KABARBURSA.COM – Teknologi baterai untuk kendaraan listrik terus berkembang. Kali ini terdapat baterai ion lithium berbasis material aluminium.
Mengutip CarNewsChina, tim peneliti dari Chinese Academy of Sciences (CAS) tengah menguji baterai ion lithium aluminium di suhu rendah yang ekstrem di Provinsi Heilongjiang, China.
Hasilnya, baterai tersebut mampu mempertahankan efisiensi pengosongan di atas 92 persen pada suhu –25 derajat Celsius saat dites di kondisi berkendara perkotaan.
Uji lapangan baterai ion lithium (Li-Ion) aluminium tersebut, jadi yang pertama di dunia untuk baterai aluminium suhu lebar yang dipasang langsung pada kendaraan listrik (EV) produksi massal.
Selain performa berkendara, pengujian baterai Li-Ion aluminium juga mencakup kemampuan pengisian cepat pada kondisi suhu rendah.
Dalam kondisi di bawah nol derajat, baterai mampu mencapai tingkat pengisian hingga 90 persen hanya dalam waktu sekitar 20 menit.
Diketahui, baterai ini menggunakan anoda berbasis aluminium yang dimodifikasi. Tujuannya untuk meningkatkan mobilitas ion serta menjaga kepadatan energi (density) pada suhu rendah.
Kemudian data laboratorium menunjukkan, stabilitas tegangan dan laju pengosongan yang konsisten terjadi dalam siklus berulang. Rentang suhu yang tercatat saat beroperasi mencapai dari –70 hingga 80 derajat Celsius.
Selama pengujian, sistem manajemen termal baterai juga berhasil membuang panas secara efektif saat pengisian daya di bawah nol derajat.
Lebih lanjut, pengujian baterai Li-Ion aluminium ini dipasang pada mobil listrik Geely EX5 yang dipasarkan secara global.
Model tersebut telah dijual di sejumlah pasar luar negeri, termasuk Inggris, Indonesia dan Australia, sehingga menjadi platform nyata untuk evaluasi teknologi baterai cuaca dingin.
Pengujian di Heilongjiang tersebut, dilakukan setelah kendaraan didinginkan selama 24 jam pada suhu –25 derajat Celsius. Dalam simulasi berkendara kota, baterai tetap menunjukkan efisiensi tinggi dan respons pengisian cepat. Sehingga memperkuat potensi penerapan di wilayah beriklim ekstrem.
Sebagai informasi, baterai Li-Ion konvensional tercatat mengalami penurunan kapasitas signifikan pada suhu di bawah –20 derajat Celsius.
Oleh sebab itu, pengembangan baterai berbasis aluminium, dan jenis lain seperti ion natrium, hingga solid-state menjadi fokus riset global untuk meningkatkan keandalan EV di iklim dingin.
Selain sektor otomotif, baterai aluminium juga mulai dilirik untuk aplikasi penyimpanan energi dalam jaringan pintar.(*)