KABARBURSA.COM – Kepercayaan investor kembali menjadi sorotan di tengah tekanan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dalam dua hari perdagangan, 3–4 Juni 2026, terkoreksi hampir 5 persen dan sempat menyentuh level terendah di kisaran 5.842. Koreksi ini terjadi di tengah pelemahan rupiah, arus keluar dana asing, serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi domestik.
Di tengah tekanan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) membenarkan bahwa pemulihan kepercayaan investor tidak bisa hanya ditopang oleh bursa, melainkan membutuhkan sinergi lintas otoritas dan dukungan kebijakan ekonomi yang lebih luas.
Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan seluruh langkah yang dilakukan bursa saat ini diarahkan untuk memulihkan kepercayaan investor, baik domestik maupun global, melalui penguatan transparansi dan kualitas data pasar.
“Ya, tentu dari yang sudah kita lakukan itu semuanya tujuannya adalah untuk memulihkan kepercayaan dari investor, baik investor domestik maupun investor global. Dengan kita meningkatkan transparansi, kita meningkatkan granularisasi dari data, kita memberikan informasi terkait dengan high shareholding concentration, itu seluruhnya adalah upaya kita untuk meningkatkan kembali kepercayaan investor pada pasar kita,” kata Jeffrey di pressroom BEI, Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.
Jeffrey menekankan bahwa penguatan kualitas data pasar, termasuk informasi terkait struktur kepemilikan dan konsentrasi saham, menjadi bagian penting dalam memperbaiki persepsi risiko investor terhadap pasar modal Indonesia.
Ia juga mengakui bahwa upaya pemulihan kepercayaan tidak dapat dilakukan secara parsial oleh BEI saja, melainkan membutuhkan koordinasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), hingga pemerintah pusat.
“Ya tentu kita bersama-sama melakukan segala upaya yang bisa kita lakukan, tadi saya sampaikan, untuk bisa memulihkan kepercayaan tersebut,” ujarnya.
Terkait kebijakan teknis di tengah volatilitas pasar, Jeffrey memastikan tidak ada perubahan aturan yang diberlakukan oleh BEI, termasuk ketentuan trading halt otomatis jika IHSG mengalami penurunan 8 persen yang tetap mengacu pada regulasi yang berlaku.
“Nggak, semua kebijakan masih tetap sama,” kata dia. Sehingga selama dua hari terakhir tidak dilakukan trading halt lantaran IHSG belum mengalami penurunan hingga 8 persen.
Pernyataan BEI tersebut muncul di tengah tekanan signifikan pada pasar saham domestik. Pada perdagangan 3 Juni 2026, IHSG sempat dibuka di level 6.207, namun berbalik arah dan anjlok hingga 5.842 atau terkoreksi 5,41 persen sebelum ditutup melemah 3,92 persen di level 5.952,46.
Tekanan berlanjut pada 4 Juni 2026, ketika IHSG kembali melemah hampir 5 persen ke kisaran 5.652,76 pada sesi pagi perdagangan. Dalam dua hari, pasar mencatat tekanan jual besar yang juga diiringi aksi jual investor asing serta pelemahan rupiah yang sempat menembus area Rp18.000 per dolar AS.
Nilai transaksi harian tetap berada di level tinggi, yakni puluhan triliun rupiah, namun dominasi tekanan jual membuat indeks sulit bertahan di zona positif. Saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan komoditas, menjadi penekan utama pergerakan IHSG.
Dari sisi analisis, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai tekanan yang terjadi saat ini mencerminkan perubahan persepsi investor global terhadap Indonesia, bukan sekadar fluktuasi teknikal pasar.
“Menurut kami, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia,” tulis Liza dalam laporan Emergency Market Update.
Ia menyebut terdapat lima faktor utama yang menekan sentimen pasar, yakni kekhawatiran terhadap governance dan policy credibility, pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, menyusutnya kelas menengah, berlanjutnya arus keluar dana asing, serta meningkatnya risiko komunikasi kebijakan ekonomi.
Liza juga menyoroti bahwa meski Indonesia masih berada dalam status investment grade, pasar tetap melakukan re-rating terhadap risiko Indonesia dibandingkan sejumlah negara emerging market lain yang justru mencatat penguatan.
“Investor global tidak sedang meninggalkan emerging markets; mereka secara spesifik sedang mengurangi eksposur terhadap Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Analis Traderindo, Wahyu Tri Laksono, menilai pelemahan IHSG lebih banyak dipicu kombinasi faktor eksternal, terutama pelemahan rupiah dan ketidakpastian global, dibandingkan faktor domestik tunggal.
“Ketika Rupiah melemah se-ekstrem ini, capital outflow dari investor asing berarti meningkat masif untuk menghindari kerugian kurs atau currency risk,” kata Wahyu.
Ia menyebut tekanan juga datang dari aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti perbankan dan pertambangan yang memiliki bobot besar terhadap indeks.
“Pelaku pasar memilih bermain aman atau risk-off mode,” ujarnya.
Terkait isu tata kelola dan kasus yang mencuat di sejumlah lembaga pencopotan dan pemberhentian bekas Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hidayana beserta dua wakilnya, Wahyu menilai dampaknya lebih bersifat psikologis pasar dibandingkan faktor utama penekan indeks.
“Kasus tersebut lebih menjadi bumbu yang memperkeruh psikologis pasar domestik,” katanya.
Meski demikian, ia menilai arus keluar dana asing lebih banyak dipengaruhi faktor makro global seperti arah suku bunga Amerika Serikat dan penguatan dolar AS, ketimbang isu individual di dalam negeri.
Lantaran tekanan yang masih tinggi, pelaku pasar kini menunggu sinyal stabilisasi rupiah, kejelasan arah kebijakan suku bunga global, serta konsistensi komunikasi kebijakan ekonomi domestik. Tanpa perbaikan pada faktor-faktor tersebut, volatilitas diperkirakan masih akan berlanjut, sementara isu kepercayaan investor tetap menjadi faktor kunci yang menentukan arah IHSG ke depan.(*)