KABARBURSA.COM – Industri otomotif China mengembangkan teknologi kendaraan listrik baterai (EV) dan hidrogen secara paralel.
Pendekatan ini terlihat dari strategi Changan melalui sub-brand Deepal, yang tetap melanjutkan pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai bersamaan dengan eksplorasi teknologi sel bahan bakar hidrogen.
Melansir CarNewsChina, Manajer Umum Pengembangan Produk Global Deepal, Yu Cheng, menyampaikan bahwa sistem sel bahan bakar generasi pertama perusahaan telah dikomersialkan dan digunakan pada varian hidrogen Deepal SL03.
Langkah ini menempatkan Changan sebagai salah satu produsen otomotif China yang mulai menguji teknologi hidrogen pada kendaraan penumpang.
Namun, pengembangan hidrogen tidak berdiri sendiri. Perusahaan menegaskan bahwa teknologi ini berjalan seiring dengan program kendaraan listrik baterai, bukan untuk menggantikannya.
Changan juga tengah mengembangkan sistem sel bahan bakar generasi kedua dengan fokus pada peningkatan efisiensi dan penurunan biaya. Upaya ini menunjukkan bahwa hidrogen diposisikan sebagai opsi tambahan dalam portofolio teknologi, bukan sebagai satu-satunya arah.
Di tingkat industri, pola yang sama terlihat lebih luas. Pengembangan kendaraan hidrogen di China masih terkonsentrasi pada segmen komersial seperti truk dan bus.
Kedua kendaraan komersial itu dinilai cocok dengan karakteristik hidrogen karena kebutuhan pengisian bahan bakar yang terpusat dan rute operasional yang lebih terprediksi.
Sementara itu, pada segmen kendaraan penumpang, adopsi teknologi hidrogen masih terbatas. Faktor biaya sistem yang tinggi dan keterbatasan infrastruktur pengisian menjadi kendala utama yang menahan penetrasi di pasar massal.
Pengguna Kendaraan Hidrogen Sedikit
Data industri menunjukkan bahwa skala penggunaan kendaraan hidrogen masih relatif kecil dibandingkan kendaraan listrik baterai. Armada kendaraan sel bahan bakar di China tercatat sekitar 30.000 unit, dengan tingkat lokalisasi komponen inti mencapai sekitar 70 persen.
Beberapa produsen otomotif juga mulai mengembangkan pendekatan serupa dengan menggabungkan berbagai teknologi. Dalam sejumlah proyek, hidrogen dihadirkan sebagai opsi tambahan di samping sistem hibrida dan kendaraan listrik murni.
Di sisi kebijakan, pemerintah China tetap mendorong pengembangan hidrogen melalui berbagai program percontohan dan dukungan industri. Namun, arah tersebut tidak menggantikan posisi kendaraan listrik baterai yang masih menjadi jalur utama dalam transformasi industri otomotif nasional.
Dengan kondisi tersebut, strategi paralel antara EV dan hidrogen mencerminkan pendekatan industri yang menjaga fleksibilitas teknologi, di mana masing-masing solusi dikembangkan sesuai dengan segmen dan kebutuhan penggunaan yang berbeda.(*)