KABARBURSA.COM – Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai, gelaran Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) tidak merata. Menurutnya, pengaruh pameran tahunan ini hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sementara di sisi lain, permintaan produk otomotif masih terganjal daya beli akibat pelemahan ekonomi.
"Sementara tekanan inflasi dan pergeseran belanja negara saat ini juga tampak masih akan membatasi daya beli nasional. Karena itu, keberlanjutan industri otomotif 2026 tidak cukup bertumpu pada euforia pameran domestik," kata Yannes kepada KabarBursa.com, Senin, 17 Februari 2026.
Akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menyarankan agar industri otomotif lebih agresif dalam menumbuhkan pasar ekspor kendaraan dalam negeri.
"Industri yang ada perlu mengandalkan ekspor sebagai penyeimbang utilitas pabrik mereka, terutama ketika pasar lokal masih sensitif terhadap belum menguatnya daya beli middle income class, kebijakan fiskal yang berubah-ubah, fluktuasi rupiah terhadal USD yang membuat harga mobil naik, dan gangguan supply chain global akibat ketegangan geopolitik yang masih terus berlangsung saat ini," kata Yannes.
Sebagai informasi, IIMS 2025 yang berlangsung 13 sampai 23 Februari 2025 mampu membukukan nilai transaksi sebanyak Rp8 triliun, tumbuh 19 persen dibanding tahun sebelumnya.
Selama pameran, penjualan kendaraan yang tercatat dalam SPK IIMS 2025 tercatat sebanyak 22.322 unit. Sementara jumlah pengunjungnya mencapai 579.377 unit atau naik 3 persen dibanding IIMS tahun sebelumnya.(*)