Logo
>

Tekanan Global Menguat, Dolar AS Jatuh Lawan Yen

Pelemahan ini mencuat setelah otoritas Jepang diduga turun tangan di pasar untuk menopang mata uangnya yang sempat tertekan

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Tekanan Global Menguat, Dolar AS Jatuh Lawan Yen
Ilustrasi Mata Uang Dolar Amerika. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Dolar Amerika Serikat terperosok terhadap yen dan sejumlah mata uang utama lainnya pada perdagangan Kamis. Pelemahan ini mencuat setelah otoritas Jepang diduga turun tangan di pasar untuk menopang mata uangnya yang sempat tertekan. Situasi berlangsung di tengah lanskap global yang sarat ketidakpastian—dipicu konflik Timur Tengah dan arah kebijakan bank sentral dunia yang kian kompleks.

Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, sebelumnya telah memberi sinyal. Waktunya hampir tiba untuk bertindak. Pernyataan itu menjadi indikasi paling tegas bahwa Tokyo siap melakukan intervensi guna mengangkat yen yang sempat tergelincir ke titik terlemah sejak Juli 2024, sebagaimana dilaporkan Reuters dari New York, Jumat 1 Mei 2025 pagi WIB.

Dua sumber yang memahami situasi tersebut mengungkapkan adanya aksi beli yen oleh otoritas Jepang. Dampaknya langsung terasa. Dolar AS sempat terjun bebas hingga 3 persen terhadap yen, menyentuh level 155,5—penurunan harian terdalam sejak akhir Desember 2024. Meski kemudian sedikit pulih, greenback tetap ditransaksikan melemah 2,33 persen di kisaran 156,52 yen.

Bagi sebagian analis, langkah ini bukan kejutan. Pelemahan yen dalam beberapa pekan terakhir dinilai terlalu tajam. John Velis, analis dari BNY, menyebut intervensi tersebut sebagai respons wajar terhadap pergerakan pasar yang telah melampaui batas fundamental.

Tekanan terhadap dolar tidak berhenti di sana. Indeks Dolar AS (DXY), yang merefleksikan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, ikut melemah 0,80 persen ke level 98,06. Penurunan ini sekaligus memutus tren penguatan yang sebelumnya bertahan selama dua sesi berturut-turut.

Sebaliknya, mata uang Eropa justru menguat. Euro naik 0,51 persen ke posisi USD1,1733. Poundsterling bahkan melesat 0,98 persen menjadi USD1,3607. Penguatan ini terjadi di tengah sikap Bank Sentral Eropa yang mempertahankan suku bunga, meskipun di internal masih mengkaji kemungkinan pengetatan lebih lanjut guna meredam inflasi yang telah mencapai 3 persen pada April—melampaui target 2 persen.

Di Inggris, Bank of England juga memilih menahan suku bunga. Namun, bank sentral tersebut memaparkan berbagai skenario dampak ekonomi dari konflik Iran, menandakan kewaspadaan yang tetap tinggi terhadap gejolak global.

Faktor geopolitik terus menjadi bayang-bayang utama. Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran masih menemui jalan buntu. Washington dilaporkan meningkatkan tekanan melalui blokade laut terhadap ekspor minyak Iran, memperkeruh situasi yang sudah rapuh.

Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima briefing terkait potensi serangan militer lanjutan terhadap Iran. Jika terealisasi, langkah ini berpotensi memperdalam eskalasi konflik di kawasan.

Di pasar energi, harga minyak Brent mengalami koreksi 3,41 persen ke USD114,01 per barel setelah sebelumnya reli selama delapan sesi berturut-turut. Penurunan ini mencerminkan aksi ambil untung sekaligus penyesuaian risiko oleh investor di tengah volatilitas yang tinggi.

Sementara itu, arah kebijakan moneter Amerika Serikat tetap menjadi sorotan. Federal Reserve memilih mempertahankan suku bunga pada pertemuan terakhirnya. Namun, perbedaan pandangan di internal mulai mencuat—dengan satu anggota mendukung pemangkasan, sementara lainnya masih enggan memberi sinyal pelonggaran.

Tekanan terhadap dolar kian luas. Terhadap franc Swiss, mata uang AS itu melemah 1,28 persen. Sebuah gambaran jelas bahwa greenback tengah menghadapi tekanan multidimensi di tengah dinamika global yang terus berubah dan sulit diprediksi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.