Selat Hormuz. (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Bursa saham Asia mengakhiri perdagangan Senin, 29 Juni 2026, dengan mayoritas indeks berada di zona hijau. Sentimen positif muncul seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, setelah Iran dan Amerika Serikat kembali membuka jalur diplomasi untuk menghentikan eskalasi konflik yang sempat memicu kekhawatiran pasar global.

Meredanya tensi geopolitik langsung memperbaiki sentimen pelaku pasar. Investor kembali masuk ke aset berisiko setelah sebelumnya memilih bersikap defensif di tengah meningkatnya ketidakpastian kawasan.

Mayoritas indeks saham Asia pun bergerak menguat. Hang Seng Hong Kong memimpin penguatan dengan kenaikan 1,57 persen ke level 23.026, disusul CSI 300 China yang naik 1,21 persen ke 4.926, serta Shanghai Composite yang bertambah 1,16 persen menjadi 4.073.

Penguatan juga terjadi pada Taiex Taiwan yang naik 0,96 persen ke level 44.999, S&P/ASX 200 Australia yang menguat 0,68 persen ke 8.823, serta Topix Jepang yang bertambah 0,47 persen ke level 3.982. Sementara itu, Nikkei 225 Jepang ditutup menguat tipis 0,15 persen.

Di sisi lain, Kospi Korea Selatan masih menjadi satu-satunya indeks utama yang berada di zona merah setelah turun 0,20 persen, menunjukkan investor masih berhati-hati terhadap prospek sektor teknologi dan semikonduktor.

Implementasi Kesepakatan Perdamaian

Meski pasar mulai pulih, pelaku pasar belum sepenuhnya lepas dari sikap waspada. Perhatian investor masih tertuju pada kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dan gas dunia. 

Ketegangan sempat meningkat setelah aksi saling balas antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir, termasuk insiden penyerangan kapal kargo yang memperbesar kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global.

Kini, suasana mulai berangsur lebih kondusif. Kedua negara kembali menyepakati penghentian permusuhan sementara sebagai bagian dari implementasi kesepakatan perdamaian 14 poin yang dicapai pada 17 Juni. 

Kesepakatan tersebut ditujukan untuk menghentikan konflik yang dipicu serangan militer pada akhir Februari sekaligus membuka kembali aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, meski sejumlah isu strategis seperti program nuklir Iran masih akan dibahas dalam perundingan lanjutan.

Kepala Strategi Pasar ATFX Global di Sydney Nick Twidale, menilai pergerakan pasar masih kehilangan arah yang kuat karena investor menunggu perkembangan lanjutan dari Timur Tengah.

Menurutnya, kabar yang lebih positif dari kawasan tersebut memang berpotensi menjadi katalis tambahan bagi pasar, tetapi untuk saat ini pergerakan diperkirakan masih berlangsung terbatas tanpa perubahan arah yang signifikan.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Pelaksana Strategi Investasi OCBC Vasu Menon. Ia mengatakan pasar global kini mulai terbiasa menghadapi dinamika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran sehingga setiap perkembangan baru tidak lagi memicu kepanikan sebesar sebelumnya.

Sektor Kecerdasan Buatan Jadi Sorotan

Selain isu geopolitik, investor juga masih menaruh perhatian pada perkembangan sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Setelah menjadi motor utama reli pasar dalam beberapa tahun terakhir, muncul kekhawatiran bahwa valuasi saham-saham teknologi berbasis AI telah bergerak terlalu tinggi.

Laporan Bank of America (BofA) Global Research menunjukkan mulai terjadi rotasi investasi dari saham-saham AI berkapitalisasi besar menuju sektor-sektor yang lebih siklikal dan defensif. Pergeseran tersebut dinilai sebagai indikasi awal bahwa konsentrasi investasi pada segelintir saham teknologi mulai berkurang.

Ekonom Senior Interactive Brokers Jose Torres, menambahkan bahwa besarnya kebutuhan investasi untuk membangun infrastruktur AI membuat banyak perusahaan harus mengalokasikan dana dalam jumlah besar. Kondisi itu meningkatkan risiko apabila investasi tersebut tidak mampu menghasilkan imbal hasil sesuai harapan.

Menurutnya, situasi tersebut mendorong sebagian investor mengalihkan portofolio ke sektor yang lebih defensif sambil menunggu kepastian arah pertumbuhan industri AI ke depan.

Rupiah Menguat

Di pasar valuta asing Asia, pergerakan mata uang juga mencerminkan mulai membaiknya selera risiko investor. Rupiah menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbesar setelah terapresiasi 0,40 persen ke level Rp17.851 per dolar Amerika Serikat.

Ringgit Malaysia juga menguat 0,46 persen, disusul baht Thailand yang naik 0,35 persen, yuan China menguat 0,10 persen, serta dolar Singapura yang naik tipis 0,02 persen terhadap dolar AS.

Sebaliknya, yen Jepang melemah 0,07 persen, dolar Australia turun 0,06 persen, sementara rupee India terkoreksi tipis 0,03 persen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79