KABARBURSA.COM - Penjualan mobil listrik sepanjang Mei 2026 turun cukup signifikan sebesar 37,34 persen dibanding bulan sebelumnya.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil listrik bulan lalu secara wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer, tercatat mencapai 9.290 unit. Sementara pada April 2026 bisa sebanyak 14.825 unit.
Meski demikian, penjualan mobil listrik nasional periode Mei 2026 masih lebih baik dibanding bulan yang sama tahun lalu. Penjualan BEV pada Mei 2025 secara wholesales berdasarkan data Gaikindo, tercatat sebanyak 6.336 unit.
Penurunan penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) roda empat di Tanah Air dapat dipengaruhi pertimbangan konsumen. Salah satunya bagi pembeli yang menunggu kepastian insentif kendaraan listrik tahun 2026.
"Tanpa insentif PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) atau subsidi, adopsi BEV akan lebih lambat dan terbatas pada segmen middle-upper class yang sudah lebih aware dan siap secara finansial," ujar Pengamat Otomotif, Yannes Martinus Pasaribu saat dihubungi KabarBursa.com, belum lama ini.
Adapun insentif kendaraan listrik 2026 rencananya berlaku untuk 100 ribu unit mobil listrik dan 100 ribu unit motor listrik. Insentif ini sempat ditunda pemerintah hingga Juli 2026.
Rencananya pemerintah akan mengusung skema keringanan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) mulai dari 40 hingga 100 persen tergantung jenis baterai yang digunakan mobil listrik.
Sedangkan untuk motor listrik, akan dikenakan insentif Rp5 juta per unit. Lebih lanjut, Yannes juga menyoroti potensi koreksi penjualan kendaraan baru di Indonesia.
Hal ini sebagai imbas kenaikan biaya operasional dari pembelian bahan bakar nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green yang melambung sekitar 32 persen. Selain itu harga suku cadang dan oli juga mengalami kenaikan sekitar 20 sampai 30 persen akibat fluktuasi harga minyak dunia yang dipengaruhi ketegangan di Selat Hormuz sampai perang Iran dan Israel-AS.
Data Gaikindo juga sudah menunjukkan terjadinya penurunan, penjualan. Untuk penjualan (wholesales) mobil baru pada Mei 2026 membukukan 69.219 unit atau turun 14,3 persen dibanding bulan sebelumnya yang bisa meraih 80.779 unit.
"Kenaikan harga parts akibat gabungan kurs USD yang meledak dan kenaikan harga minyak dunia dan oli, tentunya tidak membuat penjualan serta merta anjlok. Tetapi risiko penurunan signifikan tetap ada. Kenaikan harga parts, ban, dan oli mesin yang sering terkait fluktuasi minyak dunia tentunya akan semakin menambah beban kepemilikan kendaraan secara keseluruhan," jelas Yannes.
Menurutnya, kombinasi ini membuat Total Cost of Ownership (TCO) kendaraan khususnya yang bermesin konvensional akan semakin tinggi.
"Sehingga konsumen lebih berhati-hati atau bahkan menunda pembelian kendaraan baru. Sales tentunya berpotensi stagnan atau turun moderat, terutama di segmen buyers menengah," pungkas Yannes. (*)