Logo
>

Era Baru Energi, IEA Catat Permintaan Listrik dan Surya Tumbuh Lebih Cepat

IEA mencatat konsumsi listrik dan energi surya tumbuh lebih cepat dibanding energi global, menandai pergeseran sistem energi dunia.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Era Baru Energi, IEA Catat Permintaan Listrik dan Surya Tumbuh Lebih Cepat
Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat, yang dikembangkan oleh PLN dan Masdar. Proyek ini menjadi PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas awal 145 megawatt (MW), sekaligus simbol dorongan Indonesia dalam transisi menuju energi bersih. Foto: Dok. Kementerian ESDM.

KABARBURSA.COM — Pertumbuhan energi global pada 2025 melambat, tetapi konsumsi listrik justru melesat dan tenaga surya mencetak tonggak baru. Laporan terbaru Badan Energi Internasional atau IEA menunjukkan pergeseran arah sistem energi dunia mulai terlihat semakin jelas.

Secara keseluruhan, permintaan energi global hanya naik sekitar 1,3 persen pada 2025. Angka ini lebih rendah dibanding rata-rata dekade sebelumnya. Perlambatan dipicu oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah, cuaca yang lebih ringan di sejumlah wilayah, serta efisiensi teknologi yang semakin meningkat.

Namun gambaran berbeda muncul di sektor listrik. Konsumsi listrik global justru tumbuh sekitar 3 persen, lebih dari dua kali lipat laju pertumbuhan energi secara keseluruhan.

Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya elektrifikasi di sektor bangunan dan industri, pertumbuhan kendaraan listrik, serta lonjakan kebutuhan energi dari pusat data.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menegaskan perubahan ini sebagai sinyal penting dalam transisi energi global.

“Konsumsi listrik tumbuh jauh lebih cepat dibanding permintaan energi secara keseluruhan, dan satu sumber energi yaitu surya tumbuh jauh lebih cepat dibanding yang lain,” kata Birol, dikutip dari Electrek, Selasa, 21 April 2026.

Tenaga surya bahkan menjadi kontributor terbesar dalam pertumbuhan pasokan energi global untuk pertama kalinya. Sumber energi ini menyumbang lebih dari 25 persen dari total kenaikan pasokan energi pada 2025. Di bawahnya, gas alam menyumbang sekitar 17 persen. Ini mencerminkan perannya yang masih penting dalam pembangkit listrik.

Secara keseluruhan, energi terbarukan dan nuklir memenuhi hampir 60 persen pertumbuhan permintaan energi global. Bahkan, produksi listrik dari sumber bersih tersebut mampu melampaui total kenaikan kebutuhan listrik, menunjukkan bahwa energi bersih mulai menutup kebutuhan tambahan secara penuh.

Di sisi lain, permintaan minyak masih tumbuh, namun melambat signifikan. Kenaikan hanya sekitar 0,7 persen, salah satunya dipengaruhi lonjakan penjualan kendaraan listrik.

Penjualan mobil listrik global meningkat lebih dari 20 persen pada 2025, menembus lebih dari 20 juta unit atau sekitar satu dari empat penjualan mobil baru di dunia. Tren ini mulai menekan permintaan bensin dan solar.

Sementara itu, penggunaan batu bara menunjukkan pola campuran. Di China, pemakaian batu bara menurun seiring pesatnya pertumbuhan energi terbarukan. Namun di Amerika Serikat, kenaikan harga gas mendorong utilitas kembali menggunakan batu bara. Secara keseluruhan, pertumbuhan permintaan batu bara tetap melambat.

Dari sisi emisi, kenaikan emisi karbon global juga melambat menjadi sekitar 0,4 persen pada 2025. China bahkan mencatat penurunan emisi berkat ekspansi energi bersih, sementara India mencatat emisi yang relatif stabil.

Namun di negara maju, musim dingin yang lebih ekstrem justru mendorong peningkatan penggunaan energi fosil, sehingga emisi naik sekitar 0,5 persen.

Di sektor listrik, capaian teknologi bersih semakin terlihat. Produksi listrik tenaga surya meningkat sekitar 600 terawatt jam, menjadi kenaikan terbesar yang pernah terjadi dalam satu tahun untuk teknologi pembangkit listrik.

Teknologi penyimpanan energi juga mencatat pertumbuhan pesat, dengan tambahan kapasitas sekitar 110 gigawatt pada 2025. Di saat yang sama, energi nuklir mulai kembali berkembang dengan lebih dari 12 gigawatt proyek reaktor baru yang mulai dibangun.

IEA mencatat, sejak 2019, teknologi rendah emisi seperti surya, angin, dan pompa panas telah mencapai skala yang mampu secara nyata mengurangi konsumsi energi fosil. Bahkan, pengurangan tersebut setara dengan total kebutuhan energi Amerika Latin dalam setahun.

Perubahan ini menunjukkan arah baru sistem energi global yang semakin bergeser ke elektrifikasi dan energi bersih, meskipun transisinya masih berlangsung tidak merata di berbagai wilayah dunia.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).