KABARBURSA.COM – Perubahan perilaku generasi muda dinilai mulai mengubah peta persaingan industri otomotif Indonesia. Jika generasi sebelumnya menjadikan mobil sebagai simbol status sekaligus aset jangka panjang, konsumen muda saat ini lebih memandang kendaraan sebagai alat mobilitas yang harus efisien dan memberikan nilai terbaik.
Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan generasi milenial dan Gen Z kini semakin rasional dalam mengambil keputusan pembelian kendaraan.
"Perubahan perilaku konsumen generasi muda saat ini adalah mulai tidak lagi memandang mobil murni sebagai aset investasi, melainkan alat mobilitas yang harus efisien secara operasional harian mereka," kata Yannes kepada KabarBursa.com, Senin, 22 Juni 2026.
Menurut dia, perubahan cara pandang tersebut membuat konsumen muda tidak lagi terlalu terikat pada merek tertentu seperti generasi sebelumnya. Mereka cenderung membandingkan fitur, teknologi, biaya operasional, hingga harga sebelum memutuskan membeli kendaraan.
Yannes menilai kelompok konsumen baru ini sangat terbuka terhadap merek-merek pendatang selama menawarkan nilai yang dianggap sepadan dengan uang yang dikeluarkan.
"Mereka sangat terbuka pada brand baru asalkan memberikan value for money yang absolut, seperti fitur pintar, teknologi terbaru, dan desain futuristik," ujarnya.
Fenomena tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa merek-merek baru, terutama dari China, mampu mencuri perhatian pasar dalam beberapa tahun terakhir. Selain menawarkan teknologi elektrifikasi, sejumlah produsen juga menghadirkan fitur yang sebelumnya hanya tersedia pada kendaraan dengan harga lebih tinggi.
Di sisi lain, Yannes melihat sebagian pemain lama masih mengandalkan kekuatan nama besar merek dan jaringan layanan purna jual yang luas untuk mempertahankan pangsa pasar.
"Pelaku industri lama masih bersikeras menjual mobil minim fitur dengan mengandalkan warisan brand image dan jaringan 3S (sales, service, sparepart) saja," katanya.
Menurut dia, strategi tersebut berpotensi kehilangan daya tarik di tengah perubahan karakter konsumen yang semakin kritis dan mudah mengakses informasi.
"Nah, business model ini akan terus kehilangan traksi pada demografi konsumen baru yang semakin melek informasi dan rasional ini," kata Yannes.
Perubahan preferensi tersebut terjadi di tengah tekanan daya beli yang masih membayangi pasar otomotif nasional. Dalam kondisi ekonomi yang lebih menantang, konsumen cenderung semakin selektif dalam menentukan kendaraan yang akan dibeli.
Karena itu, produsen tidak lagi cukup hanya mengandalkan reputasi merek yang telah dibangun selama puluhan tahun. Persaingan kini semakin ditentukan oleh kemampuan menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen modern, baik dari sisi teknologi, efisiensi, maupun harga yang kompetitif.
Bagi industri otomotif nasional, perubahan perilaku generasi muda tersebut menjadi sinyal bahwa pola konsumsi kendaraan sedang mengalami transformasi. Loyalitas terhadap merek perlahan bergeser menjadi pertimbangan rasional berbasis manfaat dan biaya, sebuah tren yang diperkirakan akan semakin kuat dalam beberapa tahun mendatang.(*)