KABARBURSA.COM – PT Suparma Tbk (SPMA) berencana membagikan dividen saham yang berasal dari kapitalisasi saldo laba tahun buku 2025.
Emiten industri kertas dan packaging itu menyiapkan pembagian hingga 1,23 miliar saham baru dengan rasio 100 saham lama memperoleh 30 saham baru.
Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 Juni 2026 di Surabaya.
Dalam keterbukaan informasi yang diterbitkan 22 Mei 2026, manajemen SPMA menyebut nilai dividen saham yang akan dibagikan mencapai maksimal Rp492,03 miliar yang berasal dari kapitalisasi saldo laba belum dicadangkan.
Perseroan menjelaskan aksi korporasi tersebut dilakukan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus meningkatkan likuiditas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia.
“Tujuan pembagian Dividen Saham yaitu antara lain meningkatkan modal disetor agar memperkuat struktur permodalan Perseroan sehingga mempermudah memperoleh alternatif pendanaan untuk pengembangan usaha,” tulis manajemen SPMA dalam dokumen keterbukaan informasi, dikutip Sabtu, 23 Mei 2026.
Selain itu, perseroan juga menilai bertambahnya jumlah saham beredar secara teoritis dapat membuat harga saham lebih terjangkau bagi investor ritel.
Jika seluruh rencana dividen saham terealisasi, jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh SPMA diproyeksikan meningkat dari 4,10 miliar saham menjadi sekitar 5,33 miliar saham.
Struktur kepemilikan saham juga tetap didominasi kelompok pengendali. PT Pacific Star Synergy tercatat menggenggam 49,98 persen saham, disusul PT Gloriajaya Gempita sebesar 31,48 persen dan PT Graha Inti Harapan sebesar 10,68 persen. Sementara kepemilikan publik berada di kisaran 7,74 persen.
Dari sisi kinerja, SPMA mencatat penjualan bersih Rp2,74 triliun sepanjang 2025 atau naik tipis dibanding tahun sebelumnya Rp2,72 triliun. Laba tahun berjalan juga meningkat menjadi Rp106,23 miliar dari sebelumnya Rp104,83 miliar.
Total aset perseroan hingga akhir 2025 mencapai Rp3,66 triliun, naik dibanding posisi 2024 sebesar Rp3,39 triliun. Ekuitas perusahaan juga meningkat menjadi Rp2,48 triliun.
Namun, liabilitas jangka pendek perseroan naik menjadi Rp777,95 miliar dari sebelumnya Rp507,89 miliar. Kenaikan juga terlihat pada utang bank jangka pendek yang mencapai Rp372,85 miliar.
SPMA menyatakan pembagian dividen saham akan dilakukan menggunakan harga pasar saham pada penutupan satu hari sebelum RUPSLB.
Jika harga saham berada di bawah atau sama dengan nilai nominal Rp400 per saham, maka nilai pembagian tetap maksimal Rp492,03 miliar.
Adapun jadwal sementara mencakup recording date pada 10 Juli 2026, cum dividen pasar reguler pada 8 Juli 2026, hingga distribusi saham dividen pada 30 Juli 2026.
Suparma sendiri merupakan emiten industri pengolahan kertas yang berdiri sejak 1976 dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 1994.
Perseroan bergerak di bidang industri kertas kemasan, tissue, pengolahan limbah, hingga perdagangan besar produk berbasis kertas dan karton.
Saat ini jajaran direksi dipimpin Presiden Direktur Edward Sopanan dengan Presiden Komisaris Welly.(*)