KABARBURSA.COM – PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) memaparkan rencana divestasi aset tetap berupa tanah dan bangunan, di tengah penurunan penjualan sebesar 7,8 persen secara tahunan hingga September 2025.
Berdasarkan materi Public Expose ZATA juga mencakup kinerja operasional dan keuangan konsolidasian serta agenda aksi korporasi yang akan dimintakan persetujuan pemegang saham.
Manajemen ZATA menjelaskan bahwa rencana divestasi aset tersebut disiapkan sebagai bagian dari pengelolaan likuiditas dan kewajiban keuangan. Pemaparan dilakukan untuk memberikan keterbukaan atas kondisi kinerja berjalan, struktur keuangan konsolidasian, serta langkah korporasi yang direncanakan, termasuk mekanisme persetujuan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
“Penjualan hingga September 2025 tercatat turun 7,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama dipengaruhi kontraksi pada kanal penjualan kemitraan,” disampaikan manajemen dalam materi public expose, dikutip Jumat, 23 Januari 2026.
Dalam pemaparan tersebut, manajemen juga menyebutkan bahwa kanal offline store masih menjadi kontributor utama penjualan dengan porsi di atas 60 persen, sementara kanal online dan marketplace mencatatkan tren pertumbuhan positif.
“Terjadi pergeseran pola kemitraan dari agen stokis menjadi afiliasi online tanpa stok, yang berdampak pada penurunan volume pembelian grosir dalam jangka pendek,” tulis manajemen dalam dokumen pemaparan.
Dari sisi operasional, hingga September 2025 ZATA mengoperasikan 106 toko, terdiri atas 51 own store, 48 license store, dan 7 join operation, relatif stabil dibandingkan 105 toko pada periode yang sama tahun sebelumnya. Jaringan toko tersebar di 15 provinsi, dengan konsentrasi terbesar berada di Jawa Barat sebanyak 30 toko, Jawa Tengah 28 toko, dan Jawa Timur 22 toko.
Kinerja penjualan mencatat 536.684 transaksi, tumbuh 1,28 persen secara tahunan. Jumlah pengunjung tercatat 461.233, turun 4,17 persen, sementara average transaction value berada di Rp299.105, turun 1,67 persen. Units per transaction tercatat 3,80, turun 10,56 persen, sedangkan sales conversion rate meningkat menjadi 116,36 persen dari 110,11 persen pada periode sebelumnya.
Pada kinerja keuangan konsolidasian hingga September 2025, ZATA membukukan penjualan Rp158,09 miliar, turun dari Rp171,43 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba kotor tercatat Rp66,67 miliar, turun dari Rp77,11 miliar, dengan laba bersih tahun berjalan Rp1,93 miliar, dibandingkan Rp2,29 miliar pada periode sebelumnya. Laba per saham tercatat Rp0,23.
Manajemen juga mencatat telah melakukan efisiensi beban usaha sebesar 8,6 persen menjadi Rp59,85 miliar dari Rp65,46 miliar. Langkah tersebut dilakukan seiring tekanan penjualan untuk menjaga pencatatan laba bersih tetap positif.
Dari sisi neraca, aset total tercatat Rp682,94 miliar, turun 1,1 persen secara tahunan. Liabilitas jangka pendek menurun 11,5 persen menjadi Rp68,42 miliar, sementara liabilitas total tercatat Rp157,25 miliar, turun 5,4 persen. Ekuitas tercatat Rp525,69 miliar, naik 0,3 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Dalam agenda rencana aksi korporasi, manajemen memaparkan rencana penjualan aset tetap berupa tanah dan bangunan dengan harga di bawah nilai pasar wajar. Manajemen menyampaikan bahwa prioritas transaksi tersebut adalah percepatan realisasi kas untuk menurunkan kewajiban finansial, meskipun transaksi berpotensi menimbulkan kerugian akuntansi.
Manajemen juga menyampaikan bahwa meskipun nilai transaksi tidak masuk kategori transaksi material dan tidak mengandung benturan kepentingan, persetujuan pemegang saham tetap akan dimintakan melalui RUPSLB sebagai bagian dari penerapan tata kelola dan transparansi. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.