Logo
>

Wall Street Ditutup Anjlok, Dipicu Ketidakpastian Tarif

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 778,88 poin, atau 1,57 persen menjadi 48.847,09

Ditulis oleh Hutama Prayoga
Wall Street Ditutup Anjlok, Dipicu Ketidakpastian Tarif
Ilustrasi: Suasana dalam New York Stock Exchange atau Wall Street. (Foto: Wikimedia Commons)

KABARBURSA.COM - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street anjlok pada perdagangan Senin, 23 Februari 2026 dipimpin oleh penurunan saham  keuangan.

Penurunan tersebut dipicu ketidakpastian tarif menyusul putusan Mahkamah Agung AS pada  yang menentang pungutan besar-besaran Presiden AS, Donald Trump terhadap barang impor.

Aksi jual besar-besaran ketiga indeks saham utama AS anjlok tajam karena  pernyataan Trump yang tidak menentu tentang kebijakan perdagangan. Hal ini pun memicu sebagian besar volatilitas pasar selama tahun pertama masa jabatan kedua presiden tersebut.

Mengutip Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 778,88 poin, atau 1,57 persen menjadi 48.847,09. S&P 500 ditutup di level 6.834,99 setelah kehilangan 74,52 poin atau 1,08 persen, sementara Nasdaq Composite turun 269,15 poin, atau 1,18 persen menjadi 22.616,92.

Di antara 11 sektor utama S&P 500, sektor keuangan mengalami penurunan terbesar, sementara sektor barang konsumsi pokok mengalami kenaikan persentase terbesar.

Indeks sektor kesehatan naik 1,0 persen, didorong oleh kenaikan 4,0 persen pada saham Eli Lilly setelah obat obesitas CagriSema milik pesaingnya, Novo Nordisk, menunjukkan kinerja yang lebih buruk dibandingkan obat Zepbound milik Eli Lilly dalam uji coba perbandingan langsung.

"Jelas, lapisan ketidakpastian tambahan yang muncul dari putusan Mahkamah Agung dan seperti apa kebijakan perdagangan saat ini tidak membantu," ujar Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird di Louisville, Kentucky.

Diketahui, pengadilan tertinggi AS mengeluarkan putusan yang menyatakan bahwa Trump melampaui wewenang kepresidenannya dengan memberlakukan tarif timbal balik berdasarkan undang-undang darurat ekonomi.

Keputusan itu memicu kecaman dari sang presiden, yang mengancam akan memberlakukan tarif sementara 15 persen untuk semua impor, meskipun telah mencapai kesepakatan perdagangan dengan banyak mitra dagang AS.

Mayfield menilai hal tersebut menambah tingkat ketidakpastian karena mempertanyakan kesepakatan perdagangan yang telah dibuat. Meski begitu, tambah dia, pasar dapat sedikit merasa lega karena  tingkat tarif efektif secara luas tidak akan lebih tinggi dari sebelumnya.

"Tetapi situasinya akan lebih rumit dan kurang pasti dalam jangka pendek," ungkapnya.

Sementara itu badai musim dingin mengubur sebagian besar wilayah AS di bawah salju setebal lebih dari 15 inci dan melumpuhkan perjalanan di wilayah Timur Laut.

Menurut flightaware.com dikutip dari Reuters, 89 hingga 98 persen dari semua penerbangan di bandara-bandara di wilayah tiga negara bagian   dibatalkan. Saham maskapai penerbangan dan saham yang terkait dengan perjalanan/rekreasi pun  anjlok 3,7 persen dan 4,0 persem. Dow Transports ikut turun 2,9 persen.

Adapun saham yang mengalami penurunan melebihi jumlah saham yang nanti dengan rasio 2,3 banding 1 di NYSE. Terdapat 342 saham dengan capaian harga tertinggi baru dan 173 saham yang menyentuh harga terendah.

Di Nasdaq, 1.385 saham naik dan 3.258 saham turun, dengan jumlah saham yang turun melebihi jumlah saham yang naik dengan rasio 2,35 banding satu.

Sedangkan indeks S&P 500 mencatatkan 38 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 16 rekor terendah, sementara Indeks Nasdaq Composite mencatatkan 65 rekor tertinggi dan 235 rekor terendah. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Hutama Prayoga

Hutama Prayoga telah meniti karier di dunia jurnalistik sejak 2019. Pada 2024, pria yang akrab disapa Yoga ini mulai fokus di desk ekonomi dan kini bertanggung jawab dalam peliputan berita seputar pasar modal.

Sebagai jurnalis, Yoga berkomitmen untuk menyajikan berita akurat, berimbang, dan berbasis data yang dihimpun dengan cermat. Prinsip jurnalistik yang dipegang memastikan bahwa setiap informasi yang disajikan tidak hanya faktual tetapi juga relevan bagi pembaca.