KABARBURSA.COM - Di tengah tekanan daya beli yang belum sepenuhnya pulih, kinerja PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) justru menunjukkan ekspansi yang tetap berjalan. Perusahaan mencatat pendapatan sebesar Rp76,6 triliun pada 2025.
Angka ini tumbuh sebesar 17,35 persen secara tahunan, dengan laba yang tetap terjaga di tengah dinamika konsumsi domestik.
Konsensus analis untuk periode 2025 mencatat proyeksi pendapatan di kisaran Rp76,607 triliun, dengan laba bersih sekitar Rp1,196 triliun dan EPS sebesar 74,98. Angka ini kemudian diproyeksikan meningkat pada 2026 dengan pendapatan Rp77,781 triliun.
Begitu pula dengan laba bersih yang diproyeksikan naik Rp1,311 triliun, serta EPS naik ke 82,14. Dan berlanjut ke 2027 dengan estimasi pendapatan Rp84,768 triliun serta laba bersih Rp1,522 triliun.
Di sisi profitabilitas operasional, proyeksi laba operasi menunjukkan dinamika yang lebih moderat. Pada 2025, laba operasi diperkirakan mencapai Rp2,435 triliun, kemudian turun ke Rp2,108 triliun pada 2026 sebelum kembali naik ke Rp2,406 triliun pada 2027.
Pergerakan ini mencerminkan adanya fase penyesuaian di tengah ekspansi bisnis yang masih berjalan.
Strategi Bisnis Erajaya
Dalam konteks strategi, manajemen ERAA menempatkan segmen menengah ke atas sebagai fondasi utama. Segmen ini disebut relatif lebih stabil dalam menghadapi tekanan ekonomi, sehingga mampu menjaga permintaan tetap terjaga.
Pada saat yang sama, bisnis inti smartphone dan ekosistemnya tetap menjadi kontributor utama, seiring posisinya yang semakin terintegrasi dalam kebutuhan sehari-hari.
Penguatan strategi juga dilakukan melalui pendekatan omnichannel. Perusahaan mengintegrasikan kanal online dan offline, memungkinkan konsumen bertransaksi secara digital sekaligus memanfaatkan layanan di toko fisik, termasuk pengambilan barang dan layanan purna jual.
Pola ini membuka ruang tambahan dari sisi transaksi lanjutan di titik interaksi dengan konsumen.
Food and Groceries Catatkan Pendapatan
Di luar bisnis utama, kontribusi lini gaya hidup aktif serta food and groceries mulai terlihat dalam struktur pendapatan. Dalam kurun waktu sekitar lima tahun, kedua segmen ini telah menyumbang sekitar 12 persen terhadap total pendapatan, dengan tren pertumbuhan yang disebut relatif tinggi.
Ekspansi dilakukan melalui pembukaan gerai seperti SHOKZ dan Garmin di Surabaya, serta CHAGEE di Bali, disertai aktivasi brand seperti iBox FITFEST.
Dari sisi operasional, ekspansi tetap dijalankan secara selektif. Setiap gerai dievaluasi secara berkala, dengan kemungkinan relokasi atau penutupan jika tidak mencapai kinerja yang diharapkan. Pendekatan ini menjaga efisiensi jaringan distribusi di tengah ekspansi yang tetap berlangsung.
Pandangan eksternal juga menyoroti faktor segmentasi sebagai penopang kinerja. Segmen menengah ke atas dinilai memiliki daya tahan yang lebih stabil terhadap tekanan inflasi, sementara pergeseran smartphone menjadi kebutuhan esensial menjaga permintaan tetap berjalan.
Selain itu, pendekatan melalui layanan purna jual dan bundling produk menjadi bagian dari pola penjualan yang lebih luas dibanding sekadar distribusi unit.
Rekomendasi Analis
Sementara itu, dari sisi pasar modal, sentimen terhadap saham ERAA tercermin dalam konsensus analis terbaru per April 2026. Dari 17 analis yang memantau, sebanyak 16 memberikan rekomendasi buy, satu hold, dan tidak ada yang memberikan rekomendasi sell.
Konsensus ini menempatkan ERAA dalam kategori dominan buy di tengah kondisi pasar yang selektif.
Target harga juga menunjukkan rentang yang cukup lebar. Rata-rata target berada di kisaran Rp571 per saham, dengan estimasi tertinggi Rp800 dan terendah Rp450. Dibandingkan harga saat ini di level Rp384, terdapat selisih yang mencerminkan potensi kenaikan berdasarkan proyeksi analis.
Sejumlah institusi juga telah memperbarui target masing-masing. Samuel Sekuritas menetapkan target Rp800 dengan rekomendasi buy, MNC Sekuritas di Rp550, serta BNI Sekuritas di Rp520. Rentang ini menunjukkan variasi proyeksi yang tetap berada di atas harga pasar saat ini.
Dengan keseluruhan data tersebut, kinerja ERAA bergerak dalam kombinasi antara pertumbuhan pendapatan, ekspansi lini bisnis, serta dukungan dari konsensus analis. Pergerakan ini terjadi di tengah kondisi konsumsi yang masih mengalami tekanan, namun menunjukkan bahwa segmen dan strategi yang dijalankan tetap menjaga aktivitas bisnis berjalan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.