KABARBURSA.COM - Penutupan World Economic Forum 2026 di Davos menandai berakhirnya satu rangkaian diskusi global, sekaligus menegaskan satu realitas bagi pasar: ketidakpastian global akan bertahan lebih lama dari yang diperkirakan.

Sepanjang forum, investor dihadapkan pada sinyal kebijakan yang beragam—bahkan saling bertentangan. Pidato Presiden AS Donald Trump memperkuat persepsi meningkatnya risiko geopolitik dan perdagangan, sementara respons Eropa menyoroti rapuhnya koordinasi global.
Tema Besar yang Dibutuhkan Pasar
Dari perspektif pasar, Davos 2026 meninggalkan beberapa pesan utama:
• Geopolitik menjadi variabel utama risiko investasi, setara dengan suku bunga dan inflasi.
• Energi dan transisi hijau tidak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi arena persaingan strategis.
• AI dan teknologi tetap menjanjikan, namun ekspektasi pasar mulai lebih rasional dan selektif.
Investor global bergerak menuju strategi yang lebih defensif dan berbasis manajemen risiko, dengan fokus pada negara dan sektor yang memiliki fundamental kuat serta kebijakan yang dapat diprediksi.

Indonesia dalam Perspektif Pasar

Di tengah lanskap global yang bergejolak, Indonesia justru muncul dengan pesan stabilitas. Pidato Presiden Prabowo Subianto dan aktivitas Indonesia Pavilion memberikan policy signal bahwa Indonesia menargetkan pertumbuhan jangka panjang dengan pendekatan inklusif dan konsisten. Bagi pasar, ini berarti:
• risiko politik domestik relatif terkelola,
• agenda investasi tetap berjalan,
• dan peluang jangka panjang tetap terbuka meski volatilitas global meningkat.

Outlook Pasca-Davos

WEF Davos 2026 ditutup tanpa kepastian global yang baru, tetapi pasar justru mendapatkan kejelasan arah: era stabilitas panjang telah berakhir, digantikan oleh fase penyesuaian yang dinamis dan sarat risiko.
Dalam konteks ini, negara dengan stabilitas relatif, pasar domestik besar, dan arah kebijakan yang jelas—termasuk Indonesia—berpotensi tetap menarik bagi investor jangka panjang.(*)
