KABARBURSA.COM — Di tengah euforia pemerintah atas rilis angka pertumbuhan ekonomi Kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan (YoY), sebuah laporan "dingin" datang dari kampus Depok. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia atau FEB UI baru saja merilis Special Report yang mempertanyakan keabsahan metodologis di balik angka manis tersebut.
Guru Besar LPEM FEB UI, Prof Mohamad Ikhsan, bersama peneliti lain, Teuku Muhammad Riefky Hasan, yang menulis laporan tersebut secara berani menyebut bahwa angka pertumbuhan kuartal I 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik tidak mencerminkan kondisi kesehatan ekonomi yang sebenarnya. Ada indikasi kuat bahwa angka pertumbuhan riil Indonesia berada jauh di bawah klaim resmi Badan Pusat Statistik (BPS).
Kecurigaan para akademisi ini berawal dari kejanggalan pada data sektoral. LPEM menemukan adanya ketidakselarasan antara output industri dengan ketersediaan energi pendukungnya.
“LPEM menilai angka 5,61 persen diragukan sebagai ukuran kesehatan ekonomi. Secara mengejutkan, data BPS sendiri menunjukkan ketidakkonsistenan internal: sektor Listrik, Gas, dan Air tumbuh negatif (-0,99 persen), sementara Manufaktur justru dilaporkan tumbuh positif 5,04 persen,” tulis mereka dalam artikel berjudul Indonesia GDP Growth, First Quarter 2026: Behind the 5.61 Percent Headline yang dilihat Rabu, 13 Mei 2026.
Kedua peneliti LPEM tersebut menekankan bahwa industri manufaktur sangat bergantung pada pasokan energi (listrik dan gas) untuk menjalankan roda produksinya. Jika sektor penyedia energi justru menyusut (kontraksi), maka secara fisik hampir mustahil output manufaktur bisa melonjak setinggi yang dilaporkan.
Ketidaksambungan antara data penggunaan energi dan hasil produksi ini mengindikasikan adanya lubang besar dalam metodologi pencatatan PDB periode ini. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa angka pertumbuhan 5,61 persen lebih banyak didorong oleh faktor-faktor administratif atau statistik ketimbang produktivitas riil di lapangan.
Koreksi Angka Riil: Hanya 4,6 Persen
Berdasarkan temuan inkonsistensi tersebut, LPEM FEB UI melakukan penghitungan ulang untuk mendapatkan gambaran yang lebih jujur mengenai ekonomi Indonesia.
“Berdasarkan koreksi atas ketidakkonsistenan tersebut, LPEM memberikan estimasi pertumbuhan PDB Q1-2026 yang lebih realistis, yakni hanya di kisaran 4,6 persen hingga 4,9 persen,” tulis mereka.
Selisih hampir 1 persen ini sangat signifikan dan mengubah narasi "pertumbuhan kuat" menjadi "pertumbuhan yang melambat". Dalam ekonomi makro, deviasi sebesar itu antara data resmi dan estimasi independen mengindikasikan adanya "halusinasi statistik" yang berbahaya.
Jika angka riil memang berada di kisaran 4,6 persen—bukan 5,6 persen—maka narasi "Resiliensi Ekonomi Indonesia" yang selama ini didengungkan pemerintah menjadi goyah. Penurunan ini mengonfirmasi bahwa mesin pertumbuhan kita sebenarnya sedang kehilangan tenaga akibat daya beli yang tergerus dan biaya produksi yang membengkak.
Di bagian akhir laporannya, LPEM FEB UI memberikan peringatan keras. Mereka menekankan bahwa statistik bukan sekadar angka, melainkan "barang publik" yang menjadi landasan pengambilan keputusan bagi investor dan pelaku usaha.
Sebelumnya, BPS melaporkan bahwa ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 berhasil mencatatkan pertumbuhan impresif di angka 5,61 persen secara tahunan. Capaian ini melampaui pertumbuhan kuartal IV-2025 yang sebesar 5,39 persen, serta melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar 4,87 persen yoy.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026," ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Realisasi tersebut tercatat melampaui ekspektasi pasar. Berdasarkan konsensus yang dihimpun dari 12 lembaga, ekonomi Indonesia semula diproyeksikan hanya tumbuh di level 5,40 persen yoy. Secara musiman, pertumbuhan ini didorong oleh momentum Lebaran yang memicu peningkatan daya beli masyarakat melalui penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR).
Geliat ekonomi ini tercermin dari konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, khususnya pada sektor perhotelan dan restoran. Selain itu, aktivitas belanja di e-retail dan marketplacendilaporkan tumbuh positif, dibarengi dengan kenaikan nilai impor barang konsumsi sebesar 6,12 persen yoy.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.