Logo
>

Wall Street Tersandung Usai Cetak Rekor, Sentilan Trump Guncang Saham Properti

Komentar Donald Trump soal kepemilikan rumah dan pasokan minyak Venezuela memicu koreksi Wall Street dan menekan sektor properti

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Wall Street Tersandung Usai Cetak Rekor, Sentilan Trump Guncang Saham Properti
Wall Street terkoreksi dari rekor setelah pernyataan Trump soal properti dan minyak Venezuela memicu tekanan di saham dan harga energi. Foto: Public Domain Pictures

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Wall Street sempat tersentak setelah reli panjang akhirnya tersendat. Setelah empat hari beruntun menorehkan rekor, indeks utama Amerika Serikat mulai kehabisan tenaga. Pada Rabu waktu setempat atau Kamis, 8 Januari 2026 WIB, S&P 500 turun tipis dan mencatatkan penurunan pertamanya dalam empat hari, sementara Dow Jones justru jatuh cukup dalam dari rekor yang baru saja dibuat sehari sebelumnya. Nasdaq bergerak berbeda arah, masih mampu bertahan di zona hijau meski kenaikannya terbatas.

    Dilansir dari AP, penurunan paling terasa justru datang dari sektor-sektor yang belakangan ini menjadi sasaran kritik Presiden Donald Trump. Beberapa industri yang disentil langsung lewat media sosial presiden mengalami tekanan jual cukup keras. Salah satunya sektor perumahan, yang langsung goyah setelah Trump melempar wacana pembatasan investor institusional besar dalam pembelian rumah tapak. Tujuannya disebut untuk membuka akses kepemilikan rumah yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

    Isyarat kebijakan itu segera dibaca pasar sebagai ancaman bagi permintaan. Ketika sebagian pembeli potensial terancam keluar dari pasar, saham-saham pengembang perumahan langsung tergelincir. D.R. Horton anjlok 3,6 persen, disusul PulteGroup yang turun 3,2 persen. Tekanan juga menjalar ke sektor keuangan. Blackstone, raksasa investasi yang dikenal agresif di properti, sempat terjun lebih dari 9 persen sebelum akhirnya memangkas penurunan dan ditutup melemah 5,6 persen.

    Di luar sektor yang disorot Trump, pergerakan pasar relatif lebih tenang. Beberapa saham hiburan bergerak terbatas setelah kabar aksi korporasi terbaru. Warner Bros. Discovery naik tipis setelah kembali menolak tawaran akuisisi dari Paramount dan meminta pemegang sahamnya tetap bertahan dengan opsi lain. Saham perusahaan itu menguat tipis, sementara Paramount Skydance justru melemah. Netflix ikut bergerak naik, meski hanya sedikit.

    Secara keseluruhan, penutupan perdagangan mencerminkan suasana pasar yang mulai berhitung ulang. S&P 500 turun 23,89 poin ke level 6.920,93. Dow Jones Industrial Average merosot 466 poin ke 48.996,08. Nasdaq Composite masih mampu naik 37,10 poin dan ditutup di 23.584,27.

    Guncangan tak hanya terjadi di pasar saham. Di pasar minyak, harga mentah ikut meluncur setelah Trump menyatakan Venezuela akan memasok tambahan 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat. Pernyataan itu langsung menekan harga karena pasar membaca potensi lonjakan pasokan. Minyak mentah acuan Amerika Serikat turun 2 persen ke USD55,99 per barel, sementara Brent sebagai patokan internasional melemah 1,2 persen dan ditutup di USD59,96 per barel.

    Tambahan pasokan dari Venezuela, jika benar-benar terealisasi, akan menambah tekanan pada harga minyak global. Sepanjang pekan ini, harga minyak memang berayun tajam sejak Trump mengambil langkah drastis terhadap Venezuela. Negara Amerika Latin itu diketahui menyimpan salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, meski infrastrukturnya telah lama menua.

    Harga minyak sejatinya sudah kembali ke level seperti pada 2021, bahkan sebelum langkah Trump terhadap Venezuela diumumkan. Pasar sejak awal memperkirakan pasokan global akan tetap melimpah. Namun menarik lebih banyak minyak dari ladang Venezuela bukan perkara mudah. Dibutuhkan investasi besar untuk memperbaiki infrastruktur yang sudah lama terbengkalai, sehingga tambahan pasokan tidak serta-merta mengalir cepat ke pasar.

    Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury bergerak fluktuatif menyusul rilis data ekonomi Amerika Serikat yang campur aduk. Salah satu laporan yang cukup berpengaruh menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor jasa, mencakup ritel dan jasa keuangan, melaju lebih cepat bulan lalu dibanding perkiraan ekonom. Laporan yang sama juga mencatat tekanan inflasi di sektor tersebut mereda ke level terendah sejak Maret.

    Meski begitu, pelaku usaha belum sepenuhnya merasa lega. Sejumlah eksekutif perusahaan masih mengeluhkan tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi. “Secara umum, bisnis berjalan datar,” ujar salah satu pelaku usaha di sektor pertanian, kehutanan, perikanan, dan perburuan dalam laporan Institute for Supply Management.

    “Merek dengan harga terjangkau masih mencatat permintaan lebih tinggi. Tapi merek premium kesulitan mempertahankan pangsa pasar,” imbuhnya.

    Sinyal perbaikan ini tetap disambut positif oleh pejabat bank sentral Amerika Serikat. Federal Reserve tengah berupaya menjaga pasar tenaga kerja tetap kokoh sembari menurunkan laju inflasi yang bandel bertahan di atas target 2 persen. Setiap tanda inflasi yang melunak memberi ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar, meski jalannya belum mulus.

    Data ketenagakerjaan yang dirilis terpisah pada hari yang sama juga memberi gambaran campuran. Satu laporan menunjukkan perusahaan mengurangi jumlah lowongan kerja yang dipasang, menandakan kehati-hatian. Namun laporan lain menyebutkan bahwa sektor swasta di luar pemerintah justru menambah sekitar 41.000 lapangan kerja bersih bulan lalu.

    Gambaran yang lebih utuh soal pasar tenaga kerja akan datang dari laporan resmi Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Data ini menjadi penentu penting bagi arah kebijakan bank sentral ke depan.

    Setelah rilis data ekonomi tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,14 persen dari 4,18 persen pada perdagangan sebelumnya. Sebaliknya, imbal hasil tenor dua tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, relatif stabil di kisaran 3,47 persen.

    Di Wall Street, harapan besar masih menggantung. Pelaku pasar berharap ekonomi Amerika Serikat cukup kuat untuk menghindari resesi, tetapi tidak terlalu panas hingga memaksa The Fed menahan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lama. Tahun lalu, bank sentral memangkas suku bunga acuannya tiga kali untuk menopang pasar kerja yang melambat. Namun sinyal terbaru menunjukkan ruang pemangkasan lanjutan semakin sempit karena inflasi belum sepenuhnya jinak.

    Ekspektasi pasar mencerminkan kehati-hatian itu. Pelaku pasar memperkirakan peluang kurang dari 12 persen bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan berikutnya akhir bulan ini. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya, berdasarkan data dari CME Group.

    Sementara itu, pasar saham global bergerak beragam. Di Eropa dan Asia, sejumlah indeks mencatatkan pergerakan tajam namun tidak seragam. Bursa London turun 0,7 persen, Hong Kong melemah 0,9 persen, dan Tokyo jatuh 1,1 persen. Sebaliknya, Seoul justru menguat 0,6 persen.

    Pergerakan yang terpencar ini mencerminkan satu hal. Pasar global tengah berada di fase waspada, menimbang ulang risiko kebijakan, arah ekonomi, dan langkah bank sentral. Euforia rekor masih ada di ingatan, tetapi kehati-hatian kini kembali memegang kendali.

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).