Logo
>

Adopsi Mobil Listrik RI Belum Mulus, ini Penyebabnya

KABARBURSA.COM - pergeseran preferensi menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia belum sepenuhnya berjalan mulus. Di balik pertumbuhan penjualan dan meningkatnya minat konsumen, terdapat sejumlah tantangan struktural yang masih membatasi

Ditulis oleh Harun Rasyid
Adopsi Mobil Listrik RI Belum Mulus, ini Penyebabnya
Ilustrasi adopsi kendaraan listrik yang terkendala. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - pergeseran preferensi menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia belum sepenuhnya berjalan mulus. Di balik pertumbuhan penjualan dan meningkatnya minat konsumen, terdapat sejumlah tantangan struktural yang masih membatasi adopsi secara lebih luas di pasar domestik.

Salah satu hambatan utama terletak pada kesiapan infrastruktur pengisian daya. Data PT PLN (Persero) menunjukkan jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) mencapai 4.655 unit pada 2025 dan meningkat menjadi 4.769 unit pada 2026 yang tersebar di lebih dari 3.000 lokasi.

Meski mengalami pertumbuhan, persebaran infrastruktur tersebut belum merata, terutama di luar wilayah perkotaan dan koridor utama.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengakui, ketersediaan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah dalam pengembangan kendaraan listrik.

“Infrastruktur harus diakui belum merata. Ini menjadi salah satu tantangan dalam mendorong penggunaan kendaraan listrik ke depan,” kata Kukuh kepada KabarBursa.com, beberapa waktu lalu.

Selain infrastruktur, faktor daya beli masyarakat juga menjadi penahan utama adopsi. Struktur pasar otomotif nasional masih didominasi oleh segmen harga menengah ke bawah.

Kukuh menyebut sekitar 70 persen konsumen membeli kendaraan di bawah Rp300 juta, sementara sebagian besar kendaraan listrik masih berada di atas kisaran tersebut.

Kondisi ini membuat peralihan ke kendaraan listrik tidak terjadi secara otomatis, meskipun biaya operasionalnya relatif lebih rendah. Konsumen tetap mempertimbangkan harga awal sebagai faktor utama dalam keputusan pembelian.

Sementara itu, pengamat otomotif Bebin Djuana menilai, selain harga, ketidakpastian terkait ekosistem kendaraan listrik juga menjadi faktor yang membuat konsumen masih menahan diri.

“Sekarang ini belum ada gambaran jelas, kendaraan listrik yang dibeli hari ini nilainya berapa tiga sampai lima tahun ke depan. Ini berbeda dengan mobil konvensional yang sudah terbentuk pasar sekundernya,” kata Bebin saat dihubungi KabarBursa.com.

Ia menambahkan, kekhawatiran tidak hanya berasal dari sisi nilai jual kembali, tetapi juga dari aspek ketersediaan infrastruktur dan dukungan layanan.

“Kalau masyarakat merasa belum yakin dengan ketersediaan pengisian daya atau layanan purna jual, tentu mereka akan berpikir ulang untuk beralih,” ujarnya.

Di sisi lain, percepatan adopsi kendaraan listrik juga menghadapi tantangan dari sisi industri. Bebin menilai, pengembangan EV membutuhkan kesiapan ekosistem yang lebih luas, mulai dari investasi, sumber daya manusia, hingga jaringan layanan pendukung di berbagai daerah.

“Kita ini negara besar, kendaraan akan tersebar ke mana-mana. Tapi siapa yang merawat? Ini butuh kesiapan tenaga kerja dan ekosistem yang tidak kecil,” kata dia.

Sejumlah pelaku industri juga menghadapi tantangan dalam memastikan keberlanjutan investasi dan produksi dalam negeri.

Gangguan terhadap investasi serta kebutuhan peningkatan keterampilan tenaga kerja dinilai menjadi faktor yang perlu segera diatasi agar industri kendaraan listrik dapat berkembang secara optimal.

Di tingkat kebijakan, pemerintah juga menempatkan pengembangan kendaraan listrik tidak hanya sebagai respons terhadap tren pasar, tetapi sebagai bagian dari strategi industrialisasi jangka panjang.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menekankan pentingnya peningkatan kandungan lokal dan penguatan basis produksi dalam negeri melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan pengendalian impor kendaraan utuh.

Dalam Laporan Kinerja (LAKIP) IMATAP 2025, porsi produksi kendaraan listrik roda empat tercatat mencapai 2,09 persen dari total produksi nasional, melampaui target yang ditetapkan sebesar 1,00 persen.

Kemenperin menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pengembangan kendaraan listrik mulai terintegrasi dalam sistem produksi industri otomotif nasional.

“Kenaikan produksi kendaraan listrik menunjukkan transisi menuju industri kendaraan listrik,” tulis Kemenperin dalam dokumen resminya.

Namun demikian, pendekatan kebijakan yang berfokus pada penguatan industri domestik tersebut juga membawa implikasi terhadap percepatan pasar.

Upaya mendorong produksi lokal dan peningkatan kandungan dalam negeri dinilai dapat membuat penetrasi kendaraan listrik berjalan lebih bertahap dalam jangka pendek.

Dengan demikian, meskipun tren kendaraan listrik menunjukkan arah yang semakin menguat, adopsi secara luas masih menghadapi berbagai tantangan yang bersifat struktural.

Pergeseran preferensi konsumen memang mulai terbentuk, namun realisasi menuju pasar yang sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik masih memerlukan waktu serta dukungan ekosistem yang lebih matang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.