KABARBURSA.COM — Aset kripto perlahan berubah dari instrumen investasi yang dulu identik dengan komunitas terbatas menjadi bagian dari aktivitas finansial masyarakat yang lebih luas. Salah satu sinyalnya terlihat dari pertumbuhan pengguna platform perdagangan kripto di Indonesia.
Tokocrypto mengumumkan jumlah pengguna mereka telah mencapai 5 juta akun sejak berdiri pada 2018. Capaian ini muncul di tengah meningkatnya jumlah investor aset kripto nasional yang terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi industri kripto, angka tersebut bukan sekadar soal pengguna baru. Ia memberi gambaran bagaimana aset digital mulai masuk ke kelompok usia produktif, pekerja kantoran, hingga pelajar.
CEO Tokocrypto Calvin Kizana mengatakan pertumbuhan pengguna mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap layanan aset kripto yang dianggap lebih mudah diakses.
“Kami menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada seluruh pengguna yang telah percaya dan tumbuh bersama. Capaian 5 juta pengguna ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan dari kepercayaan masyarakat terhadap Tokocrypto,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat, 15 Mei 2026.
Namun jika dilihat lebih luas, pertumbuhan ini juga bergerak seiring ekspansi industri kripto nasional. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia mencapai 21,37 juta per Maret 2026, naik dari 21,07 juta pada bulan sebelumnya.
Artinya, hampir sepersepuluh penduduk Indonesia kini tercatat memiliki akun aset kripto. Kenaikan ini memperlihatkan bahwa kripto mulai bergeser dari instrumen spekulatif kelompok tertentu menjadi bagian dari ekosistem keuangan digital yang semakin dikenal publik.
Di tengah tren tersebut, Tokocrypto mengklaim pertumbuhan pengguna berada di atas rata-rata industri, dengan kenaikan lebih dari 5 persen per bulan. “Minat masyarakat terhadap aset kripto terus meningkat karena kripto semakin dikenal dan lebih mudah diakses,” kata Calvin.
Pertumbuhan ini juga menunjukkan perubahan profil investor. Berdasarkan data internal perusahaan, lebih dari 60 persen pengguna berasal dari kelompok usia 18–35 tahun. Mayoritas berstatus pekerja, disusul mahasiswa dan pelaku usaha.
Dominasi usia produktif memperlihatkan bahwa aset kripto mulai diposisikan bukan hanya sebagai instrumen perdagangan jangka pendek, tetapi juga alternatif diversifikasi keuangan bagi generasi muda yang akrab dengan layanan digital.
Dari sisi wilayah, Jawa Barat menjadi daerah dengan jumlah pengguna terbesar, diikuti Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pola ini mengindikasikan adopsi aset digital tidak lagi terkonsentrasi di pusat ekonomi seperti Jakarta. “Data ini menunjukkan bahwa penetrasi aset kripto semakin luas dan mulai menjangkau berbagai lapisan masyarakat,” ujarnya.
Meski demikian, pertumbuhan pengguna tidak otomatis mencerminkan peningkatan literasi. Semakin luas adopsi aset digital, semakin besar pula kebutuhan edukasi mengenai risiko, volatilitas harga, hingga pengelolaan investasi.
Hal ini menjadi penting karena karakter aset kripto berbeda dengan instrumen konvensional. Pergerakan harga yang tinggi dapat memberi peluang keuntungan besar, tetapi juga meningkatkan risiko kerugian.
Tokocrypto mengaku akan tetap menempatkan edukasi sebagai salah satu fokus utama, di samping pengembangan produk baru seperti layanan derivatif atau futures serta perluasan metode transaksi melalui perbankan.
“Edukasi menjadi fondasi penting bagi industri ini. Kami ingin setiap pengguna, terutama bagi mereka yang baru, memiliki bekal pengetahuan yang cukup agar tidak salah langkah,” kata Calvin.
Di titik ini, pertumbuhan 5 juta pengguna bukan hanya soal skala bisnis perusahaan. Ia sekaligus menjadi indikator bahwa industri kripto Indonesia sedang bergerak menuju fase yang lebih matang, ketika pertumbuhan pengguna mulai diikuti kebutuhan terhadap literasi, regulasi, dan kepercayaan jangka panjang.(*)