Logo
>

ESDM Umumkan Harga Acuan Bioetanol dan Biodiesel Periode Juni 2026

Harga biodiesel Juni 2026 ditetapkan Rp14.643 per liter dan bioetanol Rp8.062 per liter. Kurs rupiah menjadi faktor penentu biaya produksi.

Ditulis oleh Gusti Ridani
ESDM Umumkan Harga Acuan Bioetanol dan Biodiesel Periode Juni 2026
ESDM menetapkan harga biodiesel Rp14.643 per liter dan bioetanol Rp8.062 per liter untuk Juni 2026. Program B40 dan rencana B50 jadi sorotan. Foto: Dok. ESDM.

KABARBURSA.COM – Pemerintah kembali menetapkan harga acuan bahan bakar nabati (BBN) untuk Juni 2026. Hasilnya, harga biodiesel berbasis minyak sawit terus bertengger di level tinggi, sementara bioetanol berbahan baku tetes tebu masih berada jauh di bawahnya.

Melalui ketetapan terbaru Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dilihat di akun resmi Instagram @djebtke, Rabu, 3 Juni 2026, Harga Indeks Pasar (HIP) Bioetanol ditetapkan sebesar Rp8.062 per liter. Sementara itu, HIP Biodiesel mencapai Rp14.643 per liter.

Perbedaan harga yang cukup lebar tersebut bukan sekadar persoalan jenis bahan baku. Di balik angka itu tersimpan gambaran mengenai kondisi industri bioenergi nasional yang berkembang dengan kecepatan berbeda.

Pemerintah menyusun harga acuan tersebut untuk menjaga keberlangsungan rantai usaha bioenergi dari tingkat produsen hingga pengguna akhir di tengah gejolak harga komoditas dunia. Namun, ada satu faktor yang kini semakin sulit dihindari, yakni pelemahan nilai tukar rupiah yang masih bertahan di atas level Rp17.000 per dolar AS.

Pada perhitungan bioetanol, misalnya, pemerintah menggunakan rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 April hingga 14 Mei 2026 sebesar Rp17.286 per dolar AS.

Harga acuan bioetanol sendiri dihitung berdasarkan rata-rata harga tetes tebu yang diperdagangkan melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) selama periode 15 Maret hingga 14 Mei 2026. Harga rata-ratanya tercatat Rp907 per kilogram.

Nilai tersebut kemudian dikonversi menggunakan faktor volume sebesar 4,125 kilogram per liter dan ditambah biaya pengolahan bahan baku sebesar USD0,25 per liter atau sekitar Rp4.225 per liter.

Dari rangkaian komponen itulah muncul harga acuan bioetanol Juni 2026 sebesar Rp8.062 per liter. Sementara itu, biodiesel masih menunjukkan struktur biaya yang jauh lebih mahal.

Pemerintah menetapkan HIP Biodiesel pada level Rp14.643 per liter. Harga tersebut belum memasukkan biaya pengangkutan yang nantinya ditambahkan sesuai ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 290.K/EK.05/MEM.E/2025.

Perhitungan biodiesel bersumber dari harga rata-rata crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah yang diperdagangkan di KPBN selama periode 25 April hingga 24 Mei 2026. Harga rata-ratanya mencapai Rp15.348 per kilogram.

Angka tersebut kemudian dikombinasikan dengan biaya konversi bahan baku sebesar USD85 per metrik ton atau sekitar Rp1,44 juta per ton, menggunakan asumsi kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp17.444 per dolar AS.

Ketergantungan terhadap kurs membuat industri biodiesel menjadi semakin sensitif terhadap pelemahan rupiah. Ketika nilai tukar bergerak naik, biaya produksi ikut terdorong karena sebagian komponen perhitungan masih menggunakan denominasi dolar AS.

Di luar persoalan harga, kesenjangan antara bioetanol dan biodiesel juga memperlihatkan perbedaan tingkat kematangan industri hulu masing-masing komoditas.

Industri sawit nasional selama ini telah memiliki rantai pasok yang relatif lengkap, mulai dari perkebunan, pabrik pengolahan, hingga infrastruktur distribusi. Kondisi tersebut membuat pasokan bahan baku biodiesel lebih terjamin meskipun harga CPO terus dipengaruhi dinamika pasar global.

Sebaliknya, sektor tebu masih menghadapi tantangan klasik yang belum sepenuhnya terselesaikan. Produktivitas lahan, pasokan bahan baku, hingga kapasitas industri pengolahan masih menjadi pekerjaan rumah yang terus berulang dari tahun ke tahun.

Akibatnya, meskipun harga bioetanol terlihat lebih murah dibandingkan biodiesel, kapasitas produksinya belum mampu berkembang secepat kebutuhan energi terbarukan nasional.

Situasi ini menunjukkan bahwa transisi energi di Indonesia belum hanya soal mengganti bahan bakar fosil dengan energi hijau. Tantangan yang lebih besar justru berada di sektor hulu, yakni bagaimana memastikan industri bahan bakunya mampu tumbuh sehat, efisien, dan tidak terus bergantung pada gejolak kurs maupun harga komoditas global.

Biodiesel tak Lagi Sekadar Soal Harga

Di balik penetapan HIP Biodiesel sebesar Rp14.643 per liter, pemerintah sebenarnya sedang menjaga sebuah mesin permintaan yang jauh lebih besar dari sekadar kebutuhan bahan bakar harian. Industri biodiesel kini telah menjadi instrumen strategis yang menopang ketahanan energi sekaligus menyerap produksi sawit domestik dalam skala masif.

Sepanjang 2025, realisasi pemanfaatan biodiesel nasional mencapai sekitar 14,2 juta hingga 14,94 juta kiloliter. Angka tersebut bahkan melampaui target yang ditetapkan pemerintah dan menunjukkan bahwa program mandatori campuran biodiesel telah menjadi pasar yang nyaris pasti bagi industri kelapa sawit nasional.

Kondisi ini membuat biodiesel memiliki karakter yang berbeda dibandingkan bioetanol. Permintaannya tidak sepenuhnya ditentukan mekanisme pasar, melainkan ditopang langsung oleh kebijakan negara melalui program pencampuran biodiesel ke dalam solar.

Karena itu, meskipun harga keekonomian biodiesel kini mencapai Rp14.643 per liter atau lebih dari dua kali lipat harga Biosolar subsidi yang masih dipatok Rp6.800 per liter, industri biodiesel tetap memiliki ruang tumbuh yang relatif terjaga.

Bahkan, tantangan berikutnya justru datang dari ambisi pemerintah untuk meningkatkan kadar campuran biodiesel dari B40 menuju B50. Jika skenario tersebut direalisasikan penuh, kebutuhan biodiesel nasional diperkirakan melonjak dari sekitar 15,6 juta kiloliter menjadi lebih dari 20 juta kiloliter per tahun.

Lonjakan kebutuhan tersebut otomatis akan memperbesar serapan Crude Palm Oil (CPO) di dalam negeri. Artinya, semakin tinggi kadar campuran biodiesel, semakin besar pula volume sawit yang tidak lagi masuk ke pasar ekspor, melainkan diserap oleh pasar energi domestik.

Di sisi lain, posisi biodiesel saat ini juga menarik jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Secara harga, biodiesel memang jauh lebih mahal dibandingkan Biosolar subsidi. Namun jika disejajarkan dengan bahan bakar nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex, biodiesel justru masih menawarkan harga yang lebih kompetitif.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa penetapan HIP Biodiesel bukan sekadar urusan harga bahan bakar nabati. Di balik angka Rp14.643 per liter, terdapat kepentingan yang jauh lebih besar, mulai dari menjaga stabilitas industri sawit, mengurangi ketergantungan impor energi, hingga menopang agenda transisi energi nasional yang semakin agresif dalam beberapa tahun terakhir.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang