KABARBURSA.COM — Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Iran belum sepenuhnya mengguncang Wall Street. Di tengah harga energi yang melonjak tajam, bursa saham justru hanya terkoreksi tipis dari posisi tertingginya.
Harga minyak Brent untuk pengiriman Juni naik 7,3 persen ke USD119,34 per barel atau sekitar Rp2.016.846, bahkan sempat menyentuh USD119,76 atau Rp2.024.944. Secara mingguan, kenaikannya sudah melampaui 10 persen. Sementara kontrak Juli yang lebih aktif diperdagangkan naik 6,6 persen ke USD111,27 atau sekitar Rp1.880.463 per barel.
Kenaikan harga ini dipicu ketegangan geopolitik yang belum mereda. Pemerintah Amerika Serikat tetap melanjutkan blokade terhadap kapal Iran, sementara Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak global. Kondisi ini membuat pasokan tersendat dan harga terus terdorong naik.
Meski tekanan energi meningkat, pasar saham AS masih relatif stabil. Dilansir dari AP, Kamis, 30 April 2026, Indeks S&P 500 hanya turun 0,2 persen setelah sebelumnya terkoreksi dari rekor tertinggi akibat pelemahan saham teknologi berbasis kecerdasan buatan dan kekhawatiran kenaikan harga minyak. Dow Jones turun 335 poin atau 0,7 persen, sedangkan Nasdaq melemah 0,3 persen.
Di tengah situasi tersebut, beberapa perusahaan mulai merasakan dampak langsung dari konflik. Perusahaan perjalanan online Booking Holdings mengalami fluktuasi harga saham setelah mengakui bahwa perang Iran memengaruhi kinerja bisnisnya.
“Perang dengan Iran memengaruhi hasil kami dan membuat sebagian calon pelanggan menunda pemesanan kamar pada kuartal terakhir,” ungkap perusahaan tersebut.
Perusahaan yang membawahi Booking.com dan Priceline itu juga memperkirakan dampak konflik akan berlanjut hingga akhir Juni, tidak hanya di Timur Tengah tetapi juga jalur perjalanan utama antara Eropa dan Asia.
Namun, tidak semua emiten terdampak negatif. Visa melonjak 9 persen setelah mencatatkan kinerja di atas ekspektasi analis. CEO Visa Ryan McInerney menyebut konsumsi masyarakat tetap kuat sepanjang kuartal.
Starbucks juga naik 9,1 persen setelah melaporkan hasil yang lebih baik dari perkiraan, didorong oleh peningkatan belanja pelanggan di setiap kunjungan, terutama di pasar Amerika Utara.
Secara umum, mayoritas perusahaan masih mampu melampaui ekspektasi analis pada musim laporan keuangan kali ini. Hal ini menjadi penopang utama reli pasar saham, meski dihadapkan pada harga energi tinggi dan melemahnya kepercayaan konsumen akibat perang.
Namun, perusahaan yang gagal memenuhi ekspektasi justru mendapat tekanan signifikan. GE Healthcare turun 11,9 persen setelah kinerjanya di bawah proyeksi. Robinhood juga anjlok 14,1 persen karena pertumbuhan laba yang dinilai kurang kuat.
Di sisi lain, harga minyak yang kini jauh di atas level sebelum perang, yang sebelumnya sekitar USD70 per barel atau Rp1.183.000, menjadi faktor utama yang memengaruhi kebijakan moneter.
Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Harga energi yang tinggi dinilai berpotensi mendorong inflasi, sehingga ruang pelonggaran kebijakan menjadi terbatas.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,40 persen dari sebelumnya 4,36 persen, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi.
Di sisi lain, saham teknologi berbasis kecerdasan buatan masih menjadi sorotan. Pergerakan saham perusahaan besar seperti Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft dinantikan untuk melihat apakah investasi besar di sektor ini benar-benar menghasilkan keuntungan.
Kekhawatiran mulai muncul di kalangan investor bahwa belanja besar untuk chip dan pusat data berisiko membentuk gelembung jika tidak diiringi peningkatan produktivitas.
Sementara itu, saham Broadcom turun 0,5 persen setelah sebelumnya jatuh 4,4 persen, dan Nvidia melemah 1,7 persen. Di pasar global, indeks saham Eropa melemah, sementara pasar Asia menunjukkan penguatan, dengan indeks Hang Seng Hong Kong melonjak 1,7 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meski harga minyak melonjak tajam akibat konflik geopolitik, pasar keuangan global belum sepenuhnya bereaksi ekstrem. Namun, tekanan terhadap inflasi dan kebijakan suku bunga tetap menjadi risiko utama yang perlu diwaspadai investor.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.