Logo
>

Ambisi B50 Ancam Tambah 4,7 Juta Hektare Sawit, Skema Berbasis Petani Lebih Menguntungkan

Target biodiesel B50 dinilai mendorong ekspansi sawit 4,7 juta hektare, sementara skema berbasis petani dan peningkatan produktivitas disebut lebih berkelanjutan.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Ambisi B50 Ancam Tambah 4,7 Juta Hektare Sawit, Skema Berbasis Petani Lebih Menguntungkan
Ambisi B50 berpotensi memicu ekspansi sawit 4,7 juta hektare. Model berbasis petani dan peremajaan kebun dinilai memberi manfaat ekonomi lebih besar dan minim risiko ekologis. Foto: Dok. Mongabay.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Ambisi Indonesia memperluas penggunaan biodiesel berbasis sawit hingga B50 memunculkan konsekuensi baru bagi ruang hidup dan lingkungan. Untuk memenuhi target tersebut, dibutuhkan tambahan kebun sawit hingga 4,72 juta hektare dengan potensi keuntungan ekonomi mencapai USD31,36 miliar atau sekitar Rp528,4 triliun.

    Namun, keuntungan itu dinilai tidak sepenuhnya mengalir ke masyarakat desa. Analisis Madani Berkelanjutan menunjukkan ekspansi perkebunan skala besar justru berisiko memicu konflik lahan, peningkatan emisi gas rumah kaca, serta kerusakan ekologi yang jika diuangkan mencapai USD4,72 miliar atau sekitar Rp79,5 triliun.

    “Namun, keuntungan itu dinikmati oleh korporasi besar. Warga desa dan petani skala kecil akan terpengaruh oleh perluasan perkebunan kelapa sawit,” tulis peneliti Forest Digest, Pradhipta Oktavianto, dikutip dari laman Forest Digest, Kamis, 19 Januari 2026.

    Sejak Januari 2025, pemerintah mewajibkan implementasi B40 dan berencana meningkatkan bauran menjadi B50 pada tahun ini. Kebijakan ini ditempatkan sebagai bagian dari strategi konservasi energi dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

    Dengan luas kebun sawit yang telah mencapai sekitar 17,3 juta hektare, ruang ekspansi dinilai semakin terbatas. Kajian yang dilakukan Madani Berkelanjutan bersama Sawit Watch dan Satya Bumi memperkirakan daya dukung lingkungan maksimal hanya berada di angka 18,15 juta hektare.

    Perhitungan tersebut menggunakan model jejak ekologi dengan 14 variabel pembatas, mulai dari kualitas udara, kawasan konservasi, hingga keanekaragaman hayati. Artinya, ruang tambahan untuk ekspansi semakin sempit dan berisiko menimbulkan kerusakan yang sulit dipulihkan. Posisi saat ini sudah mendekati ambang batas daya dukung lingkungan.

    “Hal ini berpotensi meningkatkan risiko kerusakan ekologi yang tidak dapat dipertahankan,” tulis Pradhipta.

    Produktivitas Petani Jadi Alternatif

    Di tengah risiko ekspansi, skenario alternatif ditawarkan melalui peningkatan produktivitas kebun rakyat. Madani Berkelanjutan mengidentifikasi sekitar 9 juta hektare kebun tua yang sebagian besar dimiliki petani kecil.

    Produktivitas kebun yang saat ini rata-rata 3,41 ton per hektare dinilai masih bisa ditingkatkan hingga 6 ton per hektare melalui peremajaan dan praktik budidaya berkelanjutan. Skema ini dinilai mampu menambah pasokan biodiesel tanpa membuka lahan baru.

    Selain itu, pendekatan desentralisasi melalui koperasi dan badan usaha milik desa diperkirakan dapat memasok hingga 10 persen kebutuhan biodiesel nasional.

    Skenario lain yang diusulkan adalah diversifikasi bahan baku biofuel, antara lain dari minyak biji karet dan nyamplung. Dalam perhitungan analisis Madani, pendekatan ini berpotensi memberikan manfaat langsung bagi ekonomi desa sebesar USD2 miliar dalam sepuluh tahun atau sekitar Rp33,7 triliun.

    Tidak hanya itu, model itu disebut mampu menghindari deforestasi, konflik sosial, dan lonjakan emisi karbon yang berpotensi muncul akibat ekspansi sawit.

    Secara keseluruhan, manfaat ekonomi bersih dari skenario berbasis petani dan diversifikasi biofuel diperkirakan mencapai USD37,1 miliar atau sekitar Rp625,1 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan skenario perluasan kebun sawit yang berada di kisaran USD31,3 miliar atau sekitar Rp527,6 triliun.

    Pendekatan alternatif itu dinilai sejalan dengan agenda transisi energi yang adil, pemberdayaan ekonomi desa, serta perlindungan hutan dan iklim. Dengan kata lain, target biodiesel tetap bisa tercapai tanpa menambah tekanan terhadap lingkungan.

    Model ini juga membuka peluang agar manfaat ekonomi tidak terpusat pada korporasi besar, melainkan mengalir ke petani kecil melalui peningkatan produktivitas dan penguatan kelembagaan desa.

    Di tengah ambisi mempercepat bauran energi terbarukan, pilihan kebijakan menjadi krusial. Ekspansi lahan memang menawarkan keuntungan cepat, tetapi peningkatan produktivitas kebun rakyat dan diversifikasi bahan baku biofuel disebut memberi dampak ekonomi lebih besar dengan biaya ekologis yang jauh lebih rendah.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).