KABARBURSA.COM – Raksasa baterai China, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), mulai memperluas pertaruhannya di luar pasar kendaraan listrik.
Perusahaan tersebut resmi meluncurkan sistem penyimpanan energi berbasis baterai ion natrium Tener di Munich, Jerman, pada 22 Juni 2026, sebagai bagian dari upaya merebut pasar penyimpanan energi global yang nilainya diperkirakan mencapai triliunan dolar dalam beberapa dekade mendatang.
Berbeda dengan fokus industri yang selama ini tertuju pada kendaraan listrik, produk terbaru CATL menyasar sektor penyimpanan energi skala besar atau energy storage system (ESS), yang menjadi komponen penting dalam pengembangan pembangkit energi surya, energi angin, hingga pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).
CATL mengklaim sistem Tener mampu beroperasi selama 25 hingga 30 tahun dengan umur siklus mencapai 15.000 kali pengisian dan pengosongan pada suhu 25 derajat Celsius. Kinerja tersebut diklaim mampu mempertahankan kondisi kesehatan baterai (State of Health atau SOH) sebesar 70 persen pada akhir masa pakainya.
Persaingan di industri penyimpanan energi saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh kapasitas baterai, tetapi juga biaya operasional selama umur proyek.
CATL mengklaim teknologi natrium yang digunakan pada Tener mampu memangkas konsumsi energi internal sistem menjadi sekitar 1 persen, lebih rendah dibanding rata-rata industri yang berada di kisaran 2 persen.
Perusahaan juga menyebut sistem tersebut dapat mempertahankan lebih dari 92 persen kapasitas baterai pada suhu minus 20 derajat Celsius dan tetap mendukung lebih dari 10.000 siklus operasi pada suhu 45 derajat Celsius tanpa memerlukan pendinginan tambahan.
Kemampuan tersebut dinilai penting bagi operator pembangkit energi dan pengelola infrastruktur listrik yang mengutamakan efisiensi biaya selama puluhan tahun masa operasi.
Bukan Sekadar Alternatif Lithium
Peluncuran Tener juga menandai langkah serius CATL dalam mengembangkan teknologi natrium sebagai pelengkap baterai berbasis lithium.
Selama ini, industri penyimpanan energi global masih didominasi teknologi lithium-ion. Namun natrium mulai menarik perhatian karena bahan bakunya lebih melimpah dan berpotensi menekan biaya produksi dalam jangka panjang.
CATL menyatakan telah membangun rantai pasok lengkap untuk baterai natrium, termasuk kemampuan produksi massal material katoda dan anoda.
Untuk mendukung komersialisasi, perusahaan tengah memperluas kapasitas produksi hingga 40 gigawatt hour (GWh) di Fuding dan menyiapkan tambahan kapasitas sebesar 160 GWh di Jining.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa CATL tidak lagi memposisikan baterai natrium sebagai proyek riset, melainkan sebagai bisnis yang siap diproduksi dalam skala industri.
Bidik Ledakan Permintaan Penyimpanan Energi
Permintaan penyimpanan energi diperkirakan meningkat pesat dalam beberapa tahun mendatang seiring percepatan pembangunan energi terbarukan di berbagai negara.
Pembangkit listrik tenaga surya dan angin membutuhkan sistem penyimpanan untuk menjaga stabilitas pasokan listrik ketika produksi energi berfluktuasi.
Selain itu, pertumbuhan pusat data AI yang membutuhkan pasokan listrik stabil juga mendorong kebutuhan terhadap sistem penyimpanan energi berkapasitas besar.
CATL mengklaim sistem Tener memiliki kapasitas lebih dari 30 MWh per unit dan dapat digunakan untuk membangun fasilitas penyimpanan energi berkapasitas 1 GWh hanya dengan 34 modul.
Perusahaan juga melengkapi sistem tersebut dengan teknologi pemulihan otomatis yang mampu mengisolasi gangguan dan memulihkan pasokan listrik ke area yang tidak terdampak dalam waktu sekitar 350 milidetik.
Pengiriman Dimulai Tahun ini
CATL menargetkan pengiriman perdana sistem Tener di pasar domestik China dimulai pada September 2026.
Perusahaan membidik total pengiriman mencapai 1 GWh hingga akhir tahun sebelum memperluas pemasaran ke pasar internasional pada 2027.
Bagi industri energi global, peluncuran Tener menunjukkan persaingan tidak lagi hanya terjadi pada kendaraan listrik. Produsen baterai kini berlomba menguasai pasar penyimpanan energi yang diperkirakan menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat dalam transisi energi dunia.
Jika teknologi natrium berhasil membuktikan keunggulan biaya dan umur pakainya, peta persaingan industri penyimpanan energi global berpotensi berubah dalam beberapa tahun mendatang.(*)