KABARBURSA.COM — Danantara Indonesia kembali membuka peluang kerja sama untuk proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik di tengah dorongan percepatan penanganan krisis sampah nasional. Melalui PT Danantara Investment Management, pendaftaran calon mitra kini dibuka untuk gelombang kedua setelah seleksi awal di sejumlah wilayah.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas basis investor dan teknologi dalam proyek Waste to Energy atau pengolahan sampah menjadi energi listrik di Indonesia. Sebelumnya, proses seleksi telah dilakukan di Bekasi, Denpasar Raya, Bogor Raya, dan Yogyakarta.
Program tersebut juga sejalan dengan kerangka regulasi nasional, termasuk Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang mengatur pengolahan sampah perkotaan menjadi energi dengan teknologi ramah lingkungan.
Direktur Investasi Danantara Investment Management Fadli Rahman mengatakan pembukaan kembali pendaftaran dilakukan untuk memperluas partisipasi sekaligus memperkuat pembiayaan proyek dari berbagai sumber.
“Pembukaan pendaftaran baru ini merupakan bagian dari upaya Danantara Indonesia dalam memperluas partisipasi perusahaan nasional maupun global dalam pengembangan infrastruktur pengolahan sampah modern di Indonesia yang sebelumnya telah menarik minat berbagai perusahaan dan investor internasional demi bersama-sama bergerak menyelesaikan isu darurat sampah nasional,” kata Fadli dalam keterangan tertulis, Selasa, 17 Maret 2026.
Melalui skema ini, Danantara membuka kesempatan bagi perusahaan dalam dan luar negeri yang memiliki pengalaman serta kapasitas di sektor tersebut untuk masuk dalam Daftar Penyedia Terverifikasi. Daftar ini menjadi tahap awal seleksi sebelum perusahaan dilibatkan dalam pengembangan proyek di tahap berikutnya.
Inisiatif ini sekaligus menjadi bagian dari strategi untuk menggabungkan agenda penanganan darurat sampah dengan pengembangan energi hijau. Danantara menilai pendekatan investasi yang terarah dan seleksi yang ketat diperlukan agar proyek berjalan dengan tata kelola yang baik dan berdampak jangka panjang.
Pembukaan gelombang baru ini juga diharapkan dapat menarik lebih banyak investor global, khususnya dalam pengembangan teknologi pengolahan sampah modern di Indonesia.
Ke depan, Danantara menyatakan akan terus mendorong kolaborasi lintas pihak, mulai dari pemerintah, investor, hingga pelaku industri, guna mempercepat implementasi proyek pengelolaan sampah berkelanjutan sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Indonesia Simpan Potensi Energi Sampah 3.655 MW
Indonesia menghadapi persoalan sampah yang tak lagi bisa dipandang sebagai isu pinggiran. Dengan produksi mencapai sekitar 60 hingga 70 juta ton per tahun, persoalan ini kini menjelma menjadi tekanan sistemik yang menyentuh lingkungan, kesehatan, hingga tata kelola kota.
Masalahnya bukan sekadar volume, melainkan kemampuan pengelolaan yang tertinggal. Dari total sampah tersebut, baru sekitar 40 persen yang tertangani dengan baik. Artinya, lebih dari separuh sampah nasional masih belum terkelola secara optimal.
Kondisi ini tercermin di lapangan. Sejumlah Tempat Pembuangan Akhir di berbagai daerah dilaporkan sudah mendekati, bahkan melampaui kapasitas. Di Surabaya, misalnya, TPA Benowo harus menampung hingga 1.600 ton sampah setiap hari, memperlihatkan tekanan besar pada infrastruktur pengelolaan yang ada.
Kesenjangan antara produksi dan pengelolaan ini menunjukkan bahwa persoalan sampah di Indonesia bukan lagi isu teknis semata, melainkan krisis struktural. Sistem yang ada belum mampu mengejar laju timbulan sampah yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan urbanisasi.
Di balik tekanan tersebut, tersimpan potensi yang belum dimanfaatkan secara optimal. Sampah dalam jumlah besar itu sebenarnya dapat diolah menjadi sumber energi alternatif. Dengan total timbunan sekitar 60 hingga 65 juta ton, potensi listrik yang bisa dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar 3.655 megawatt.
Jumlah tersebut setara dengan beberapa pembangkit listrik skala besar, bahkan cukup untuk menyuplai kebutuhan listrik jutaan rumah tangga. Dalam skala teknis, setiap 1.000 ton sampah yang diolah per hari dapat menghasilkan sekitar 20 megawatt listrik.
Pengalaman di dalam negeri menunjukkan potensi itu bukan sekadar teori. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Benowo, Surabaya, misalnya, telah beroperasi dengan kapasitas sekitar 12 megawatt dengan mengolah ribuan ton sampah setiap hari.
Namun, pemanfaatan sampah sebagai sumber energi masih jauh dari optimal. Sebagian besar timbulan sampah nasional masih berakhir di tempat pembuangan tanpa proses konversi yang bernilai tambah.
Situasi ini menempatkan Indonesia pada posisi paradoks. Di satu sisi menghadapi krisis sampah yang terus membesar, di sisi lain menyimpan potensi energi yang belum tergarap maksimal.
Dengan kata lain, Indonesia tidak hanya menghadapi masalah sampah, tetapi juga melewatkan peluang untuk mengubahnya menjadi sumber energi baru yang dapat mendukung ketahanan energi nasional.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.