KABARBURSA.COM - Saham PT Bank Central Asia Tbk atau BCA (BBCA) sedang mengalami fase penurunan. Kondisi ini tidak lepas dari tekanan jual yang membayangi.
BRI Danareksa Sekuritas menyampaikan, secara teknikal, saham BBCA masih berada dalam tren bearish setelah mengonfirmasi pola Head & Shoulders pada grafik mingguan.
"Tekanan jual masih dominan, terlihat dari peningkatan volume saat harga turun dan MACD yang masih bergerak negatif," tulis BRI Danareksa dalam risetnya kemarin, dikutip pada Sabtu, 6 Juni 2026.
BRI Danareksa mencatat, net foreign sell di di saham BBCA sepanjang year to date (ytd) mencapai Rp31,34 triliun. Menurut mereka, hal ini menunjukkan arus keluar dana asing masih berlanjut.
Lebih lanjut BRI Danareksa mencatat, harga BBCA saat ini mendekati support kuat 4.775–4.100, yang berpotensi menjadi area pembentukan support.
"Selama belum mampu kembali ke atas 5.700–6.000, tren turun masih mendominasi," tulis BRI Danareksa.
Saham BBCA tengah menghadapi tekanan jual yang cukup besar sepanjang 2026. Berdasarkan data perdagangan Stockbit, saham perbankan ini menurun hingga 37,15 persen secara year to date (ytd) ke level 5.075.
Bahkan dalam periode satu tahun terakhir, saham emiten bank swasta ternama di Indonesia ini juga melemah hingga 43,14 persen.
Adapun pada perdagangan terakhir pekan ini atau Jumat, 5 Juni 2026, saham BBCA tergelincir 6,45 persen. Pelemahan berlanjut dalam sepekan dengan penurunan mencapai 10,96 persen dan 14,71 persen dalam sebulan terakhir.
Jika ditarik lebih panjang, koreksi BBCA mencapai 28,52 persen dalam tiga bulan dan 38,86 persen dalam enak bulan terakhir.
Sementara dalam rentang tiga tahun, BBCA telah turun 44,84 persen. Sedangkan dalam periode lima tahun, saham ini koreksi 22,87 persen.
Meski demikian dalam prespektif jangka panjang, BBCA masih membukukan kinerja positif. Dalam 10 tahun terakhir, saham ini tercatat menghasilkan kenaikan 93,33 persen. (*)