KABARBURSA.COM – PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) resmi mengantongi restu pemegang saham untuk melaksanakan aksi korporasi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right issue.
Perseroan menargetkan penerbitan hingga 8,5 miliar saham baru guna memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi bisnis pangan terintegrasi.
Persetujuan tersebut diperoleh dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 21 Mei 2026.
Founder & CEO WMPP Tumiyono mengatakan aksi korporasi tersebut menjadi bagian strategi perseroan untuk memperkuat fundamental usaha di tengah prospek pertumbuhan sektor pangan nasional.
“Rights Issue merupakan inisiatif Perseroan sebagai langkah strategis dalam memperkuat struktur permodalan dalam rangka mendorong pertumbuhan berkelanjutan dengan meningkatkan kinerja operasional dan keuangan secara lebih efektif dan efisien,” ujar Tumiyono dalam keterangan resmi perusahaan dikutip, Sabtu, 23 Mei 2026.
Melalui tambahan modal tersebut, WMPP akan memfokuskan penggunaan dana untuk meningkatkan utilisasi fasilitas produksi. Perseroan menilai peningkatan kapasitas produksi dapat mendorong volume penjualan sekaligus memperbaiki arus kas dan profitabilitas usaha.
“Perseroan meyakini bahwa penguatan struktur permodalan melalui aksi korporasi ini akan menciptakan fleksibilitas keuangan dan memperkuat fundamental bisnis yang tercermin dari perbaikan arus kas dan profitabilitas Perseroan,” katanya.
WMPP melihat momentum right issue dilakukan di tengah prospek konsumsi protein nasional yang dinilai masih bertumbuh besar. Perseroan menyoroti potensi kenaikan daya beli masyarakat seiring proyeksi peningkatan PDB per kapita Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam dokumen perusahaan disebutkan PDB per kapita Indonesia diproyeksikan meningkat dari sekitar USD5.000 saat ini menjadi lebih dari USD10.000 pada 2030. Kondisi tersebut dinilai dapat mempercepat pertumbuhan konsumsi protein nasional.
WMPP juga mengutip data OECD-FAO yang menunjukkan konsumsi daging sapi dan ayam masyarakat Indonesia masih relatif rendah dibanding negara ASEAN lainnya.
Pada 2025, konsumsi daging sapi tercatat sekitar 1,69 kilogram per kapita, sedangkan konsumsi ayam mencapai 8,76 kilogram per kapita.
“Angka ini jauh lebih rendah dibanding negara tetangga di ASEAN, sehingga ruang tumbuhnya masih sangat luas,” ujar Tumiyono.
Selain itu, perseroan juga melihat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah dapat menjadi salah satu katalis pertumbuhan konsumsi protein dalam negeri.
Dengan tambahan modal baru dan strategi bisnis yang disebut lebih terarah, WMPP optimistis dapat mempercepat pertumbuhan usaha ke depan.
Widodo Makmur Perkasa sendiri merupakan perusahaan pangan terintegrasi yang bergerak dari hulu hingga hilir. Perseroan memiliki lima lini bisnis utama yang mencakup peternakan sapi terintegrasi, pengolahan daging modern, peternakan unggas, komoditas pertanian, hingga engineering services.
Perseroan juga menyatakan penggunaan energi baru terbarukan terus dikembangkan untuk mendukung industri pangan berkelanjutan.
Di sisi lain, program sosial perusahaan diarahkan untuk mendorong lahirnya petani muda yang dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan nasional.(*)