Logo
>

Produsen Jelly Inaco Bersiap IPO, Begini Perjalanan Bisnis dan Sosok Pengendalinya

Inaco siap IPO dengan target dana hingga Rp392 miliar. Simak sejarah bisnis, kinerja, dan sosok pengendalinya.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Produsen Jelly Inaco Bersiap IPO, Begini Perjalanan Bisnis dan Sosok Pengendalinya
PT Niramas Utama pemilik merek Inaco bersiap IPO dengan target dana hingga Rp392 miliar. Simak sejarah, kinerja, dan pemegang sahamnya. Foto: Dok. Inaco.

KABARBURSA.COM – Masyarakat Indonesia tentu tak asing dengan merek Inaco. Produk nata de coco, jelly, pudding, hingga gummy candy yang banyak ditemui di berbagai gerai ritel itu kini bersiap memasuki babak baru sebagai perusahaan terbuka melalui penawaran umum perdana saham (IPO) dengan penjamin PT Sucor Sekuritas.

PT Niramas Utama Tbk, pemilik merek Inaco, menawarkan sebanyak-banyaknya 350 juta saham baru atau setara 25,93 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dengan rentang harga penawaran Rp900 hingga Rp1.120 per saham, perseroan berpotensi menghimpun dana hingga Rp392 miliar.

Berdasarkan prospektus awal, masa penawaran awal berlangsung pada 15 hingga 22 Juni 2026. Perseroan menargetkan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 29 Juni 2026, sementara pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan pada 7 Juli 2026.

Masuknya Inaco ke pasar modal menjadi salah satu IPO sektor barang konsumsi yang menarik perhatian. Selain memiliki merek yang telah dikenal luas selama puluhan tahun, perusahaan ini juga memiliki sejarah panjang dalam industri makanan dan minuman penutup berbasis nata de coco.

Berkantor pusat di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Niramas Utama saat ini mengoperasikan sejumlah fasilitas produksi di Bekasi, Pontianak, Pandaan, dan Sukabumi. Produk-produknya dipasarkan ke pasar domestik maupun ekspor.

Awal Berdiri dengan Nama PT Nata Sari Raya

Jejak bisnis PT Niramas Utama Tbk bermula pada 22 November 1990 ketika perusahaan didirikan dengan nama PT Nata Sari Raya berdasarkan Akta Pendirian Nomor 86 yang dibuat di hadapan Notaris Samsul Hadi, S.H., di Jakarta. Perusahaan didirikan sebagai perseroan terbatas yang bergerak di bidang pengolahan pangan berbasis nata de coco, sebuah produk yang pada saat itu mulai mendapat permintaan dari pasar ekspor.

Pada saat pendirian, perseroan memiliki modal dasar sebesar Rp300 juta yang terbagi ke dalam 300 lembar saham dengan nilai nominal Rp1 juta per saham.

Dari jumlah tersebut, modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh mencapai Rp75 juta atau setara 75 lembar saham, sedangkan sebanyak 225 lembar saham senilai Rp225 juta masih tersimpan sebagai saham dalam portepel.

Struktur kepemilikan awal perusahaan menunjukkan dominasi Tjokro Susilo sebagai pemegang saham mayoritas. Ia menguasai 43 lembar saham dengan nilai nominal Rp43 juta atau setara 57,34 persen dari total modal ditempatkan dan disetor. Sementara itu, dua pendiri lainnya, yakni Tony Loesiahari dan Lie Djok Tjuan, masing-masing memiliki 16 lembar saham dengan nilai nominal Rp16 juta atau setara 21,33 persen.

Model bisnis awal perusahaan berfokus pada skema business-to-business (B2B), yakni memasok produk setengah jadi kepada perusahaan makanan dan minuman di luar negeri.

Seiring pertumbuhan bisnis, perseroan terus memperluas kapasitas produksi dan memperkuat struktur permodalannya. Salah satu perubahan penting terjadi pada 2019 ketika para pemegang saham menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan disetor dari Rp50 miliar menjadi Rp100 miliar. Penambahan modal tersebut dilakukan melalui konversi piutang milik PT Niramas Utama International menjadi saham baru sebanyak 500 juta lembar saham dengan nilai nominal keseluruhan Rp50 miliar.

Pasca aksi korporasi tersebut, struktur kepemilikan saham berubah signifikan. PT Niramas Utama International menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 998 juta lembar saham atau setara 99,80 persen dari modal ditempatkan dan disetor. Sementara itu, Sadikun Wiratno tercatat sebagai pemegang saham minoritas dengan kepemilikan 2 juta lembar saham atau 0,20 persen.

Menjelang IPO pada 2026, para pemegang saham kembali menyetujui perubahan struktur permodalan dengan meningkatkan modal dasar perseroan dari Rp100 miliar menjadi Rp400 miliar. Modal dasar tersebut terbagi atas 4 miliar lembar saham dengan nilai nominal Rp100 per saham.

Dari jumlah tersebut, modal ditempatkan dan disetor tetap sebesar Rp100 miliar atau setara 1 miliar saham, sementara sebanyak 3 miliar saham senilai Rp300 miliar masih tercatat sebagai saham dalam portepel yang dapat diterbitkan di kemudian hari.

Transformasi dari perusahaan keluarga berskala relatif kecil dengan modal awal Rp75 juta pada 1990 hingga menjadi perusahaan makanan dan minuman nasional yang siap melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2026 mencerminkan perjalanan panjang Niramas Utama dalam mengembangkan bisnis nata de coco dan produk makanan penutup bermerek Inaco selama lebih dari tiga dekade.

Transformasi bisnis mulai terlihat pada 1994 ketika perusahaan memproduksi nata de coco dalam kemasan siap konsumsi untuk pasar domestik dan ekspor. Langkah tersebut menjadi fondasi lahirnya merek Inaco yang kemudian berkembang menjadi salah satu pemain utama di segmen makanan penutup.

Dua tahun kemudian, perseroan meluncurkan produk Mini Jelly with Nata de Coco yang menjadi salah satu produk andalan hingga saat ini. Pengembangan portofolio berlanjut dengan peluncuran produk aloe vera pada 1999 sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis.

Untuk mendukung pertumbuhan produksi, perusahaan membangun pabrik kedua di Pontianak, Kalimantan Barat, pada 2003.

Tiga tahun berselang, manajemen melakukan pembaruan identitas merek Inaco guna memperkuat posisi perusahaan di pasar makanan dan minuman nasional.

Ekspansi produk terus berlanjut. Pada 2012 perseroan mulai memproduksi pudding dengan nata de coco. Kemudian pada 2015 perusahaan memasuki segmen minuman siap minum melalui produk I'm Coco.

Modernisasi operasional dilakukan pada 2016 melalui pembangunan pabrik ketiga di Pandaan, Jawa Timur, yang mengadopsi konsep industri 4.0. Setahun kemudian perusahaan menerapkan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) SAP S/4HANA untuk mengintegrasikan aktivitas produksi, distribusi, hingga pengelolaan keuangan.

Niramas Utama juga terus memperluas lini produknya. Pada 2019 perusahaan memasuki kategori confectionery melalui produk Mini Gummies. Kemudian pada 2021 meluncurkan Frozen Mix, disusul Jelly Drink pada 2022 dan Snack Mini Bites pada 2023.

Pada 2024 perseroan kembali menambah portofolio melalui peluncuran minuman energi EnerGel. Sementara pada 2025 perusahaan mengakuisisi PT Sigma Niramas Utama (SNU) guna memperkuat kapasitas produksi dan pengembangan usaha.

Memasuki 2026, perseroan memperoleh sertifikasi ISO 22000:2018 yang melengkapi sejumlah standar keamanan pangan yang telah dimiliki sebelumnya, termasuk Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP).

Pengendali dan Jajaran Manajemen

Menjelang IPO, pemegang saham pengendali perseroan adalah PT Niramas Utama International dengan kepemilikan 99,80 persen saham. Sisanya sebesar 0,20 persen dimiliki oleh Sadikun Wiratno.

Setelah IPO, kepemilikan PT Niramas Utama International diperkirakan terdilusi menjadi sekitar 73,92 persen, sementara publik akan memiliki sekitar 25,93 persen saham perseroan.

Dalam prospektus, Ham Pak Japyusuf Hamdani tercatat sebagai pengendali perseroan. Ia juga menyatakan tidak akan melepaskan pengendaliannya atas perusahaan sekurang-kurangnya selama 12 bulan setelah pernyataan pendaftaran IPO dinyatakan efektif.

Adapun susunan direksi perseroan dipimpin oleh Adhi Siswaya Lukman sebagai Direktur Utama. Ia didampingi Ham Pak Japyusuf Hamdani, Erijanto Djajasudarma, Trisno Kuntjoro Wirawan, Tony Loesiahari, dan Philip Hamdani sebagai direktur.

Kinerja dan Prospek

Dari sisi kinerja keuangan, Niramas Utama membukukan penjualan sebesar Rp753,05 miliar pada 2025. Angka tersebut sedikit menurun dibandingkan Rp788,42 miliar pada 2024.

Meski demikian, laba tahun berjalan meningkat signifikan menjadi Rp39,03 miliar dari Rp11,63 miliar pada tahun sebelumnya. Perseroan juga mencatat return on equity (ROE) sebesar 26,82 persen dan return on assets (ROA) sebesar 7,07 persen pada akhir 2025.

Manajemen menilai industri makanan dan minuman penutup masih memiliki prospek pertumbuhan yang menjanjikan di Indonesia.

"Perseroan menilai bahwa industri makanan dan minuman, khususnya pada segmen makanan penutup, memiliki fundamental yang kuat serta prospek pertumbuhan yang berkelanjutan di Indonesia," tulis manajemen dalam prospektusnya.

Meski demikian, perseroan mengingatkan adanya sejumlah risiko usaha, terutama terkait ketersediaan dan fluktuasi harga bahan baku yang menjadi komponen utama produksi.

Selain itu, perusahaan juga mengingatkan calon investor mengenai potensi risiko likuiditas saham setelah pencatatan di Bursa Efek Indonesia.

Dana hasil IPO nantinya akan digunakan untuk penyertaan modal kepada anak usaha, belanja modal untuk peningkatan kapasitas produksi, pembayaran sebagian pinjaman bank, serta kebutuhan modal kerja guna mendukung ekspansi bisnis perseroan ke depan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".