Logo
>

OPINI: Lebaran dan Perputaran Ekonomi

Lebaran bukan sekadar hari raya keagamaan; ia adalah peristiwa sosial-ekonomi yang menggerakkan konsumsi

Ditulis oleh Lutfi Alkatiri
OPINI: Lebaran dan Perputaran Ekonomi
Ketika spiritualitas menggerakkan mesin ekonomi Indonesia setiap tahun

 KABARBURSA.COM - Ketika spiritualitas menggerakkan mesin ekonomi Indonesia 

Setiap tahun, ketika gema takbir Idulfitri menggema dari desa hingga kota, Indonesia memasuki sebuah fase ekonomi yang unik: sebuah momentum spiritual 
yang sekaligus menjadi salah satu puncak aktivitas ekonomi nasional. 

Lebaran bukan sekadar hari raya keagamaan; ia adalah peristiwa sosial-ekonomi yang menggerakkan konsumsi rumah tangga, mempercepat peredaran uang, serta menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang terasa di hampir seluruh sektor ekonomi. 

Dalam perspektif ekonomi politik, Lebaran dapat dipahami sebagai siklus tahunan redistribusi kekayaan masyarakat. Pada satu sisi, konsumsi meningkat melalui belanja pangan, transportasi, dan pakaian. Di sisi lain, distribusi pendapatan terjadi 
melalui zakat, sedekah, dan transfer uang antar keluarga. Dalam tradisi Islam, dua dimensi ini tidak bertentangan. Justru keduanya berjalan bersama sebagai bagian dari konsep keberkahan rezeki. 

Dalam struktur ekonomi Indonesia, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50% Produk Domestik Bruto (PDB). Karena itu, setiap lonjakan konsumsi memiliki dampak makroekonomi yang signifikan. Ramadan dan Lebaran menjadi salah satu periode konsumsi terbesar sepanjang tahun

Perputaran uang selama periode ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp130–170 triliun setiap tahun. Aktivitas ekonomi tersebut muncul dari berbagai sektor seperti transportasi mudik, makanan dan minuman, pakaian muslim, hingga pariwisata domestik. Dalam teori ekonomi makro Keynesian, lonjakan konsumsi seperti ini menghasilkan multiplier effect

Ketika masyarakat membelanjakan uangnya untuk makanan, pakaian, atau perjalanan, uang tersebut tidak berhenti pada satu transaksi saja. Ia mengalir melalui rantai ekonomi seperti pedagang membeli bahan baku, produsen meningkatkan produksi, dan pekerja menerima upah. Ekonom besar abad ke-20, John Maynard Keynes, pernah menyatakan bahwa Consumption is the sole end and purpose of all production. Dalam konteks Lebaran, konsumsi tidak hanya menjadi tujuan produksi, tetapi juga menjadi penggerak sirkulasi ekonomi nasional. 

Zakat: Redistribusi Ekonomi dalam Skala Nasional 

Salah satu dimensi paling unik dari ekonomi Lebaran adalah keberadaan zakat fitrah dan zakat maal. Jika dalam ekonomi modern redistribusi pendapatan dilakukan melalui pajak dan program sosial pemerintah, dalam Islam redistribusi tersebut juga dilakukan melalui instrumen keagamaan. Data dari Badan Amil Zakat Nasional menunjukkan bahwa potensi zakat Indonesia mencapai sekitar Rp327 triliun per tahun, namun yang berhasil dihimpun saat ini masih sekitar Rp33 triliun

Angka ini menunjukkan dua hal penting yaitu pertama, zakat memiliki potensi menjadi instrumen ekonomi sosial yang sangat besar dalam pengentasan kemiskinan. Kedua, Ramadan dan Lebaran merupakan periode ketika pembayaran zakat meningkat secara signifikan karena kewajiban zakat fitrah sebelum Idulfitri. 

Dalam perspektif ekonomi kesejahteraan, hal ini sejalan dengan pemikiran ekonom peraih Nobel Amartya Sen, yang menekankan bahwa pembangunan bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga perluasan kemampuan manusia untuk hidup layak

Dalam karya terkenalnya Development as Freedom, Sen menegaskan bahwa kesejahteraan masyarakat sangat bergantung pada distribusi kesempatan ekonomi. Dalam konteks Islam, zakat berfungsi sebagai salah satu mekanisme untuk menciptakan distribusi tersebut. 

Lonjakan Ekonomi Digital Ramadan 

Transformasi digital juga mengubah wajah ekonomi Lebaran. Jika dahulu transaksi didominasi uang tunai di pasar dan toko fisik, kini aktivitas ekonomi Ramadan semakin bergerak ke platform digital. 

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa transaksi pembayaran digital mencapai sekitar 3,5 miliar transaksi pada awal 2025, tumbuh lebih dari 35% secara tahunan.  

Selama Ramadan, transaksi digital bahkan meningkat lebih tinggi lagi. Nilai transaksi mobile banking pada periode Ramadan 2025 tercatat mencapai Rp2.372,6 triliun, naik sekitar 17,3% dibandingkan bulan sebelumnya.  

Lonjakan ini didorong oleh berbagai aktivitas: seeprti belanja e-commerce, 
pembayaran zakat dan sedekah digital, transfer uang kepada keluarga dan transaksi QRIS di UMKM. Beberapa platform e-commerce bahkan mencatat kenaikan transaksi hingga lima hingga tujuh kali lipat pada Ramadan berkat integrasi fitur konten dan live shopping. Artinya, ekonomi Lebaran kini tidak hanya terjadi di pasar tradisional atau pusat perbelanjaan, tetapi juga di ruang digital yang semakin luas. 

Spiritualitas di Tengah Ekonomi Pasar 

Walaupun aktivitas ekonomi Lebaran sangat besar, inti dari perayaan ini tetaplah spiritualitas. Ramadan mengajarkan manusia untuk menahan diri dari konsumsi berlebihan, sementara Lebaran mengajarkan pentingnya berbagi rezeki. Imam Al-Ghazali, pernah menulis dalam Ihya Ulumuddin bahwa tujuan ekonomi dalam Islam bukan sekadar akumulasi kekayaan, tetapi kemaslahatan masyarakat dan keseimbangan kehidupan manusia. Dalam kerangka ini, ekonomi Lebaran memiliki makna yang lebih dalam. Belanja pakaian baru bukan sekadar konsumsi, tetapi simbol kegembiraan setelah ibadah. Mudik bukan hanya mobilitas ekonomi, tetapi juga pemulihan hubungan keluarga. Zakat bukan sekadar transfer uang, tetapi juga penyucian harta. 

Penutup

Lebaran di Indonesia adalah pertemuan antara agama, budaya, dan ekonomi. Ia menggerakkan ratusan triliun rupiah dalam perputaran uang, mendorong lonjakan transaksi digital, dan memberikan kehidupan bagi jutaan pelaku usaha kecil di seluruh negeri. Namun di balik angka-angka itu, terdapat pesan yang lebih dalam: bahwa ekonomi tidak hanya tentang produksi dan konsumsi, tetapi juga tentang keadilan, kebersamaan, dan keberkahan

Seperti yang diajarkan dalam tradisi Islam, harta tidak sekadar untuk dimiliki, tetapi juga untuk dibagikan. Dan mungkin di situlah makna terdalam ekonomi Lebaran, ketika spiritualitas dan aktivitas ekonomi berjalan bersama untuk menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Lutfi Alkatiri

Lutfi Alkatiri merupakan pejabat profesional di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang saat ini mengemban amanat sebagai Deputi Direktur Inovasi Keuangan Digital. Dalam kapasitasnya, ia memiliki peran sentral dalam merumuskan regulasi dan mengawasi perkembangan teknologi finansial di Indonesia, termasuk tata kelola aset digital dan mekanisme regulatory sandbox untuk memastikan inovasi keuangan berjalan aman dan terpercaya.

Selain fokus pada kebijakan inovasi, Lutfi aktif sebagai narasumber strategis dalam berbagai program edukasi nasional, seperti inisiatif Digital Financial Literacy yang menyasar generasi muda di berbagai wilayah Indonesia. Ia berperan penting dalam mendorong kolaborasi lintas lembaga, termasuk keterlibatannya dalam penyelenggaraan kompetisi teknologi seperti BI-OJK Hackathon, guna memperkuat ekosistem ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan.