KABARBURSA.COM – Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL) menetapkan ambang batas produksi sebesar 1 juta kendaraan sebelum baterai solid-state dapat dikomersialisasikan dalam skala besar.
Melansir CarNewsChina, volume industri tersebut diproyeksikan belum akan tercapai sebelum 2030, sehingga industri kendaraan listrik masih bergantung pada teknologi baterai konvensional dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam wawancara eksklusif dengan Caijing Magazine, Ketua CATL Dr. Robin Zeng menjelaskan bahwa produksi massal baterai solid-state masih menghadapi sejumlah kendala manufaktur. Menurut perusahaan, skala ekonomi baru dapat tercapai ketika volume industri mencapai 1 juta kendaraan.
Kondisi tersebut membuat produsen baterai dan kendaraan listrik masih mengandalkan teknologi elektrolit cair yang saat ini mendominasi pasar. Data China EV DataTracker menunjukkan kapasitas baterai terpasang mencapai 33,08 GWh pada Mei 2026, meningkat dari 29,06 GWh pada April 2026.
CATL mengungkapkan bahwa teknologi baterai solid-state saat ini masih berada pada level empat dalam skala Kesiapan Teknologi (Technology Readiness Level) yang terdiri dari sembilan tingkat. Posisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan teknologi masih berada pada tahap validasi laboratorium dan rekayasa prototipe.
Salah satu hambatan utama berasal dari lapisan antarmuka padat-padat yang digunakan dalam konstruksi baterai. Untuk merekatkan komponen tersebut, para insinyur menggunakan metode penekanan isostatik hangat dengan tekanan mencapai 6.000 atmosfer.
Namun, material yang memiliki tingkat kepadatan pemadatan berbeda dapat mengalami ketidaksesuaian struktural ketika berada di bawah tekanan tinggi.
Kondisi ini meningkatkan resistansi internal sekaligus mempercepat degradasi sel aktif, sehingga menjadi kendala bagi penerapan teknologi tersebut pada kendaraan dengan volume produksi besar.
Di tengah tantangan tersebut, industri masih mengandalkan baterai berbasis elektrolit cair untuk memenuhi permintaan pasar. Pada Mei 2026, baterai litium besi fosfat (LFP) menyumbang 23,12 GWh dari total volume instalasi, sedangkan baterai litium terner mencapai 9,96 GWh.
Sebagai perbandingan, volume instalasi baterai LFP pada April 2026 tercatat 19,53 GWh dan baterai terner 9,53 GWh. Pada Maret 2026, angka tersebut masing-masing mencapai 18,11 GWh dan 7,60 GWh.
Sebelumnya, pada Februari 2026, volume instalasi turun menjadi 9,10 GWh untuk baterai LFP dan 3,84 GWh untuk baterai terner, setelah pada Januari 2026 tercatat sebesar 13,26 GWh.
Selain mempertahankan produksi baterai konvensional, para pemasok juga mulai mengembangkan alternatif lain untuk mengurangi ketergantungan rantai pasok. Salah satunya adalah baterai sodium-ion yang dirancang untuk memiliki umur siklus lebih panjang.
Di sisi lain, pengembangan baterai solid-state tetap berlanjut melalui berbagai pendekatan teknologi. CATL memfokuskan investasi pada penelitian elektrolit sulfida, sementara Dongfeng Motor mengembangkan baterai komposit berbasis oksida-polimer yang ditargetkan mulai digunakan pada paruh kedua 2026.
Baterai yang dikembangkan Dongfeng tersebut memiliki kepadatan energi 350 Wh/kg dan diklaim mampu mendukung jarak tempuh lebih dari 1.000 kilometer dalam sekali pengisian daya. Struktur baterainya juga disebut dapat mengurangi bobot paket hingga 30 persen dibandingkan baterai lithium cair konvensional.
Pengujian pada suhu ekstrem menunjukkan baterai komposit tersebut mampu meningkatkan performa suhu rendah lebih dari 10 persen. Dalam pengujian musim dingin pada suhu -30 derajat Celsius di Mohe, kendaraan uji Dongfeng eπ mempertahankan lebih dari 74 persen kapasitas nominalnya.
Sementara itu, sektor kedirgantaraan juga mulai menguji penggunaan baterai solid-state. Ehang mengintegrasikan baterai lithium-metal solid-state berkepadatan energi 480 Wh/kg yang dipasok Shenzhen Neox untuk mendukung penerbangan kendaraan tanpa awak melintasi Selat Qiongzhou.
Meski berbagai pengembangan terus berlangsung, CATL menyatakan platform baterai cair masih menjadi penopang utama industri.
Perusahaan menilai keseimbangan antara pengembangan teknologi baru dan penelitian sulfida jangka panjang perlu dijaga, mengingat investasi yang dibutuhkan mencapai 10 miliar yuan atau sekitar 1,476 miliar dolar AS.(*)