KABARBURSA.COM - Bursa saham Wall Street ditutup melemah dalam perdagangan yang sarat volatilitas pada Kamis. Optimisme pasar mulai terkikis. Harapan bahwa konflik Iran akan segera mereda memudar, sementara kekhawatiran baru muncul dari potensi disrupsi kecerdasan buatan (AI) terhadap industri perangkat lunak.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 179,71 poin atau 0,36 persen ke level 49.310,32. S&P 500 ikut terkoreksi 29,50 poin atau 0,41 persen menjadi 7.108,40. Tekanan paling dalam terjadi pada Nasdaq Composite yang anjlok 219,06 poin atau 0,89 persen ke posisi 24.438,50, sebagaimana dilaporkan Reuters dari New York, Jumat 24 April 2026 pagi WIB.
Sebelumnya, pasar sempat bergerak relatif stabil. Namun ketenangan itu rapuh. Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz—jalur vital energi global. Bahkan, Teheran merilis rekaman operasi pasukan komando yang menyerbu kapal kargo besar yang diklaim telah disita, sembari menekan Amerika Serikat untuk mencabut blokade laut terhadap pelabuhannya.
Tekanan semakin menguat. Laporan pengunduran diri Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dari tim negosiasi memicu ketidakpastian baru. Situasi memburuk ketika harga minyak melonjak tajam, dipicu kabar serangan udara di wilayah Iran.
Kantor berita Fars melaporkan sistem pertahanan udara Iran diaktifkan guna menghadapi serangan drone berukuran kecil di sejumlah lokasi. Sinyal eskalasi ini mempertebal kegelisahan investor. Risiko konflik terbuka kembali menghantui.
“Kita seperti bermain kursi musik antara musim laporan keuangan dan berita perang yang tampaknya tidak akan menguntungkan,” ujar Jay Hatfield, CEO sekaligus CIO Infrastructure Capital Advisors di New York.
Ia menambahkan, setelah reli signifikan, sebagian investor mulai memangkas eksposur. Ketegangan geopolitik menjadi justifikasi yang cukup rasional untuk aksi tersebut.
Sepanjang pekan, momentum penguatan pasar kian rapuh. Pada awal minggu, Nasdaq bahkan menghentikan reli panjang selama 13 sesi berturut-turut, seiring memudarnya optimisme terhadap resolusi konflik Iran. Kini, ketiga indeks utama Wall Street mencatatkan pelemahan tipis secara mingguan.
Di sisi lain, harga minyak yang bertahan di kisaran USD100 per barel terus menjaga tekanan inflasi tetap tinggi. Data ekonomi terbaru menunjukkan klaim pengangguran mingguan di Amerika Serikat hanya meningkat marginal. Namun demikian, lonjakan harga energi akibat konflik berpotensi menekan laju pertumbuhan ekonomi ke depan.(*)