Logo
>

Keyakinan Konsumen Naik, tapi Risiko Tekanan Rupiah Mengintai

Survei Bank Indonesia menunjukkan optimisme konsumen masih terjaga pada April 2026, namun pelemahan rupiah dinilai berpotensi menekan daya beli

Ditulis oleh Hutama Prayoga
Keyakinan Konsumen Naik, tapi Risiko Tekanan Rupiah Mengintai
Ilustrasi konsumen (foto: Bank Indonesia)

KABARBURSA.COM - Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga pada April 2026. Namun, tekanan rupiah belakangan ini menjadi ancaman baru.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso  mengatakan terjaganya keyakinan konsumen tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 yang berada pada level optimis (indeks >100) sebesar 123,0, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 122,9.
 

Adapun Ramdan menyebut, terjaganya keyakinan konsumen pada April 2026 terutama ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat sebesar 116,5, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 115,4.

Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) terjaga di level optimis sebesar 129,6, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 130,4.

Mirae Asset Sekuritas menyampaikan,  naiknya IKK pada April 2026 masih terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi belum memasuki fase pertumbuhan yang lebih kuat.

Mirae Asset kemudian menyoroti peningkatan IKE yang menjadi penopang terjaganya keyakinan konsumen pada April 2026. Mirae membeberkan, hal ini mengindikasikan bahwa optimisme lebih ditopang oleh stabilnya kondisi saat ini.

"Dibandingkan keyakinan yang lebih kuat terhadap prospek enam bulan ke depan," tulis Mirae Asset dalam risetnya dikutip, Jumat, 15 Mei 2026.
 

Mirae Asset menilai, inflasi yang stabil masih menjadi penopang kepercayaan konsumen, meskipun depresiasi rupiah yang berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan harga ke depan.

"Kenaikan rasio tabungan terhadap pendapatan menjadi 18,2 persen, disertai penurunan rasio cicilan utang menjadi 9,7 persen, menunjukkan bahwa konsumen mulai lebih berhati-hati di tengah meningkatnya biaya hidup," tulis Mirae Asset.

Jika harga naik lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan, Mirae Asset memandang optimisme konsumen dan daya beli dapat melemah.

"Dalam kondisi ini, BI diperkirakan akan menjaga stabilitas Rupiah dan suku bunga guna mendukung daya beli dan konsumsi," ungkap Mirae Asset.

Ke depan, Mirae Asset menyebut depresiasi rupiah menjadi risiko penurunan bagi konsumsi karena dapat mendorong kenaikan harga barang impor dan produk dengan kandungan bahan baku impor yang tinggi.

Dampaknya dapat meluas ke berbagai kategori pengeluaran rumah tangga seperti makanan, produk terkait energi, elektronik, dan barang tahan lama.

"Jika kenaikan biaya impor diteruskan kepada konsumen, tekanan inflasi dapat kembali meningkat dan secara bertahap menggerus daya beli riil, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah dan menengah," tulis Mirae Asset.

Adapun berdasarkan Google Finance per Jumat, 15 Mei 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah menyentuh level Rp17.600.

Di sisi lain, Mirae menyampaikan peningkatan kondisi ekonomi saat ini terutama didukung oleh membaiknya persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja serta meningkatnya niat membeli barang tahan lama.

Namun, tambah mereka, indeks pendapatan saat ini sedikit menurun dari 129,2 menjadi 128,1, yang menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen belum sepenuhnya didukung oleh pertumbuhan pendapatan yang merata.

"Optimisme juga masih terkonsentrasi pada kelompok pendapatan menengah atas, khususnya konsumen dengan pengeluaran di atas Rp4,1juta/bulan. Akibatnya, konsumsi tetap resilien namun semakin bergantung pada konsumen dengan daya beli yang lebih kuat," tulis Mirae Asset. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Hutama Prayoga

Hutama Prayoga telah meniti karier di dunia jurnalistik sejak 2019. Pada 2024, pria yang akrab disapa Yoga ini mulai fokus di desk ekonomi dan kini bertanggung jawab dalam peliputan berita seputar pasar modal.

Sebagai jurnalis, Yoga berkomitmen untuk menyajikan berita akurat, berimbang, dan berbasis data yang dihimpun dengan cermat. Prinsip jurnalistik yang dipegang memastikan bahwa setiap informasi yang disajikan tidak hanya faktual tetapi juga relevan bagi pembaca.