KABARBURSA.COM – PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) kembali melanjutkan langkah divestasi aset, setelah pemegang saham menyetujui rencana transaksi penjualan aset dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), yang digelar pada 18 Februari 2026, di Bandung, Jawa Barat.
Secara struktur, persetujuan ini menandai kelanjutan strategi pelepasan aset oleh ZATA. Meski ringkasan risalah tidak merinci jenis maupun nilai aset yang akan dijual, keputusan RUPSLB menjadi dasar hukum bagi manajemen untuk mengeksekusi transaksi tersebut.
Tekanan Berulang pada Kinerja Keuangan
Salah satu alasan tepat mengapa ZATA melanjutkan rencana divestasi aset ini dapat dilihat dari data keuangan sepanjang 2024 hingga kuartal III 2025. Dalam data keuangan tersebut, terjadi tekanan berulang pada kinerja operasional dan profitabilitas, yang terjadi bersamaan dengan volatilitas pendapatan dan melemahnya rasio-rasio utama.
Berdasarkan laporan kuartalan, total pendapatan ZATA pada Q1 2025 tercatat Rp67 miliar, namun turun menjadi Rp58 miliar di kuartal kedua. Pada kuartal ketiga, total pendapatan kembali turun ke Rp33 miliar di Q3 2025.
Padahal, pada Q4 2024 pendapatan berada di Rp33 miliar, naik dari Rp29 miliar di kuartal Q3 2024. Pola ini menunjukkan fluktuasi pendapatan yang cukup tajam antar kuartal.
Dari sisi beban pokok penjualan, pada Q1 2025 tercatat Rp36 miliar, turun menjadi Rp40 miliar di Q2 2025, dan Rp16 miliar di Q3 2025. Laba kotor mengikuti dinamika tersebut, dari Rp31 miliar di Q1 2025 menjadi Rp18 miliar di Q2 2025 dan Rp17 miliar di Q3 2025.
Meskipun masih mencatat laba kotor, tekanan muncul pada level operasional.
Total beban usaha pada Q1 2025 tercatat Rp22 miliar, turun Rp20 miliar di Q2 2025, dan lanjut melemah Rp17 miliar di Q3 2025. Pada Q1 2025, ZATA masih membukukan laba usaha Rp9 miliar. Namun pada Q2 2025 laba usaha berubah menjadi rugi Rp2 miliar, dan Q3 2025 rugi Rp1 miliar. Artinya, dalam dua kuartal terakhir, laba usaha tidak lagi positif.
Tekanan semakin terlihat pada level laba sebelum pajak dan laba bersih. Pada Q1 2025, laba sebelum pajak sebesar Rp6 miliar, namun turun menjadi rugi Rp2 miliar pada Q2 2025 dan rugi Rp2 miliar pada Q3 2025.
Laba Bersih Terus Tergerus
Laba bersih tahun berjalan mencerminkan pola yang sama. Laba kuartal pertama 2025 tercatat sebesar Rp6 miliar, kemudian rugi Rp2 miliar di Q2 2025 dan rugi Rp2 miliar di Q3 2025.
Komponen penghasilan/beban lain-lain juga berkontribusi terhadap tekanan tersebut. Pada Q1 2025 tercatat beban lain-lain Rp3 miliar, dan pada Q3 2025 Rp2 miliar. Faktor ini mempersempit ruang laba operasional yang sudah menurun.
Dari sisi rasio keuangan, EPS kuartalan berubah dari positif 0,88 pada Q1 2025 menjadi negatif 0,28 di Q2 2025 dan negatif 0,32 di Q3 2025. Return on Assets (ROA) turun dari 0,86 persen di Q1 2025 menjadi minus 0,28 persen di Q2 2025 dan minus 0,32 persen di Q3 2025. Return on Equity (ROE) juga bergerak dari 1,13 persen di Q1 2025 menjadi minus 0,36 persen di Q2 2025 dan minus 0,41 persen di Q3 2025.
Interest coverage ratio pada Q1 2025 masih berada di 2,80 kali, namun berubah menjadi negatif 20,31 kali di Q2 2025 dan negatif 0,42 kali di Q3 2025. Rasio negatif ini menunjukkan bahwa laba operasional pada periode tersebut tidak mencukupi untuk menutup beban bunga.
EBITDA juga menunjukkan tren penurunan. Dari Rp17,25 miliar pada Q1 2025, turun menjadi Rp5,09 miliar di Q2 2025 dan berbalik negatif Rp0,46 miliar di Q3 2025. Perubahan ini mencerminkan penyempitan arus kas operasional.
Secara keseluruhan, data 2025 memperlihatkan penurunan bertahap pada pendapatan setelah Q1, berubahnya laba usaha menjadi rugi pada Q2 dan Q3, laba bersih yang kembali negatif, serta pelemahan rasio profitabilitas dan kemampuan menutup beban bunga.
Dalam konteks tersebut, keputusan untuk melanjutkan rencana divestasi aset berlangsung di tengah tekanan pada kinerja operasional dan indikator keuangan utama sepanjang tahun berjalan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.