KABARBURSA.COM- Dalam sejarah pembangunan ekonomi, kemajuan suatu bangsa jarang ditentukan oleh satu kebijakan tunggal. Lebih sering, ia ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan momentum ketika peluang struktural muncul.
Penandatanganan perjanjian perdagangan resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat pada 19 Februari 2026 adalah salah satu momentum tersebut.
Dengan tarif 0% untuk 1.819 produk Indonesia dan komitmen investasi puluhan miliar dolar AS, Indonesia memperoleh akses yang lebih luas ke pasar terbesar dunia, sebuah peluang yang dapat mempercepat transformasi ekonomi nasional.
Ekonom peraih Nobel, Paul Krugman, pernah menulis bahwa Productivity
isn’t everything, but in the long run it is almost everything. Produktivitas, yang
lahir dari industrialisasi, transfer teknologi, dan integrasi dengan pasar
global, merupakan fondasi utama kemakmuran jangka panjang. Akses pasar Amerika Serikat dapat menjadi katalis penting bagi peningkatan
produktivitas Indonesia, jika dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas industri domestik.
Belajar dari Korea Selatan: Industrialisasi melalui Integrasi Global
Enam dekade lalu, Korea Selatan adalah negara dengan pendapatan per
kapita yang relatif rendah. Namun, melalui integrasi strategis dengan pasar global, terutama Amerika Serikat, Korea Selatan berhasil mengubah struktur ekonominya secara fundamental. Nilai ekspornya meningkat dari sekitar USD32 juta pada 1960 menjadi lebih dari USD600 miliar pada 2023, dengan dominasi sektor teknologi tinggi seperti semikonduktor, elektronik, dan
otomotif.
Ekonom Harvard, Dani Rodrik, menekankan pentingnya proses ini dengan menyatakan, No country has achieved sustained economic growth without structural transformation into higher-productivity sectors. Tidak ada negara yang mencapai pertumbuhan berkelanjutan tanpa transformasi struktural menuju sektor dengan produktivitas lebih tinggi.
Pelajaran dari Korea Selatan jelas menggambarkan bahwa akses pasar global menciptakan peluang, tetapi industrialisasi domestik menentukan
keberhasilan.
Vietnam dan Meksiko: Transformasi melalui Akses Pasar Amerika
Pengalaman Vietnam memberikan contoh transformasi yang lebih baru.
Setelah perjanjian perdagangan bilateral dengan Amerika Serikat pada tahun 2000, ekspor Vietnam ke AS meningkat dari sekitar USD1,1 miliar menjadi lebih dari USD100 miliar pada 2023. Vietnam kini menjadi pusat manufaktur elektronik global, menarik investasi dari perusahaan seperti Samsung, Intel, dan Foxconn.
Meksiko mengalami transformasi serupa setelah bergabung dalam North American Free Trade Agreement (NAFTA) pada 1994. Ekspornya meningkat dari sekitar US$60 miliar menjadi lebih dari US$600 miliar, dengan lebih dari 80% terdiri dari produk manufaktur.
Integrasi dengan pasar Amerika Serikat memungkinkan Meksiko mengembangkan basis industri yang kuat dan meningkatkan kapasitas teknologinya.
Pengalaman kedua negara ini menunjukkan bahwa akses preferensial ke pasar global dapat mempercepat industrialisasi dan transformasi ekonomi, jika diikuti oleh kebijakan domestik yang tepat.
Indonesia: Momentum Strategis dalam Lanskap Ekonomi Global Baru
Indonesia kini memiliki peluang yang serupa. Dengan tarif 0% untuk produk
mulai dari minyak sawit, tekstil, hingga komponen elektronik, Indonesia
memperoleh keunggulan kompetitif yang signifikan. Ekspor Indonesia ke
Amerika Serikat yang saat ini berkisar US$28–30 miliar per tahun berpotensi
meningkat secara substansial dalam beberapa tahun ke depan.
Selain itu, kerja sama dalam sektor mineral kritis seperti tembaga, nikel, dan silika menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam rantai pasok global teknologi masa depan, termasuk kendaraan listrik dan semikonduktor.
Dalam konteks ini, Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi berpotensi menjadi pusat produksi industri bernilai tambah tinggi.
Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan
bahwa tujuan utama pembangunan ekonomi Indonesia adalah membangun kemandirian dan kekuatan ekonomi nasional. Ia menyatakan, Kita tidak
boleh hanya menjadi pasar bagi negara lain.
Indonesia harus menjadi negara
industri yang kuat, yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Pernyataan ini
mencerminkan visi strategis bahwa integrasi dengan ekonomi global harus
digunakan untuk memperkuat kapasitas domestik, bukan sekadar
meningkatkan perdagangan.
Peran Institusi dan Kepercayaan dalam Menarik Investasi Global
Keberhasilan transformasi ekonomi tidak hanya bergantung pada akses pasar, tetapi juga pada kualitas institusi dan kepercayaan investor.
Dalam surat tahunan kepada investor, CEO BlackRock Larry Fink menekankan bahwa Capital flows where there is trust, transparency, and long-term
opportunity. Modal global mengalir ke negara yang memiliki kepercayaan,
transparansi, dan peluang jangka panjang. Peran institusi pengelola aset negara, seperti Badan Pengelola Investasi Danantara, menjadi penting dalam konteks ini.
Dengan tata kelola yang profesional dan transparan, institusi semacam ini dapat menjadi jembatan antara aset domestik dan modal global, mempercepat pembangunan infrastruktur dan industri strategis. Pendanaan Pembangunan yang selama ini mengandalkan pajak dan utang melalui fiskal (debt based financing) bisa mempunyai banyak alternatif melalui sekuritisasi, tokenisasi dan keuangan inovatif lainnya (asset based financing)
Persimpangan Jalan bagi Masa Depan Indonesia Perjanjian perdagangan
Indonesia–Amerika Serikat 2026 bukan sekadar kesepakatan ekonomi. Ia adalah peluang strategis yang dapat menentukan arah pembangunan Indonesia dalam dekade mendatang.
Pengalaman Korea Selatan, Vietnam, dan Meksiko menunjukkan bahwa akses pasar global dapat menjadi katalis transformasi ekonomi yang mendalam.
Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa peluang seperti ini tidak selalu
dimanfaatkan secara optimal.
Keberhasilan bergantung pada kemampuan negara untuk menerjemahkan akses pasar menjadi peningkatan kapasitas industri, produktivitas, dan inovasi.
Indonesia kini berada di persimpangan jalan.
Dengan visi yang tepat,
kebijakan yang konsisten, dan institusi yang kuat, momentum ini dapat
menjadi fondasi bagi transformasi Indonesia menjadi kekuatan ekonomi
utama dunia. Sebaliknya, tanpa strategi yang jelas, peluang ini dapat berlalu
tanpa menghasilkan perubahan struktural yang signifikan.
Momentum telah datang.
Kini, keberhasilan bergantung pada pilihan dan tindakan yang diambil, apakah Indonesia akan tetap menjadi pemasok bahan mentah, atau bertransformasi menjadi kekuatan industri yang menentukan masa depan ekonomi global.(*)