KABARBURSA.COM — Isu Environmental, Social, and Governance atau ESG perlahan mulai bergerak melampaui sektor energi, industri, transportasi, maupun konsumer. Kini, diskursus itu mulai menyentuh industri media, sebuah sektor yang selama ini lebih sering bertindak sebagai pengawas ketimbang objek pengawasan keberlanjutan itu sendiri.
Di Indonesia, PT Tempo Inti Media Tbk atau TMPO termasuk salah satu institusi media yang aktif mendorong percakapan ESG ke ruang publik. Lewat berbagai forum, pemberitaan, hingga platform Indonesia Sustainability Transparency and Responsibility atau INSTAR, Tempo mulai menempatkan diri sebagai bagian dari ekosistem yang membentuk standar keberlanjutan korporasi.
Namun di tengah posisi itu, ada pertanyaan yang jarang dikemukakan. Ketika media mengawasi praktik ESG perusahaan lain, seberapa jauh newsroom dan perusahaan media sendiri menjalankan prinsip keberlanjutan di internalnya?
Laporan Tahunan PT Tempo Inti Media Tbk 2024 dan 2025 memberi sedikit gambaran mengenai arah tersebut. Meski belum menerbitkan sustainability report atau laporan keberlanjutan terpisah sebagaimana lazim dilakukan emiten besar, sejumlah elemen ESG mulai terlihat dalam strategi bisnis maupun operasional perusahaan.
Dari sisi fundamental, TMPO mencatat perbaikan kinerja sepanjang 2025. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp2,78 miliar dari Rp1,66 miliar pada tahun sebelumnya.
Menariknya, kenaikan laba itu terjadi di tengah penurunan pendapatan usaha dari Rp253,78 miliar menjadi Rp210,94 miliar. Di saat yang sama, beban pokok pendapatan berhasil ditekan cukup dalam, dari Rp157,16 miliar menjadi Rp104,10 miliar.
Pola ini memperlihatkan sesuatu yang lebih penting dari sekadar angka laba. Di tengah tekanan industri media dan perubahan pola konsumsi informasi hari ini, Tempo tampak mulai bertahan melalui efisiensi dan transformasi model bisnis.
Dalam laporan tahunannya, TMPO berkali-kali menyinggung arah transformasi digital sebagai bagian dari strategi keberlanjutan usaha. Peralihan menuju platform digital, penguatan audio visual, single brand, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI menjadi bagian dari agenda bisnis media ke depan.
Namun ketika berbicara mengenai aspek lingkungan atau environmental, pengungkapan TMPO masih tergolong terbatas dan lebih banyak bersifat naratif. Meski demikian, terdapat beberapa praktek lingkungan yang mulai disebutkan secara spesifik. Salah satunya melalui unit percetakan PT Temprint yang disebut telah memiliki sistem pengolahan limbah.
“PT Temprint, sebagai unit yang bergerak di bidang percetakan, telah dilengkapi dengan sistem pengolahan limbah,” tulis manajemen dalam laporan tahunan 2024, seperti dilihat Sabtu, 9 Mei 2026.
Perusahaan juga menyebut pembangunan Sewage Treatment Plant atau STP untuk mendaur ulang limbah domestik. Hasil olahan ini, tulis Tempo, digunakan kembali untuk menyiram tanaman dan membersihkan saluran kamar mandi.
Selain itu, TMPO mengklaim menerapkan desain bangunan ramah lingkungan melalui langit-langit tinggi dan jendela kaca besar guna mengurangi ketergantungan pada lampu dan pendingin ruangan.
Pada laporan 2025, TMPO menulis keterlibatan dalam program pemberdayaan UMKM bersama Astra Group melalui pembukaan Kedai Palmerah di lingkungan gedung Tempo. “Fasilitas ini dirancang sebagai sarana bagi pelaku UMKM untuk memperluas akses pasar dalam lingkungan yang lebih representatif, khususnya di kawasan perkantoran,” tulis manajemen TMPO.

Cuplikan Laporan Tahunan 2025 PT Tempo Inti Media Tbk yang memuat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Korporat (TJSL), mulai dari pemberdayaan UMKM, pelatihan vokasional, hingga kegiatan sosial di lingkungan sekitar perusahaan. Program tersebut menjadi bagian dari upaya Tempo membangun keberlanjutan bisnis dan dampak sosial di tengah transformasi industri media. Foto: Tangkapan layar Laporan Tahunan TMPO 2025.
TMPO juga menyebut berbagai kegiatan sosial seperti penyaluran hewan kurban, bantuan hari raya, hingga pelatihan vokasional bagi siswa SMK dan SMA di bidang desain media, produksi media, serta pemasaran. Selain itu, TMPO membuka program company visit bagi sekolah dan perguruan tinggi untuk mengenalkan proses bisnis media dan produksi konten secara langsung.
“Perseroan meyakini bahwa kapasitas generasi muda merupakan elemen penting dalam mendukung keberlanjutan industri media di masa depan,” tulis perusahaan.
Sebagian besar pengungkapan tersebut masih berada pada level tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), belum sepenuhnya masuk pada pengukuran ESG yang berbasis indikator keberlanjutan terukur.
Namun berbeda dengan perusahaan yang telah mengadopsi standar pelaporan ESG global seperti GRI atau ISSB, TMPO belum mengungkap indikator kuantitatif yang lebih rinci. Belum ada data mengenai konsumsi energi, emisi karbon, penggunaan listrik, pengurangan penggunaan kertas, maupun target penurunan jejak lingkungan perusahaan.
Di titik ini, praktik ESG TMPO terlihat masih berada pada tahap operasional dan naratif, belum menjadi disclosure keberlanjutan yang benar-benar terukur. Namun Tempo menilai pendekatan ESG perusahaan media tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan sektor ekstraktif atau manufaktur.
ESG Media tak Sama dengan Emiten Energi
Corporate Secretary PT Tempo Inti Media Tbk, Jajang Jamaludin, mengatakan keberlanjutan perusahaan media mencakup tiga aspek utama, yakni keberlanjutan bisnis, tata kelola redaksi yang independen dan akuntabel, serta kontribusi terhadap ekosistem informasi publik yang sehat.
“Tempo memandang ESG bukan sekadar sebagai kewajiban pelaporan, tetapi sebagai bagian dari keberlanjutan jangka panjang perusahaan media,” ujarnya kepada KabarBursa.com, Sabtu, 9 Mei 2026.
Menurut dia, sebagian praktik ESG sebenarnya telah berjalan di internal TMPO, namun kini sedang dirapikan menjadi kerangka kerja yang lebih sistematis dan terukur.
Di aspek governance, TMPO menempatkan pemisahan antara fungsi editorial dan komersial sebagai bagian penting tata kelola perusahaan media. “Tempo terus memperkuat tata kelola perusahaan, penegasan firewall yang memisahkan fungsi editorial dan komersial—sesuatu yang kini makin sulit ditemukan di banyak media karena tekanan bisnis yang luar biasa,” kata Jajang.
Sementara dalam aspek lingkungan, Tempo mengaku tengah mencermati dampak transformasi digital terhadap efisiensi operasional perusahaan, seperti pengurangan ketergantungan pada produksi berbasis cetak.
Lalu pada aspek sosial, TMPO menempatkan penguatan literasi publik sebagai salah satu bagian penting dari keberlanjutan perusahaan media. Menurut Jajang, Tempo menjalankan berbagai inisiatif yang berkaitan dengan penguatan kualitas informasi publik, mulai dari produksi cek fakta untuk melawan misinformasi dan disinformasi, pendidikan jurnalistik bagi mahasiswa dan aktivis masyarakat sipil melalui program Tempo Witness, hingga penguatan kapasitas media lokal lewat platform Teras.id.
“Produksi berbagai informasi yang kredibel secara reguler pada akhirnya akan menunjang identifikasi dan solusi berbagai persoalan sosial di masyarakat,” katanya.
Selain membangun transformasi internal, Tempo juga mulai menempatkan diri sebagai bagian dari ekosistem ESG nasional melalui berbagai platform dan instrumen berbasis data. Jajang mengatakan platform INSTAR menjadi salah satu bentuk komitmen mereka dalam mendorong praktik bisnis yang lebih berintegritas dan berkelanjutan.
“ESG bagi Tempo tidak hanya dilihat sebagai urusan internal perusahaan, tetapi juga sebagai area kontribusi Tempo terhadap ekosistem bisnis dan tata kelola publik yang lebih baik,” ujarnya.
Meski sejumlah praktik ESG mulai terlihat dalam operasional perusahaan, TMPO mengakui sistem pelaporan keberlanjutannya masih berada dalam tahap pengembangan. Jajang mengatakan perusahaan saat ini tengah menyiapkan roadmap, indikator, dan mekanisme pengumpulan data ESG agar praktik keberlanjutan perusahaan dapat dilaporkan secara lebih terstruktur.
“Setelah roadmap, indikator, dan mekanisme pengumpulan data ESG selesai dirapikan, Tempo akan menyusun laporan keberlanjutan dan menyampaikannya kepada otoritas sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Menurut dia, bentuk laporan tersebut nantinya akan disesuaikan dengan regulasi dan kesiapan data perusahaan, baik sebagai laporan terpisah maupun bagian dari laporan tahunan perseroan.
Sebagai perusahaan media, TMPO memang menempatkan pengembangan literasi, pendidikan jurnalistik, dan independensi informasi sebagai bagian penting dari keberlanjutan institusi. Sepanjang 2024, misalnya, media yang dulunya dipimpin Goenawan Mohamad ini mencatat berbagai program edukasi seperti Bocor Alus Goes to Campus, pelatihan jurnalistik, kerja sama pendidikan vokasional, hingga pelatihan komunikasi dan digital branding bagi siswa SMK.
Tujuannya, catat TMPO dalam laporan tahunannya, adalah untuk “mendorong diskusi sehat dan membuka ruang belajar bagi mahasiswa mengenai peran jurnalisme dalam demokrasi dan kebebasan akademik.
Di sisi tata kelola, perusahaan juga menempatkan independensi sebagai salah satu prinsip utama Good Corporate Governance atau GCG. “Penerapan prinsip GCG yang berkelanjutan melalui kegiatan operasional yang independen dan profesional tanpa ada benturan kepentingan serta tanpa tekanan atau intervensi dari pihak manapun,” tulis manajemen TMPO.
Dalam konteks ESG modern, aspek tersebut sebenarnya menjadi bagian penting dari governance perusahaan media. Berbeda dengan industri ekstraktif yang lebih banyak diukur dari emisi dan dampak lingkungan fisik, media memiliki dimensi keberlanjutan yang lebih dekat dengan kualitas informasi, independensi redaksi, dan kepercayaan publik.
Sebab itu, ESG di industri media tidak bisa dibaca semata dari angka karbon atau konsumsi listrik. Ada aspek lain yang lebih abstrak namun menentukan, yakni sustainability of journalism atau kemampuan menjaga kualitas informasi dan independensi di tengah tekanan bisnis dan perubahan teknologi.
Meski begitu, tantangan berikutnya tetap berada pada transparansi dan standardisasi pelaporan. Seiring meningkatnya perhatian investor terhadap ESG, tuntutan terhadap industri media untuk mengukur dampak keberlanjutannya secara lebih terstruktur diperkirakan juga akan ikut tumbuh.
Di tengah perubahan lanskap media global, pertanyaan mengenai ESG tampaknya tak lagi hanya menyasar perusahaan-perusahaan padat energi, tapi mulai bergerak masuk ke newsroom, ke ruang tempat informasi diproduksi, disaring, dan dipercaya publik setiap hari.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.