KABARBURSA.COM — Gejolak energi global akibat blokade Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir kembali menegaskan bahwa dunia belum benar-benar siap meninggalkan energi fosil. Di tengah konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak, tekanan terhadap transisi energi justru semakin kompleks. Industri batu bara, yang selama ini berada di bawah sorotan Environmental, Social, dan Governance (ESG), kini kembali menemukan relevansinya, setidaknya dalam jangka pendek.
Dalam lanskap seperti ini, arah strategi perusahaan tambang menjadi menarik untuk dibaca. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), misalnya, mulai menunjukkan tanda-tanda pergeseran. Namun pergeseran itu tidak berlangsung drastis, melainkan bergerak perlahan, bahkan cenderung hati-hati.
Data dalam data Public Expose ADRO, tampak fondasi bisnis emiten Boy Thohir ini masih sangat bertumpu pada batu bara metalurgi. Cadangan mencapai 177,2 juta ton dengan sumber daya sebesar 982,9 juta ton. Produksi dan penjualan pun masih tumbuh dua digit, masing-masing naik 12 persen secara tahunan.
Permintaan global menjadi penopang utama. Pasar Asia seperti India, Jepang, dan China masih membutuhkan batu bara metalurgi untuk industri baja. Dalam konteks ini, batu bara belum kehilangan perannya. ADRO, tampaknya, membaca realitas tersebut dengan cukup jernih.
Namun di balik dominasi itu, muncul lapisan baru yang mulai dibangun. Perusahaan mulai masuk ke inisiatif energi terbarukan, meski skalanya masih terbatas. Pembangkit listrik tenaga surya yang dipasang—130 kWp rooftop dan 468 kWp floating—menghasilkan sekitar 156.000 kWh per tahun. Dampaknya, konsumsi diesel bisa ditekan hingga 33.000 liter per tahun dengan pengurangan emisi sekitar 98 ton CO₂.
Langkah ini menunjukkan adanya upaya efisiensi sekaligus respons terhadap tekanan ESG. Namun kontribusinya terhadap keseluruhan bisnis masih relatif kecil. Transisi yang dilakukan belum mengubah struktur utama perusahaan, melainkan lebih sebagai lapisan tambahan.
Perubahan yang lebih signifikan justru terlihat pada strategi hilirisasi. ADRO meningkatkan belanja modal hingga USD797 juta atau naik 45 persen dengan salah satu fokus utama pada pengembangan smelter aluminium. Proyek ini ditargetkan mencapai kapasitas produksi penuh sebesar 500 ribu ton per tahun pada 2026.

Hilirisasi ini menjadi titik penting. Meski bukan energi terbarukan, aluminium diposisikan sebagai bagian dari rantai industri yang lebih dekat dengan ekonomi rendah emisi. Dalam narasi besar transisi energi, langkah ini bisa dibaca sebagai upaya menggeser posisi dari sekadar produsen bahan mentah menjadi pemain dalam rantai nilai industri.
Namun di sinilah kontradiksi muncul. Di satu sisi, ekspansi batu bara masih berjalan dan menjadi tulang punggung bisnis. Di sisi lain, perusahaan mulai masuk ke energi bersih dan hilirisasi. Dua arah ini berjalan bersamaan, tanpa ada tanda pergeseran yang benar-benar dominan.
Pertanyaan pun muncul, apakah ini bentuk transisi yang seriusn atau hanya adaptasi terhadap tekanan ESG?
Jawabannya tampaknya tidak hitam-putih. Dalam proyeksi pasar global, permintaan batu bara metalurgi masih akan bertahan, bahkan tumbuh, terutama didorong oleh ekspansi industri di Asia. Pasokan global yang terbatas justru membuat komoditas ini tetap strategis.
Dalam konteks itu, langkah AlamTri bisa dipahami sebagai strategi bertahan. Alih-alih meninggalkan batu bara secara cepat, perusahaan memilih membangun pijakan baru secara bertahap. Renewable masuk sebagai efisiensi operasional, sementara hilirisasi menjadi jembatan menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Dengan kata lain, ADRO tidak sedang melakukan lompatan besar menuju energi bersih. Ia sedang berjalan pelan, selektif, dan tetap berpijak pada realitas pasar.
Di tengah tekanan global terhadap ESG, pendekatan ini mungkin terlihat konservatif. Namun bagi perusahaan berbasis sumber daya, transisi memang jarang berlangsung revolusioner. Ia cenderung evolusioner, bergerak perlahan, sambil memastikan bisnis utama tetap hidup. Dan dalam kasus ADRO, perjalanan itu tampaknya baru dimulai.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.