Logo
>

Di Balik Laba, ESG ANTM Jadi Fondasi Ketahanan Bisnis

Kinerja ANTM 2024 menunjukkan peran ESG dalam menjaga stabilitas laba di tengah fluktuasi harga emas dan nikel

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Di Balik Laba, ESG ANTM Jadi Fondasi Ketahanan Bisnis
Kawasan Danau Laet di Kalimantan Barat yang dikelola PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebagai area konservasi perusahaan. Kawasan seluas sekitar 800 hektare ini menjadi bagian dari upaya perlindungan keanekaragaman hayati sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem secara berkelanjutan. Foto: IG @official.antam

KABARBURSA.COM – Di tengah penantian laporan keberlanjutan 2025, kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada 2024 menjadi pijakan awal untuk membaca arah kualitas bisnis perseroan. Laba yang tercatat saat itu tidak semata dipengaruhi siklus harga komoditas, tetapi mulai ditopang oleh fondasi operasional dan tata kelola yang terbangun melalui aspek keberlanjutan.

Dalam ikhtisar Keberlanjutan 2024, ANTM membukukan pendapatan sebesar Rp69,19 triliun dengan laba bersih Rp3,85 triliun. Angka ini melampaui target pendapatan Rp52,89 triliun dan sedikit di atas target laba Rp3,67 triliun.

Namun di balik capaian tersebut, indikator non-keuangan justru memberi gambaran lebih dalam mengenai arah bisnis perseroan.

Salah satu penopang utama terlihat dari sisi cadangan mineral. ANTM mencatat cadangan emas sebesar 805 ribu ons, nikel 493,91 juta wmt, serta bauksit 198,43 juta wmt. Besarnya cadangan ini menjadi penentu keberlanjutan produksi sekaligus memberi visibilitas terhadap potensi pendapatan jangka panjang.

Dalam konteks industri tambang yang sangat bergantung pada siklus harga, keberadaan cadangan dalam skala besar menjadi faktor pembeda antara pertumbuhan yang temporer dan yang berkelanjutan.

Sepanjang 2024, lanskap harga komoditas utama menunjukkan dinamika yang tidak sepenuhnya searah. Harga emas global justru berada dalam tren menguat dengan rata-rata mencapai USD2.386 per ons atau naik sekitar 23 persen secara tahunan. Bahkan pada kuartal keempat, harga sempat menyentuh level USD2.663 per ons, yang mencerminkan tingginya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Di sisi lain, harga nikel—yang menjadi salah satu tulang punggung bisnis ANTM—justru bergerak sebaliknya. Rata-rata harga nikel global pada 2024 berada di kisaran USD15.328 per ton, turun sekitar 7,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tekanan ini tidak lepas dari kondisi kelebihan pasokan global.

Dalam situasi yang kontras tersebut, volume penjualan bijih nikel ANTM tercatat tidak mengalami lonjakan signifikan dengan estimasi berada di kisaran 12 juta wmt dan hanya tumbuh tipis secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kinerja perseroan tidak didorong oleh ekspansi volume secara agresif.

Di sisi lain, kinerja lingkungan ANTM menunjukkan tren yang melampaui target. Penurunan emisi gas rumah kaca tercatat mencapai 5,72 persen, lebih dari dua kali lipat target 2,25 persen. Total emisi berada di level 1,42 juta ton CO2e, dengan konsumsi energi sebesar 12,39 juta GJ.

Reklamasi lahan juga melampaui target, dengan realisasi 75,26 hektare dibanding target 73,34 hektare. Sementara itu, jumlah pohon yang ditanam sepanjang tahun mencapai 190.813 pohon.

Yang tidak kalah penting, ANTM mencatat nol insiden lingkungan sepanjang 2024. Kondisi ini menunjukkan operasional yang relatif stabil tanpa gangguan signifikan dari aspek lingkungan.

Stabilitas tersebut diperkuat oleh indikator keselamatan kerja. Perseroan mencatat fatality nol, dengan tingkat total recordable incident rate (TRIR) sebesar 0,070. Di saat yang sama, frekuensi kecelakaan kerja berada di level 0,12, lebih rendah dari target 0,17.

Dalam industri berbasis operasional intensif seperti pertambangan, indikator keselamatan ini berpengaruh langsung terhadap kontinuitas produksi. Gangguan operasional akibat insiden dapat berdampak pada biaya, produksi, hingga reputasi perusahaan.

Di luar aspek operasional, dimensi sosial dan tata kelola juga menunjukkan penguatan. Indeks kepuasan masyarakat tercatat di level 89,91 poin, sementara indeks persepsi pemangku kepentingan berada di 89,96 poin. Realisasi dana tanggung jawab sosial dan lingkungan mencapai Rp162,05 miliar.

Pada aspek tata kelola, ANTM mencatat kepatuhan penuh terhadap pedoman OJK, dengan tingkat kepatuhan mencapai 100 persen. Penilaian tata kelola berbasis ASEAN mencatat skor 84,74 persen, sementara berdasarkan prinsip dan rekomendasi tata kelola mencapai 94,93 persen.

Kombinasi indikator tersebut menunjukkan bahwa penguatan ESG di ANTM tidak berdiri sebagai elemen terpisah, melainkan terintegrasi dalam operasional bisnis.

Dalam perspektif pasar, kondisi ini memberi sinyal bahwa laba yang dihasilkan tidak semata bergantung pada fluktuasi harga komoditas. Struktur biaya yang berbasis domestik, operasional yang stabil, serta tata kelola yang kuat menjadi bantalan tambahan dalam menjaga kinerja.

Dengan cadangan mineral yang besar, efisiensi lingkungan yang melampaui target, serta minimnya gangguan operasional, ANTM mulai memperlihatkan karakter sebagai perusahaan tambang dengan fondasi yang lebih resilien.

ESG dalam konteks ini tidak lagi sekadar menjadi kewajiban pelaporan, tetapi berfungsi sebagai mekanisme yang menopang keberlanjutan bisnis dan menjaga kualitas pertumbuhan laba di tengah dinamika industri yang fluktuatif.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).