Logo
>

IHSG Ambles Hampir Lima Persen ke 5.889, Asing Jadi Biang Kerok?

Derasnya net foreign sell di BBCA, TPIA, dan BBRI ikut menekan IHSG hingga ambles hampir lima persen.

Ditulis oleh Syahrianto
IHSG Ambles Hampir Lima Persen ke 5.889, Asing Jadi Biang Kerok?
Pergerakan IHSG pada sesi pertama perdagangan Rabu, 3 Juni 2026 di tengah derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham domestik. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam 305,94 poin atau 4,94 persen ke level 5.889,48 pada perdagangan sesi pertama Rabu, 3 Juni 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham domestik.

Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan penjualan bersih (net foreign sell) sebesar Rp525,37 miliar di seluruh pasar hingga tengah hari. Nilai penjualan asing tercatat mencapai Rp5,74 triliun, lebih besar dibanding pembelian asing sebesar Rp5,21 triliun.

Tekanan jual asing terlihat dominan pada saham-saham berkapitalisasi besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham dengan net foreign sell terbesar mencapai Rp265,32 miliar.

Selain BBCA, tekanan jual asing juga terjadi pada PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp257,53 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp198,73 miliar.

Saham lain yang ikut mengalami tekanan jual asing cukup besar antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp104,14 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp90,94 miliar, hingga PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp57,13 miliar.

Di sisi lain, sejumlah saham justru masih diborong investor asing. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memimpin daftar top net foreign buy dengan nilai Rp165,59 miliar.

Kemudian disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp87,04 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp86,96 miliar, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp43,21 miliar.

Tekanan di pasar saham juga terlihat dari pergerakan indeks yang terus melemah sejak awal perdagangan. IHSG dibuka di level 6.207,10 sebelum sempat menyentuh posisi tertinggi harian 6.213,80.

Namun tekanan jual membuat indeks turun hingga menyentuh level terendah 5.876,32 sebelum akhirnya berada di area 5.889 pada akhir sesi pertama.

Nilai transaksi pasar hingga siang mencapai Rp26,12 triliun dengan volume perdagangan 26,12 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 1,46 juta kali.

Aktivitas broker menunjukkan transaksi pasar masih didominasi sekuritas besar. UBS Sekuritas Indonesia (AK) mencatat nilai transaksi tertinggi sebesar Rp3,92 triliun.

Di posisi berikutnya terdapat Stockbit Sekuritas Digital (XL) Rp3,37 triliun dan Mandiri Sekuritas (CC) Rp3,13 triliun. Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) membukukan transaksi Rp2,12 triliun, sementara CGS International Sekuritas Indonesia (YU) mencapai Rp1,8 triliun.

Tekanan terhadap IHSG kali ini terjadi ketika investor asing masih aktif melakukan rotasi portofolio di saham-saham besar. Arus keluar asing juga kembali membebani sejumlah saham perbankan dan kelompok saham konglomerasi yang sebelumnya aktif menopang indeks.

Meski demikian, aktivitas akumulasi masih terlihat pada sejumlah saham komoditas dan energi. Hal ini tercermin dari masuknya dana asing ke saham BUMI, AMMN, hingga BREN pada perdagangan sesi pertama.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.